Pernah membaca sebuah tulisan yang isinya sebenarnya menarik, tetapi terasa melelahkan untuk diikuti? Kalimatnya panjang, jedanya membingungkan, atau dialognya sulit dipahami. Sering kali masalahnya bukan pada isi tulisan, melainkan pada penggunaan tanda baca.
Banyak penulis pemula terlalu fokus mencari diksi yang indah atau menyusun ide yang menarik, tetapi lupa bahwa tanda baca memiliki peran besar dalam membantu pembaca memahami maksud tulisan. Bahkan, satu tanda koma yang salah tempat bisa mengubah makna sebuah kalimat.
Tanda baca ibarat rambu lalu lintas dalam sebuah naskah. Kehadiran tanda baca menunjukkan hubungan antarkalimat, memperjelas dialog, hingga membantu pembaca memahami emosi yang ingin disampaikan penulis.
Daftar Isi Artikel
Penggunaan Tanda Baca yang Benar
Kalau kamu sedang belajar menulis artikel, novel, cerpen, skripsi, atau buku nonfiksi, memahami penggunaan tanda baca yang benar adalah keterampilan dasar yang wajib dikuasai. Yuk, pelajari enam tanda baca yang paling sering digunakan beserta contoh penerapannya.
1. Tanda Titik (.)
Tanda titik merupakan salah satu tanda baca yang paling sering digunakan dalam penulisan bahasa Indonesia. Hal yang perlu kamu ketahui bahwa tanda titik ini memiliki beberapa fungsi utama, yaitu mengakhiri kalimat berita atau pernyataan, digunakan pada singkatan tertentu sesuai kaidah yang berlaku, dan digunakan pada penomoran tertentu sesuai ketentuan EYD/PUEBI.
Dalam penulisan sehari-hari, fungsi yang paling sering ditemui adalah sebagai penanda bahwa sebuah kalimat telah selesai.
Contoh penggunaan
Benar
- Buku itu selesai saya baca tadi malam.
- Kami akan mengirimkan naskah besok pagi.
Kurang tepat
- Buku itu selesai saya baca tadi malam
- Kami akan mengirimkan naskah besok pagi..
Kalimat berita selalu diakhiri satu tanda titik, tidak perlu ditambah dua atau tiga titik sekaligus.
2. Tanda Koma (,)
Kalau ada tanda baca yang paling sering salah digunakan, jawabannya mungkin adalah tanda koma. Sebagian orang terlalu banyak menggunakan koma, sementara yang lain justru tidak menggunakannya sama sekali.
Adapun fungsi tanda koma digunakan untuk memisahkan unsur dalam pemerincian, memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimat, dan digunakan untuk memberi jeda pada bagian tertentu agar kalimat lebih mudah dipahami.
Contoh penggunaan
Benar
- Saya membeli buku, pulpen, pensil, dan penggaris.
- Setelah selesai menulis, kami langsung melakukan revisi.
Kurang tepat
- Saya membeli buku pulpen pensil dan penggaris.
- Setelah selesai menulis kami langsung melakukan revisi.
Koma membantu pembaca mengetahui di mana harus berhenti sejenak sebelum melanjutkan membaca.
3. Tanda Tanya (?) dan Tanda Seru (!)
Dua tanda baca ini sama-sama muncul di akhir kalimat, tetapi memiliki fungsi yang berbeda. Tanda seru pada dasarnya berfungsi untuk mengakhiri kalimat yang berisi pertanyaan. Sementara tanda seru berperan untuk menyatakan perintah, seruan, kekaguman, atau emosi yang kuat.
Contoh tanda tanya
- Kapan naskah itu akan diterbitkan?
- Apakah kamu sudah membaca bab terakhir?
Contoh tanda seru
- Selamat atas terbitnya buku pertamamu!
- Hati-hati saat menyeberang!
Dalam penulisan formal, hindari menggunakan tanda seru secara berlebihan seperti “!!!” karena dapat mengurangi kesan profesional.
4. Tanda Petik (” “) dan Petik Tunggal (‘ ‘)
Siapa nih yang selama ini masih kebingungan, terkait penggunaan tanda petik satu dan dua? Kedua tanda baca ini sering digunakan dalam penulisan dialog maupun kutipan. Fungsi tanda petik digunakan untuk mengapit kutipan langsung, mengapit dialog dalam cerita dan menunjukkan judul artikel, puisi, atau bab tertentu dalam konteks tertentu.
Contoh
- Ibu berkata, “Jangan lupa membawa buku.”
- “Aku akan kembali besok,” ujar Rina.
Sementara petik tunggal lebih banyak digunakan untuk mengapit kutipan yang berada di dalam kutipan lain.
Contoh
- Guru berkata, “Saya masih ingat ketika Dimas berkata, ‘Saya ingin menjadi penulis.'”
Penggunaan petik tunggal jauh lebih jarang dibandingkan tanda petik biasa, tetapi tetap penting diketahui.
5. Tanda Hubung (-) dan Tanda Pisah (—)
Sekilas keduanya terlihat mirip, padahal memiliki fungsi yang berbeda. Fungsi tanda hubung (-) banyak digunakan untuk menyambungkan kata ulang, menyambungkan unsur kata tertentu dan membantu pemenggalan kata pada pergantian baris.
Contoh
- Anak-anak sedang bermain.
