Kenapa Menulis untuk Pemula Terasa Sulit di Awal?

menulis untuk pemula

Banyak orang pernah berkata, “Aku ingin menulis buku suatu hari nanti.” Ada yang ingin menulis novel, ada yang ingin membagikan pengalaman hidup, dan ada juga yang ingin menerbitkan karya sebagai bentuk pencapaian pribadi. Namun ketika benar-benar mulai menulis, tidak sedikit yang akhirnya berhenti di tengah jalan.

Jika kamu sedang berada di fase ini, sebenarnya kamu tidak sendirian. Hampir semua penulis, termasuk mereka yang kini sudah menerbitkan banyak buku, pernah mengalami kesulitan saat pertama kali menulis. Tantangan terbesar seringkali bukan kurangnya ide atau kemampuan bahasa, melainkan hambatan mental yang muncul selama proses menulis.

Alasan Kenapa Menulis untuk Pemula Terasa Sulit di Awal 

Menulis memang terlihat sederhana. Kamu hanya perlu duduk, membuka laptop, lalu mulai mengetik. Namun dalam praktiknya, proses tersebut sering diikuti oleh keraguan, rasa takut, perfeksionisme, dan berbagai pikiran lain yang membuat tulisan sulit berkembang.

Karena itulah banyak penulis pemula merasa bahwa memulai adalah bagian paling berat dari seluruh perjalanan menulis. Lalu, kenapa menulis untuk pemula terasa begitu sulit di awal?

1. Terlalu Fokus pada Hasil Akhir

    Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan penulis pemula adalah membayangkan hasil akhir sebelum prosesnya benar-benar berjalan. Baru menulis satu halaman, tetapi sudah membayangkan bukunya harus laris. Baru membuat satu bab, tetapi sudah memikirkan apakah pembaca akan menyukainya atau tidak.

    Akibatnya, tekanan yang dirasakan menjadi jauh lebih besar daripada yang seharusnya. Padahal pada tahap awal, fokus utama bukanlah menghasilkan karya sempurna. Fokus utamanya adalah menyelesaikan tulisan terlebih dahulu.

    Banyak penulis berpengalaman justru menganggap draft pertama sebagai tempat menuangkan ide, bukan tempat menghasilkan karya terbaik.

    promo hari buku nasional kuota tambahan

    2. Takut Tulisan Terlihat Jelek

      Pernah mengetik beberapa paragraf lalu menghapus semuanya karena merasa tulisanmu tidak bagus? Kalau iya, kamu tidak sendirian. Banyak penulis pemula memiliki standar yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri.

      Mereka ingin hasil tulisannya langsung bagus sejak paragraf pertama. Ketika kenyataannya tidak sesuai harapan, mereka memilih berhenti.

      Padahal kemampuan menulis berkembang melalui latihan. Tidak ada penulis yang langsung menghasilkan karya luar biasa pada percobaan pertama. Sebagian besar belajar melalui proses revisi yang panjang dan penolakan sudah hal yang biasa.

      3. Merasa Ide Tidak Menarik

        Hambatan berikutnya adalah merasa ide yang dimiliki terlalu biasa. Saat melihat novel populer atau buku best seller, banyak penulis pemula berpikir bahwa ide mereka kalah menarik. Akibatnya mereka kehilangan motivasi sebelum benar-benar mencoba mengembangkan cerita.

        Faktanya, banyak buku sukses lahir dari ide yang sederhana. Yang membuatnya menarik bukan hanya ide dasarnya, tetapi bagaimana penulis menyampaikan cerita tersebut. Dua orang bisa memiliki ide yang sama, tetapi menghasilkan karya yang sangat berbeda karena sudut pandang dan gaya menulis mereka tidak sama.

        4. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Penulis Lain

          Media sosial membuat kita mudah melihat pencapaian orang lain. Hari ini ada penulis yang menerbitkan buku pertamanya. Besok ada yang mengumumkan cetak ulang. Minggu depan ada yang berhasil masuk daftar buku terlaris.

          Tanpa sadar, hal-hal seperti ini membuat banyak penulis pemula merasa tertinggal. Padahal yang terlihat di media sosial biasanya adalah hasil akhirnya. Kita jarang melihat proses panjang, kegagalan, revisi, penolakan dan perjuangan yang terjadi di belakang layar.

          Membandingkan langkah pertama milikmu dengan langkah ke-100 milik orang lain hampir selalu membuat semangat menurun. Karena itu, fokuslah pada perkembangan dirimu sendiri.

          5. Bingung Harus Mulai dari Mana

            Tidak sedikit orang yang sebenarnya punya ide cerita yang menarik, tetapi bingung bagaimana memulainya. Mereka sudah membayangkan tokoh, konflik, bahkan ending cerita. Namun ketika membuka halaman kosong, mereka tidak tahu kalimat pertama yang harus ditulis.

