10 Cara Mendapatkan Passive Income yang Lebih Realistis

cara mendapatkan passive income

Cara mendapatkan passive income kerap dipersepsikan sebagai jalan pintas menuju kebebasan finansial, seolah penghasilan dapat mengalir tanpa usaha dan risiko.

Padahal, berbagai riset ekonomi dan keuangan menunjukkan bahwa sebagian besar passive income justru dibangun melalui kerja awal yang terencana, konsistensi, serta pengelolaan aset jangka panjang.

Kesalahpahaman inilah yang membuat banyak orang berekspektasi berlebihan, lalu kecewa ketika hasil tidak sesuai harapan.

Dengan memahami cara mendapatkan passive income secara realistis, kamu bisa menghindari jebakan mitos dan mulai membangun sumber penghasilan pasif yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Passive Income yang Sering Disalahartikan

Passive income sering dipromosikan sebagai cara menghasilkan uang tanpa bekerja, seolah penghasilan bisa mengalir dengan sendirinya.

Padahal, banyak konsep passive income yang selama ini beredar justru keliru dan berpotensi menyesatkan. Berdasarkan kajian ekonomi dan penelitian keuangan, hampir semua passive income membutuhkan usaha awal, perawatan, serta manajemen risiko yang konsisten.

Kesalahpahaman inilah yang membuat banyak orang kecewa dan merasa gagal. Berikut beberapa bentuk passive income yang sering disalahartikan.

1. Passive Income Dianggap Tanpa Usaha Sama Sekali

Kesalahan paling umum adalah menganggap passive income berarti “uang bekerja sendiri tanpa kerja apa pun”. Penelitian dari Harvard Business Review menjelaskan bahwa passive income sebenarnya adalah delayed active income, yaitu penghasilan yang memerlukan usaha signifikan di awal sebelum menjadi relatif pasif.

Menulis buku, membuat kursus online, atau membangun bisnis digital tetap membutuhkan waktu, tenaga, dan keterampilan sebelum menghasilkan pendapatan stabil. Tanpa pondasi yang kuat, passive income tidak akan bertahan lama.

Baca Juga: Keterampilan Menulis: Pengertian, Tujuan dan Macam

2. Investasi Selalu Aman dan Pasti Menguntungkan

Banyak orang menganggap investasi otomatis menghasilkan passive income yang aman. Faktanya, U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) menegaskan bahwa tidak ada investasi tanpa risiko, termasuk saham dividen, reksa dana, maupun properti.

Fluktuasi pasar, inflasi, dan kondisi ekonomi global sangat mempengaruhi hasil investasi. Passive income dari investasi membutuhkan pemahaman risiko dan strategi jangka panjang, bukan sekadar berharap keuntungan rutin.

3. Properti Sewa Sepenuhnya Penghasilan Pasif

Properti sering disebut sebagai sumber passive income terbaik. Namun data dari National Association of Realtors menunjukkan bahwa pemilik properti tetap harus mengelola perawatan, penyewa, pajak, dan risiko kekosongan unit.

Tanpa manajemen yang baik, properti justru menjadi beban finansial. Passive income dari properti lebih tepat disebut semi-pasif, karena tetap membutuhkan keterlibatan berkala.

4. Konten Digital Langsung Menghasilkan Uang

Banyak yang percaya bahwa membuat konten digital—seperti buku, foto, atau video—langsung menghasilkan passive income. Padahal, laporan Statistik menunjukkan bahwa sebagian besar kreator membutuhkan waktu lama untuk mencapai pendapatan stabil.

Konten digital baru menjadi passive income jika memiliki nilai jangka panjang (evergreen) dan didukung distribusi yang konsisten. Tanpa kualitas dan relevansi, konten tidak akan menghasilkan royalti berkelanjutan.

5. Passive Income Bisa Cepat Kaya

Narasi “cepat kaya dari passive income” sering muncul di media sosial. Padahal, penelitian dari OECD menegaskan bahwa pertumbuhan kekayaan yang berkelanjutan umumnya berasal dari akumulasi aset jangka panjang, bukan skema instan.

Passive income yang sehat berkembang secara bertahap, seiring waktu, konsistensi, dan pengelolaan yang disiplin. Skema yang menjanjikan keuntungan cepat justru sering berisiko tinggi atau tidak berkelanjutan.

6. Semua Passive Income Cocok untuk Semua Orang

Kesalahan lain adalah menganggap satu jenis passive income cocok untuk semua orang. Studi dari Journal of Behavioral Finance menunjukkan bahwa latar belakang keuangan, toleransi risiko, dan kemampuan individu sangat mempengaruhi keberhasilan passive income.

Passive income yang ideal adalah yang selaras dengan kemampuan, minat, dan kondisi finansial, bukan sekadar mengikuti tren.

download ebook bukunesia

Cara Mendapatkan Passive Income yang Lebih Realistis

Passive income atau penghasilan pasif menjadi solusi finansial yang semakin diminati karena mampu memberikan pemasukan jangka panjang tanpa harus terus menukar waktu dengan uang.

