Biografi Sapardi Djoko Damono – Dalam dunia sastra Indonesia, ada nama yang tak pernah lekang oleh waktu, Sapardi Djoko Damono. Beliau bukan sekadar penyair, melainkan sosok yang mengubah cara kita memahami cinta, kesunyian, hujan, dan kehidupan melalui kata-kata yang sederhana namun mengguncang batin.
Di balik puisi-puisinya yang begitu akrab di telinga banyak orang, tersimpan perjalanan panjang, dedikasi, dan pergulatan kreatif yang membentuknya menjadi maestro puisi liris modern.
Siapa sebenarnya Sapardi di balik kalimat abadi “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana” dan “Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni”?
Bagaimana proses kreatif dan kontribusinya membuatnya menjadi legenda sastra yang tak tergantikan? Mari menyelami lebih dalam jejak hidup dan karya-karyanya yang masih terus menginspirasi lintas generasi.
Daftar Isi Artikel
Biodata Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono, lahir di Solo pada 20 Maret 1940, adalah seorang penyair besar Indonesia yang dikenal sebagai pelopor puisi liris modern.
Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana dan sejak kecil telah akrab dengan dunia bahasa serta seni. Ketertarikannya pada sastra berkembang melalui kebiasaannya membaca dan menulis, yang kemudian membentuk karakter puitis dalam dirinya.
Sapardi dikenal memiliki sensitivitas tinggi dalam mengamati kehidupan, alam, dan perasaan manusia. Puisinya sering digambarkan sebagai karya yang halus, sunyi, dan penuh keheningan yang berbicara.
Melalui pilihan kata yang sederhana namun tajam, beliau mampu menyampaikan makna yang luas dan menyentuh sisi terdalam pembaca.
Namanya mulai dikenal luas sejak publikasinya di media sastra nasional pada dekade 1960–1970-an. Sejak itu, karya-karyanya terus berkembang dan menjadi rujukan penting dalam khazanah sastra Indonesia.
Puisi legendaris seperti Aku Ingin, Hujan Bulan Juni, Sihir Hujan, dan Perahu Kertas menjadikannya sosok yang dicintai lintas generasi.
Baca Juga: Biografi Marah Rusli
Riwayat Pendidikan Sapardi Djoko Damono
Sapardi mengawali pendidikan formalnya di SR (Sekolah Rakyat) Kraton “Kasatriyan”, Baluwarti, Solo. Setelah lulus, beliau melanjutkan ke SMP Negeri II Solo dan kemudian menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah atas sebelum memasuki bangku kuliah.
Minatnya pada bahasa dan sastra membawa Sapardi ke Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Jurusan Sastra Inggris.
Kehausannya terhadap ilmu mendorongnya memperluas wawasan di tingkat internasional. Pada tahun 1970–1971, Sapardi mendapatkan kesempatan memperdalam studi tentang humaniora di University of Hawaii, Amerika Serikat.
Pengalaman tersebut memperkaya perspektif akademis dan estetikanya, serta berpengaruh besar terhadap perjalanan kepenyairannya.
Puncak akademiknya diraih ketika beliau menempuh pendidikan doktoral dan pada 1989 memperoleh gelar doktor dalam ilmu sastra melalui disertasi berjudul Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur. Kemudian pada 1995, Sapardi dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Baca Juga: Biografi Andrea Hirata: Karir, Karya, hingga Quotes yang Menginspirasi
Riwayat Karir Sapardi Djoko Damono
Riwayat karier Sapardi Djoko Damono mencerminkan kiprah panjangnya sebagai akademisi, sastrawan, dan tokoh penting perkembangan sastra Indonesia modern. Karier profesionalnya dimulai pada tahun 1964–1968 sebagai dosen tetap dan Ketua Jurusan Bahasa Inggris di IKIP Malang Cabang Madiun.
Setelah itu, ia diangkat sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra-Budaya Universitas Diponegoro pada 1968–1973, sebelum kemudian bergabung dengan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1974, yang menjadi pusat kiprahnya hingga masa pensiun.
Di UI, Sapardi memegang berbagai jabatan strategis, antara lain Pembantu Dekan III (1979–1982), Pembantu Dekan I (1982–1996), hingga akhirnya menjabat Dekan Fakultas Sastra (1996–1999).
Beliau pensiun sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UI pada 2005, namun tetap aktif sebagai konsultan akademik, promotor, dan penguji di berbagai perguruan tinggi.
Selain dunia kampus, Sapardi berperan dalam organisasi dan lembaga kesenian. Beliau pernah menjabat Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia (1973–1980), Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin (sejak 1975), dan menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (1977–1979).
Sapardi juga memprakarsai berdirinya Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) pada 1988 dan menjadi ketuanya selama tiga periode.
Baca Juga: Biografi Pidi Baiq: Biodata, Karir dan Karya Buku
Penghargaan dan Pencapaian Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono dikenal luas sebagai salah satu penyair dan akademisi paling berpengaruh dalam sejarah sastra Indonesia, dan pencapaiannya tercermin dari berbagai penghargaan bergengsi yang diterimanya sepanjang karier.
