Karakter Cerita Terasa Hambar? Berikut 7 Penyebabnya

karakter cerita

Pernah membaca novel atau cerpen yang idenya sebenarnya menarik, tetapi tokoh-tokohnya rasanya biasa saja? Atau mungkin kamu sedang menulis cerita sendiri dan merasa karaktermu belum cukup kuat untuk membuat pembaca peduli?

Jika iya, kamu tidak sendirian. Banyak penulis pemula fokus membangun alur cerita yang seru, plot twist yang mengejutkan, atau dunia cerita yang unik. Namun, mereka sering lupa bahwa pembaca biasanya lebih mudah terhubung dengan karakter dibandingkan dengan plot itu sendiri.

Coba ingat beberapa buku atau film favoritmu. Kemungkinan besar yang masih kamu ingat hingga sekarang bukan hanya jalan ceritanya, tetapi juga karakter-karakter yang ada di dalamnya. Pembaca bisa tertawa, sedih, marah, bahkan menangis karena mereka merasa dekat dengan tokoh yang diceritakan.

Sebaliknya, ketika karakter terasa datar dan kurang hidup, cerita yang sebenarnya menarik pun bisa kehilangan daya tariknya. Lalu, apa saja yang membuat karakter cerita terasa hambar?

Penyebab Karakter Cerita Terasa Hambar?

Menciptakan karakter yang berkesan memang tidak selalu mudah. Berikut beberapa penyebab yang paling sering membuat karakter kurang hidup di mata pembaca.

1. Karakter Tidak Memiliki Tujuan yang Jelas

    Salah satu alasan karakter terasa hambar adalah karena mereka tidak memiliki tujuan yang kuat. Dalam kehidupan nyata, setiap orang memiliki keinginan, impian, kebutuhan, atau sesuatu yang sedang diperjuangkan. Begitu juga dalam cerita.

    Ketika karakter tidak memiliki tujuan yang jelas, pembaca akan kesulitan memahami alasan di balik tindakan mereka. Akibatnya, karakter terlihat hanya mengikuti alur cerita tanpa arah yang pasti. Karakter yang menarik biasanya memiliki sesuatu yang ingin dicapai, dipertahankan, atau diperjuangkan.

    promo hari buku nasional kuota tambahan

    2. Terlalu Sempurna dan Tidak Punya Kekurangan

      Banyak penulis pemula tanpa sadar menciptakan karakter yang hampir sempurna. Misalnya, menciptakan tokoh pintar, baik hati, tampan atau cantik, selalu benar, dan hampir tidak pernah melakukan kesalahan.

      Masalahnya, karakter seperti ini justru terasa kurang manusiawi. Pembaca lebih mudah terhubung dengan tokoh yang memiliki kelemahan, ketakutan, atau konflik dalam dirinya. Kekurangan membuat karakter terasa lebih realistis dan relatable. Karena itu, jangan takut memberikan sisi lemah pada karakter yang kamu ciptakan.

      3. Tidak Memiliki Latar Belakang yang Kuat

        Setiap orang dibentuk oleh pengalaman hidupnya. Begitu pula karakter dalam cerita. Jika penulis tidak memahami latar belakang tokohnya, karakter sering kali terlihat dangkal dan tidak memiliki kedalaman emosional. 

        Pembaca mungkin tidak perlu mengetahui seluruh riwayat hidup karakter. Namun sebagai penulis, kamu perlu memahami apa yang pernah mereka alami, apa yang membentuk cara berpikir mereka, dan mengapa mereka bertindak seperti sekarang. Disini latar belakang yang kuat akan membuat karakter terasa lebih hidup dan konsisten.

        4. Semua Karakter Memiliki Suara yang Sama

          Pernah membaca dialog yang terasa aneh karena semua tokohnya berbicara dengan cara yang mirip? Ini adalah masalah yang cukup umum. Karakter yang berbeda seharusnya memiliki cara berbicara, pilihan kata, dan respons yang berbeda pula.

          Seorang remaja tentu memiliki gaya bicara yang berbeda dengan seorang profesor atau pebisnis berpengalaman. Jika semua karakter terdengar seperti versi lain dari penulisnya, pembaca akan kesulitan membedakan kepribadian masing-masing tokoh.

          5. Karakter Tidak Mengalami Perkembangan

            Karakter yang menarik biasanya mengalami perubahan sepanjang cerita. Mereka belajar dari kesalahan, menghadapi tantangan, atau menemukan sudut pandang baru setelah melalui berbagai konflik. Sebaliknya, karakter yang tetap sama dari awal hingga akhir sering kali terasa kurang berkesan.