            Kondisi ini sering disebut sebagai “blank page syndrome” atau ketakutan menghadapi halaman kosong. Salah satu cara mengatasinya adalah berhenti mengejar pembukaan yang sempurna.

            Mulailah dari adegan yang paling jelas di kepala. Kamu selalu bisa memperbaiki urutan cerita saat proses revisi nanti. Yang terpenting adalah membuat tulisan terus bergerak.

            6. Perfeksionisme yang Berlebihan

              Perfeksionisme sering dianggap sebagai sifat positif. Namun dalam dunia menulis, perfeksionisme yang berlebihan justru bisa menjadi penghambat. Banyak penulis pemula menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memperbaiki satu paragraf.

              Akibatnya, cerita tidak pernah berkembang. Mereka terus mengedit bab pertama tanpa pernah sampai ke bab kedua.

              banner ebook penulis best seller mei

              Padahal menulis dan mengedit adalah dua proses yang berbeda. Ketika sedang menulis, biarkan ide mengalir terlebih dahulu. Setelah naskah selesai, barulah masuk ke tahap revisi. Jika kamu terus memperbaiki setiap kalimat sejak awal, kemungkinan besar naskah akan berhenti sebelum selesai.

              7. Takut Mendapatkan Penilaian dari Orang Lain

                Ketakutan terhadap kritik merupakan hambatan yang sangat umum dialami penulis pemula. Ada yang takut dianggap tidak berbakat. Ada yang takut ditertawakan. Ada juga yang takut jika tulisannya tidak disukai pembaca.

                Perasaan ini sangat manusiawi. Menulis memang membuat kita menunjukkan sebagian isi pikiran kepada orang lain. Namun penting untuk diingat bahwa kritik bukan selalu tanda kegagalan. Dalam banyak kasus, kritik justru membantu penulis berkembang.

                Jika kamu perhatikan, hampir semua penulis besar pernah menerima penolakan atau komentar negatif terhadap karyanya. Yang membedakan adalah mereka tetap menulis meskipun rasa takut itu ada.

                Salah satu mitos terbesar dalam dunia kepenulisan adalah anggapan bahwa menulis hanya untuk orang-orang berbakat. Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menulis berkembang melalui latihan yang konsisten.

                Semakin sering seseorang menulis, semakin baik pula kemampuan menyusun ide, membangun alur, dan menyampaikan pesan.

                Karena itu, jangan terlalu sibuk menilai apakah tulisanmu sudah bagus atau belum. Fokuslah pada kebiasaan menulis itu sendiri. Kamu bisa mengawali dengan menuliskan dari satu halaman. Lanjutkan menjadi dua halaman, kemudian satu bab dan lakukan secara konsisten sampai jadi satu naskah utuh.

                Banyak penulis yang berhasil menerbitkan buku bukan karena mereka selalu termotivasi, melainkan karena mereka tetap menulis meskipun sedang merasa ragu.

                Kesimpulan

                Menulis untuk pemula memang sering terasa sulit di awal. Rasa takut, perfeksionisme, kebingungan memulai, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain adalah hambatan yang hampir selalu muncul dalam perjalanan seorang penulis.

                Kabar baiknya, semua tantangan tersebut merupakan bagian normal dari proses belajar menulis. Kamu tidak harus menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Sebaliknya, kamu perlu mulai menulis agar perlahan menjadi lebih baik.

                Jika saat ini kamu sedang membangun kebiasaan menulis atau ingin lebih konsisten menyelesaikan karya, beberapa artikel berikut bisa membantu kamu memahami proses menulis dengan lebih baik.

                Semoga artikel dari Bukunesia ini bermanfaat dan bisa membantumu memahami bahwa menulis untuk pemula adalah proses yang perlu dilatih secara bertahap hingga kemampuanmu terus berkembang.

                Referensi

                Clark, R. P. (2010). Writing tools: 55 essential strategies for every writer. Little, Brown and Company.
                King, S. (2020). On writing: A memoir of the craft (20th anniversary ed.). Scribner.
                Lamott, A. (1995). Bird by bird: Some instructions on writing and life. Anchor Books.
                Pinker, S. (2014). The sense of style: The thinking person’s guide to writing in the 21st century. Viking.
                Zinsser, W. (2016). On writing well: The classic guide to writing nonfiction (30th anniversary ed.). HarperCollins.

                UDAH MULAI NULIS, TAPI BINGUNG GIMANA LANJUTINNYA?

                Ebook gratis ini akan membantu kamu menulis dan melanjutkan naskah yang sudah kamu mulai, baik buku novel, biografi, quotes, fiksi, dan nonfiksi dengan lebih mudah. Dilengkapi panduan serta tips praktis agar proses menulismu lebih terarah hingga bisa diselesaikan.

                Bagikan Artikel Ini
                WhatsApp
                Threads
                X
                Facebook
                LinkedIn