- Buku-buku itu sudah terjual.
Sementara tanda pisah (—) lebih banyak digunakan untuk memberi penegasan atau menyisipkan informasi tambahan dalam kalimat.
Contoh
- Keputusan itu—meskipun cukup mengejutkan—akhirnya diterima semua pihak.
- Menjadi penulis—apa pun genrenya—membutuhkan konsistensi.
Karena bentuknya hampir sama, banyak penulis masih tertukar menggunakan tanda hubung dan tanda pisah.
6. Tanda Elipsis (…)
Jika kamu suka membaca, pasti sering melihat tanda titik tiga (ellipsis). Tanda elipsis berupa tiga titik yang digunakan untuk menunjukkan adanya bagian yang dihilangkan atau jeda dalam kalimat.
Adapun fungsi tanda baca ini, yaitu menunjukkan kalimat yang belum selesai, menunjukkan jeda ketika tokoh sedang berpikir, dan menunjukkan bagian kutipan yang dihilangkan.
Contoh
- “Aku sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tapi…”
- “Kalau memang begitu…”
Perlu diingat, elipsis selalu terdiri atas tiga titik, bukan dua atau empat titik.
Kesalahan Umum Penggunaan Tanda Baca dalam Naskah
Meskipun terlihat sederhana, kesalahan tanda baca masih sering ditemukan, bahkan pada penulis yang sudah berpengalaman. Berikut 3 kesalahan umum dalam naskah.
1. Menggunakan Tanda Baca Berlebihan
Contohnya seperti:
- Bagus sekali!!!!
- Serius???
- Wah……
Penggunaan tanda baca yang berlebihan membuat tulisan terlihat kurang profesional. Sebaiknya cukup gunakan satu tanda baca sesuai fungsi kalimatnya.
2. Tidak Memberikan Jeda dengan Koma
Kalimat panjang tanpa koma membuat pembaca kesulitan memahami maksud penulis. Misalnya:
Kurang tepat
Setelah menyelesaikan revisi penulis langsung mengirimkan naskah kepada editor untuk diperiksa kembali.
Lebih tepat
Setelah menyelesaikan revisi, penulis langsung mengirimkan naskah kepada editor untuk diperiksa kembali.
Jeda kecil seperti ini sangat membantu keterbacaan.
3. Salah Menggunakan Tanda Petik pada Dialog
Kesalahan ini sering muncul dalam penulisan novel.
Contoh kurang tepat:
“Aku pulang”. kata Dimas.
Yang benar:
“Aku pulang,” kata Dimas.
Tanda koma berada di dalam tanda petik karena dialog belum benar-benar selesai sebelum diikuti keterangan penutur.
Kenapa Tanda Baca Tidak Boleh Dianggap Sepele?
Banyak orang menganggap tanda baca hanya persoalan teknis. Padahal, tanda baca berpengaruh langsung terhadap kualitas sebuah naskah. Penggunaan tanda baca yang tepat membuat tulisan lebih mudah dipahami, meningkatkan kenyamanan membaca, dan membantu menyampaikan maksud penulis secara lebih akurat.
Sebaliknya, kesalahan tanda baca dapat menimbulkan ambiguitas, mengubah makna kalimat, bahkan mengganggu pengalaman membaca, terutama pada naskah panjang seperti novel, buku nonfiksi, atau karya ilmiah.
Karena itu, selain memperhatikan isi tulisan, biasakan juga memeriksa kembali penggunaan tanda baca sebelum naskah dikirimkan atau dipublikasikan. Semakin sering kamu menulis dan melakukan penyuntingan, semakin terbiasa pula mengenali penggunaan tanda baca yang benar.
Ingat, tulisan yang adalah yang menarik dari segi isi, dan rapi secara teknis sehingga pembaca dapat menikmati setiap kalimat tanpa harus menebak maksud penulis.
Kesimpulan
Memahami penggunaan tanda baca yang benar merupakan salah satu keterampilan dasar yang perlu dikuasai setiap penulis. Dengan penggunaan tanda baca yang tepat, tulisan menjadi lebih jelas, mudah dipahami, dan nyaman dibaca sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima pembaca dengan baik.
Namun, tanda baca hanyalah salah satu bagian dari proses menghasilkan naskah yang berkualitas. Setelah selesai menulis, jangan lupa melakukan pengecekan ulang agar kesalahan kecil tidak terlewat sebelum naskah dipublikasikan atau dikirimkan.
Kalau kamu ingin mempelajari tahapan berikutnya dalam proses penyuntingan naskah, baca juga artikel berikut:
- Apa Itu Proofreading? Tugas dan Cara Membuat
- 6 Cara Menulis Dialog yang Benar dan Tanda Bacanya
- Kutipan Langsung dan Tidak Langsung: Contoh dan Perbedaan
Semoga artikel dari Bukunesia ini bermanfaat untuk membantu kamu memahami penggunaan tanda baca yang benar, sehingga setiap tulisan yang kamu buat menjadi lebih jelas, rapi, dan nyaman dibaca.
Referensi
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2022). Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EBI). Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2022). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring.
Keraf, G. (2004). Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Berbahasa. Nusa Indah.
Pusat Bahasa. (2019). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Sugono, D. (Ed.). (2016). Buku Praktis Bahasa Indonesia (2nd ed.). Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