            Pembaca menyukai perjalanan emosional. Mereka ingin melihat bagaimana pengalaman dalam cerita memengaruhi tokoh yang mereka ikuti. Karena itu, pastikan karakter memiliki ruang untuk bertumbuh dan berkembang.

            6. Terlalu Banyak Memberi Tahu, Terlalu Sedikit Menunjukkan

              Sebagian penulis sering menjelaskan karakter secara langsung. Misalnya “Raka adalah orang yang pemberani.” Masalahnya, pembaca belum tentu percaya hanya karena penulis mengatakannya.

              Karakter akan terasa lebih hidup jika sifat mereka ditunjukkan melalui tindakan. Misalnya, daripada mengatakan bahwa Raka pemberani, tunjukkan bagaimana ia tetap menolong temannya meskipun berada dalam situasi berbahaya. 

              Pembaca akan lebih mudah mengingat karakter melalui apa yang mereka lakukan dibandingkan apa yang dijelaskan tentang mereka.

              7. Karakter Hanya Ada untuk Mendukung Plot

                Kadang-kadang penulis terlalu fokus pada alur cerita hingga menjadikan karakter hanya sebagai alat untuk menggerakkan plot. Akibatnya, tokoh terlihat melakukan sesuatu hanya karena cerita membutuhkannya, bukan karena keputusan tersebut sesuai dengan kepribadiannya.

                Karakter yang kuat seharusnya memiliki motivasi sendiri. Mereka membuat pilihan berdasarkan tujuan, nilai, dan emosi yang dimiliki, bukan semata-mata karena penulis ingin cerita bergerak ke arah tertentu. Setidaknya dengan karakter yang jelas, cerita bisa menjadi lebih kuat. 

                banner ebook penulis best seller mei

                Kesimpulan 

                Karakter cerita yang terasa hambar biasanya disebabkan oleh beberapa hal, seperti tidak memiliki tujuan yang jelas, terlalu sempurna, minim latar belakang, memiliki suara yang seragam, tidak mengalami perkembangan, terlalu banyak dijelaskan tanpa ditunjukkan melalui tindakan, atau hanya berfungsi sebagai alat untuk mendukung plot.

                Kabar baiknya, semua masalah tersebut dapat diperbaiki melalui latihan dan pemahaman yang lebih mendalam tentang proses membangun karakter. Semakin mengenal tokoh yang kamu ciptakan, semakin mudah menghadirkan karakter yang terasa hidup dan mampu meninggalkan kesan di benak pembaca.

                Jika kamu ingin mempelajari cara membuat karakter yang lebih kuat dan mudah diingat pembaca, kamu bisa melanjutkan membaca artikel Cara Menghidupkan Karakter Fiksi Memorable untuk memahami teknik membangun karakter yang lebih hidup dan berkesan.

                Selain itu, kamu juga bisa mendalami bagaimana karakter bisa terasa lebih dalam dan memiliki “jiwa” dalam cerita melalui artikel Cara Membuat Karakter Fiksi yang Memiliki Jiwa sebagai panduan lanjutan untuk memperkuat kualitas penulisanmu

                Semoga artikel dari Bukunesia ini bermanfaat dan bisa membantumu memahami bagaimana membangun karakter cerita yang lebih hidup, kuat, dan tidak lagi terasa hambar.

                Referensi

                Brody, J. (2018). Save the Cat! Writes a Novel: The Last Book on Novel Writing You’ll Ever Need. Berkeley, CA: Ten Speed Press.
                Cron, L. (2012). Wired for Story: The Writer’s Guide to Using Brain Science to Hook Readers from the Very First Sentence. Berkeley, CA: Ten Speed Press.
                McKee, R. (1997). Story: Substance, Structure, Style and the Principles of Screenwriting. New York, NY: HarperCollins.
                Truby, J. (2007). The Anatomy of Story: 22 Steps to Becoming a Master Storyteller. New York, NY: Farrar, Straus and Giroux.
                Vogler, C. (2020). The Writer’s Journey: Mythic Structure for Writers (4th ed.). Studio City, CA: Michael Wiese Productions.

                UDAH MULAI NULIS, TAPI BINGUNG GIMANA LANJUTINNYA?

                Ebook gratis ini akan membantu kamu menulis dan melanjutkan naskah yang sudah kamu mulai, baik buku novel, biografi, quotes, fiksi, dan nonfiksi dengan lebih mudah. Dilengkapi panduan serta tips praktis agar proses menulismu lebih terarah hingga bisa diselesaikan.

                Bagikan Artikel Ini
                WhatsApp
                Threads
                X
                Facebook
                LinkedIn