Kamu ingin menjadi seorang penulis buku? Menulis buku sering terdengar seperti proyek besar yang rumit, terutama bagi pemula.
Banyak orang sudah memiliki ide dan keinginan menulis, tetapi berhenti di tengah jalan karena tidak tahu harus memulai dari mana.
Padahal, menulis buku bukan soal bakat semata, melainkan soal proses yang bisa dipelajari dan dikelola. Dengan pendekatan yang tepat, siapa pun bisa mulai menulis buku secara bertahap dan realistis.
Artikel kali ini kita akan mengupas 3 alasan pemula sulit memulai menulis buku dan 7 cara menulis buku untuk pemula.
Daftar Isi Artikel
Alasan Pemula Sulit Memulai Menulis Buku?
Banyak orang memiliki ide, pengalaman, bahkan pengetahuan yang layak dibukukan. Namun, hanya sedikit yang benar-benar berhasil memulai proses menulis buku.
Bagi penulis pemula, hambatan terbesar seringkali bukan pada kemampuan menulis, melainkan pada faktor psikologis dan struktural yang membuat langkah awal terasa berat.
Berdasarkan berbagai kajian tentang proses menulis dan pengalaman praktis penulis pemula, ada tiga alasan umum mengapa memulai menulis buku terasa sulit.
1. Takut Tulisan Tidak Bagus dan Tidak Layak Dibaca
Alasan paling umum pemula sulit memulai menulis buku adalah rasa takut tulisan dianggap tidak bagus. Banyak pemula membandingkan tulisannya dengan buku-buku penulis berpengalaman, sehingga muncul keraguan sebelum satu halaman pun ditulis.
Padahal, penelitian tentang writing anxiety menunjukkan bahwa ketakutan berlebihan terhadap penilaian pembaca justru menghambat proses kreatif dan produktivitas menulis.
Buku yang baik tidak lahir dari kesempurnaan sejak awal, melainkan dari proses menulis, merevisi, dan belajar secara bertahap.
2. Tidak Tahu Harus Mulai dari Mana
Ide sudah ada, tetapi pemula sering bingung bagaimana mengubahnya menjadi naskah buku. Haruskah mulai dari pendahuluan, bab pertama, atau justru menulis bebas dulu? Kebingungan ini wajar.
Teori proses menulis menjelaskan bahwa menulis bukan aktivitas linear, melainkan proses berulang yang melibatkan perencanaan, pengembangan, dan revisi. Tanpa panduan atau kerangka yang jelas, pemula mudah merasa buntu dan akhirnya menunda memulai.
3. Merasa Menulis Buku Membutuhkan Waktu dan Kemampuan Khusus
Banyak pemula menganggap menulis buku harus menunggu waktu luang yang panjang, suasana ideal, atau kemampuan menulis tingkat tinggi. Persepsi ini membuat menulis terasa tidak realistis di tengah kesibukan sehari-hari.
Padahal, riset tentang kebiasaan menulis menunjukkan bahwa konsistensi menulis dalam durasi singkat, seperti 20–30 menit per hari, jauh lebih efektif dibanding menunggu waktu sempurna. Buku bukan hasil kerja sekali duduk, tetapi akumulasi dari proses kecil yang dilakukan secara rutin.
Baca Juga: Materi Kepenulisan Untuk Pemula: 7 Materi Dasar
Cara Menulis Buku untuk Pemula Langkah Demi Langkah
Setelah mengintip 3 alasan pemula sulit memulai menulis buku, ada 7 cara menulis buku untuk pemula agar proses menulis lebih terarah dan berkelanjutan. Kamu bisa coba praktek secara mandiri di rumah.
1. Tentukan Tujuan dan Pembaca Sejak Awal
Langkah pertama menulis buku untuk pemula adalah memahami tujuan menulis dan siapa pembacanya. Apakah buku ditujukan untuk edukasi, refleksi, motivasi, atau berbagi pengalaman? Menentukan pembaca membantu penulis memilih gaya bahasa, kedalaman materi, dan struktur tulisan.
Penelitian tentang komunikasi tertulis menunjukkan bahwa tulisan yang jelas sasarannya lebih mudah dipahami dan diterima pembaca.
2. Mulai dari Ide yang Dekat dengan Pengalaman
Pemula tidak harus menunggu ide besar untuk menulis buku. Pengalaman sehari-hari seperti catatan kajian, isi ceramah, atau pengalaman hidup justru sering menjadi bahan buku yang relevan.
Ide yang relevan dengan pengalaman penulis membuat proses menulis lebih mengalir dan autentik. Pendekatan ini juga membantu penulis membangun kepercayaan diri sejak awal.
3. Buat Kerangka Buku Secara Sederhana
Kerangka atau outline berfungsi sebagai peta menulis. Pemula cukup menyusun daftar bab dan poin utama yang ingin dibahas tanpa harus terlalu detail. Kerangka membantu ide tersusun secara logis dan mengurangi rasa bingung saat mulai menulis.