Penghargaan pertama yang beliau terima adalah Hadiah Majalah Basis (1963) atas puisinya Balada Matinya Seorang Pemberontak, yang menandai pengakuan awal dunia sastra terhadap kualitas karya-karyanya.
Penghargaan internasional pertama datang dari Pemerintah Australia berupa Cultural Award (1978), memperkuat reputasinya sebagai penyair modern yang berpengaruh di tingkat global.
Karya-karyanya terus mendapat apresiasi, seperti Anugerah Puisi-Puisi Putera II (1983) dari Malaysia untuk bukunya Sihir Hujan, serta Hadiah Dewan Kesenian Jakarta (1984) untuk Perahu Kertas.
Pada tahun 1986, Sapardi menerima SEA Write Award (Hadiah Sastra ASEAN) dari Thailand, salah satu penghargaan sastra paling prestisius di kawasan Asia Tenggara.
Beliau kembali memperoleh pengakuan nasional melalui Anugerah Seni Depdikbud (1990) dan Kalyana Kretya dari Menristek RI (1996).
Menjelang akhir kariernya, Sapardi meraih The Achmad Bakrie Award for Literature (2003) dan Khatulistiwa Literary Award (2004), yang memperkuat posisinya sebagai maestro sastra Indonesia.
Pada tahun 2012, beliau mendapat penghargaan dari Akademi Jakarta, sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusinya yang monumental bagi dunia sastra dan pendidikan Indonesia.
Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono
Dalam khazanah sastra Indonesia modern, nama Sapardi Djoko Damono selalu menjadi ikon yang tak tergantikan. Dikenal sebagai maestro puisi lirikal, karya-karya Sapardi mampu menyentuh hati pembacanya melalui bahasa sederhana namun mengena.
Puisi-puisinya tidak hanya berbicara tentang cinta, waktu, dan kehidupan, tetapi juga menghadirkan renungan. Tak heran jika hingga hari ini karya beliau masih dipelajari, dibacakan, dan dijadikan inspirasi di berbagai ruang, dari kelas sastra hingga panggung pertunjukan. Berikut adalah kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono.
1. Hujan Bulan Juni
Salah satu puisinya yang paling terkenal dan abadi. Puisi ini menggambarkan cinta yang tulus, sabar, dan diam.
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni…
2. Aku Ingin
Puisi pendek yang menjadi simbol keheningan cinta, dan sering dibacakan dalam momen spesial seperti pernikahan.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
3. Pada Suatu Hari Nanti
Puisi yang mengajak pembaca merenungkan kefanaan hidup dan warisan kenangan.
Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi…
4. Sihir Hujan
Puisi tentang keajaiban yang hadir lewat hujan, metafora tentang waktu dan perasaan.
5. Yang Fana Adalah Waktu
Menjelajahi konsep waktu dan ingatan yang tak pernah diam.
Adapun beberapa antologi penting yang memuat puisi-puisinya antara lain Duka-Mu Abadi (1969), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-Ayat Api (2000), dan Kolam (2009).
Baca Juga: Biografi Maudy Ayunda: Pendidikan, Prestasi dan Buku
Buku Sapardi Djoko Damono
Salah satu buku puisinya yang paling populer adalah “Hujan Bulan Juni”, yang kemudian diadaptasi menjadi film, novel, dan karya seni lainnya. Buku ini memuat puisi-puisi lirik bertema cinta, kesabaran, dan keheningan, termasuk puisi ikonik “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana” yang menjadi kutipan abadi di berbagai kesempatan.
Selain itu, Sapardi menulis buku “Akuarium”, “Perahu Kertas”, “Mata Pisau”, dan “Suti”, masing-masing menghadirkan sudut pandang berbeda tentang kehidupan manusia, pergulatan batin, dan hubungan antar individu.
Sapardi juga menghasilkan novel berprestasi seperti “Trilogi Hujan Bulan Juni” yang terdiri dari Hujan Bulan Juni, Pingkan Melipat Jarak, dan Yang Fana adalah Waktu.
Melalui karya prosanya, Sapardi menunjukkan bahwa dirinya bukan hanya penyair, tetapi juga pencerita yang cermat merangkai konflik emosional dan realitas sosial.
Buku-buku Sapardi tidak hanya dinikmati sebagai karya sastra, tetapi menjadi rujukan penting dalam dunia akademik dan pendidikan sastra di Indonesia. Warisan intelektual dan estetikanya menjadikan Sapardi sebagai figur abadi dalam sejarah sastra tanah air.
Semoga artikel dari Bukunesia ini bermanfaat untuk menambah pemahaman pembaca tentang biografi Sapardi Djoko Damono serta perjalanan dan kontribusinya dalam sastra Indonesia.
Referensi
Sapardi Djoko Damono. (1994). Hujan Bulan Juni. Grasindo. Wikipedia+1
Sapardi Djoko Damono. Poetry International. Diakses dari Poetry International Web. Puisi Internasional
Profil & Puisi ‘Hujan Bulan Juni’ oleh Sapardi Djoko Damono. Detik.com. 1 Juni 2024. detik.com+1
Sapardi Djoko Damono, Sang Pencipta ‘Hujan Bulan Juni’. CNN Indonesia. 19 Juli 2020