Dalam teori proses menulis, perencanaan awal terbukti membantu meningkatkan kelancaran dan konsistensi penulisan.
4. Tulis Sedikit tapi Konsisten
Salah satu kesalahan pemula adalah menunggu waktu luang panjang untuk menulis. Padahal, menulis buku lebih efektif dilakukan secara konsisten, meski hanya 20–30 menit per hari. Konsistensi membantu menjaga alur berpikir dan membuat proyek buku terus berjalan.
Riset tentang produktivitas menulis menunjukkan bahwa kebiasaan menulis rutin lebih berpengaruh daripada durasi menulis yang panjang namun jarang.
5. Fokus Menyelesaikan Draf Pertama
Pemula sering terjebak ingin menulis sempurna sejak awal. Padahal, draf pertama tidak harus rapi atau ideal. Fokus utama adalah menuangkan ide hingga selesai.
Proses revisi bisa dilakukan setelah seluruh naskah terbentuk. Pendekatan ini selaras dengan prinsip menulis profesional yang menempatkan revisi sebagai tahap terpisah dari penulisan awal.
6. Gunakan Bahasa yang Jelas dan Mudah Dipahami
Buku yang baik bukan yang bahasanya rumit, tetapi yang pesannya sampai. Gunakan kalimat efektif, hindari istilah berlebihan, dan jelaskan konsep dengan contoh sederhana. Bahasa yang komunikatif membantu pembaca merasa dekat dengan isi buku, sekaligus membuat penulis pemula lebih nyaman dalam menyampaikan gagasan.
7. Terbuka pada Masukan dan Proses Belajar
Menulis buku adalah proses belajar yang berkelanjutan. Pemula sebaiknya terbuka terhadap masukan, baik dari pembaca awal, editor, maupun komunitas menulis. Umpan balik membantu melihat kelemahan dan kekuatan tulisan secara objektif.
Banyak penulis pemula berkembang lebih cepat ketika menulis tidak dilakukan sendirian, tetapi didukung lingkungan yang tepat.
Dari ketujuh cara menulis buku untuk pemula di atas, memang terasa berat ketika dipraktekkan pertama kali. Namun, ketika sudah menjadi kebiasaan, akan terasa lebih mengalir. Karena menulis itu adalah skill yang dibutuhkan latihan secara konsisten.
Baca Juga: 10 Cara Menulis yang Benar dan Menarik
Kesimpulan
Setelah kamu sudah terbiasa dan bisa menyelesaikan buku. Maka sebagai penulis juga perlu berkolaborasi. Banyak penulis pemula menyadari bahwa tantangan menulis buku bukan hanya soal ide dan konsistensi, tetapi juga soal pendampingan untuk menyelesaikan masalah seperti merapikan naskah, membuat sampul buku yang menarik, melayout dan memiliki pasar yang membantu proses pemasarannya.
Agar buku yang kamu terbitkan tidak sekedar terbit. Di titik inilah kolaborasi menjadi pilihan yang realistis dan strategis, terutama bagi pemula yang ingin fokus pada isi tanpa terbebani aspek teknis.
Layanan Collaborative Publishing Bukunesia hadir sebagai ruang aman bagi penulis pemula untuk bertumbuh bersama. Melalui sistem kolaboratif, penulis tidak berjalan sendirian.
Ada tim yang membantu proses editorial, kurasi naskah, layout, hingga desain sampul, sehingga ide dan tulisan dapat berkembang menjadi buku yang siap terbit secara profesional. Pendekatan ini memungkinkan penulis pemula belajar langsung dari proses, tanpa harus menunggu merasa “siap sempurna”.
Jika kamu sudah memiliki ide, draf, atau bahkan sekadar keinginan kuat untuk menulis buku, kolaborasi bisa menjadi langkah awal yang paling masuk akal.
Bergabung dengan Collaborative Publishing Bukunesia bisa menjadi cara konkret untuk mengubah niat menulis menjadi karya nyata yang sampai ke tangan pembaca.
Semoga artikel dari Bukunesia ini bermanfaat sebagai panduan awal cara menulis buku untuk pemula agar ide tidak lagi berhenti di kepala.
Referensi
Flower, Linda, and John R. Hayes. “A Cognitive Process Theory of Writing.” College Composition and Communication 32, no. 4 (1981): 365–387.
Zinsser, William. On Writing Well: The Classic Guide to Writing Nonfiction. New York: HarperCollins, 2006.
Silvia, Paul J. How to Write a Lot: A Practical Guide to Productive Academic Writing. Washington, DC: American Psychological Association, 2007.
Graham, Steve. “The Role of Writing Motivation in Writing Development.” Reading and Writing Quarterly 33, no. 4 (2017): 1–17.