Meski sering dianggap instan, kenyataannya passive income yang realistis membutuhkan proses, konsistensi, dan strategi yang tepat.

Berdasarkan data dan penelitian, berikut 10 cara mendapatkan passive income yang lebih realistis dan dapat diterapkan secara bertahap.

1. Menulis Buku dan Menerbitkannya

Menulis buku merupakan salah satu bentuk passive income paling realistis, terutama di era digital. Setelah buku diterbitkan—baik dalam bentuk cetak maupun ebook—penulis berpotensi memperoleh royalti secara berkelanjutan tanpa harus terus bekerja aktif.

Data dari Statista menunjukkan bahwa pasar buku digital global terus tumbuh setiap tahun, didorong oleh kemudahan akses dan meningkatnya minat membaca melalui platform digital.

Sementara itu, laporan Amazon Kindle Direct Publishing mencatat bahwa banyak penulis independen memperoleh penghasilan pasif dari penjualan jangka panjang buku mereka.

Buku nonfiksi seperti motivasi, pengembangan diri, pendidikan, dan keuangan pribadi termasuk kategori yang paling stabil menghasilkan royalti karena dibutuhkan sepanjang waktu. Semakin relevan dan solutif isi buku, semakin besar peluang buku tersebut terus dibeli dalam jangka panjang.

Baca Juga: Panduan Menulis Buku Lengkap dari Naskah sampai Terbit

2. Investasi Saham Dividen

Saham dividen memberikan penghasilan pasif melalui pembagian laba perusahaan. Menurut U.S. Securities and Exchange Commission (SEC), saham dividen cocok untuk investor jangka panjang karena memberikan cash flow rutin sekaligus potensi kenaikan nilai aset.

3. Reksa Dana atau ETF Berbasis Dividen

Bagi yang ingin risiko lebih terdiversifikasi, reksa dana dan ETF dividen menjadi alternatif realistis. Morningstar mencatat bahwa produk investasi berbasis dividen cenderung lebih stabil dan cocok untuk membangun passive income secara bertahap.

4. Properti Sewa

Menyewakan properti tetap menjadi sumber passive income yang kuat. National Association of Realtors menyebutkan bahwa properti sewa memberikan dua keuntungan sekaligus: pendapatan rutin dan apresiasi nilai aset dalam jangka panjang.

5. Peer-to-Peer (P2P) Lending

P2P lending memungkinkan individu memperoleh pendapatan bunga dari dana yang dipinjamkan. Laporan World Bank menunjukkan bahwa P2P lending berkembang pesat sebagai alternatif investasi, meskipun tetap perlu manajemen risiko yang matang.

6. Royalti Konten Digital

Selain buku, karya digital seperti foto, ilustrasi, musik, dan template desain juga menghasilkan royalti. Menurut Statista, industri konten digital menunjukkan pertumbuhan konsisten, menjadikannya sumber passive income yang relevan di era kreatif.

7. Membuat Kursus Online

Kursus online memberikan pemasukan berulang setelah materi selesai dibuat. Data dari Udemy menunjukkan bahwa kursus evergreen—seperti skill dasar, produktivitas, dan bisnis—memiliki umur penjualan yang panjang dan stabil.

8. Blogging dan Affiliate Marketing

Blog yang dikelola dengan SEO mampu menghasilkan trafik jangka panjang. HubSpot melaporkan bahwa konten blog yang konsisten dapat menjadi aset digital yang menghasilkan passive income melalui iklan dan afiliasi.

9. Investasi Obligasi atau Reksa Dana Pasar Uang

Instrumen ini cocok bagi pencari passive income yang relatif stabil. Investopedia menjelaskan bahwa pendapatan bunga dari obligasi dan pasar uang memberikan arus kas tanpa perlu menjual aset.

10. Produk Digital Berbasis Langganan

Aplikasi, software, atau layanan digital berlangganan menawarkan pemasukan rutin. Statista mencatat bahwa model subscription menjadi salah satu model bisnis digital paling berkelanjutan dalam jangka panjang.

Salah satu cara mendapatkan passive di era digital adalah dengan menerbitkan buku. Buku bukan hanya karya intelektual, tetapi juga aset jangka panjang yang dapat terus memberikan nilai dan penghasilan.

Setelah proses penulisan dan penerbitan selesai, buku—baik dalam bentuk cetak maupun digital—berpotensi menghasilkan royalti secara berkelanjutan tanpa perlu keterlibatan aktif setiap hari.

Menariknya, buku memiliki keunggulan dibanding banyak sumber passive income lain karena isinya bersifat evergreen. Selama topik yang dibahas tetap dibutuhkan pembaca, buku akan terus dicari dan dibeli.

Banyak penulis memulai dari pengalaman sederhana, keahlian tertentu, atau kegelisahan personal yang kemudian dirangkai menjadi karya yang bermanfaat bagi orang lain.

Di tengah meningkatnya minat membaca digital dan kemudahan distribusi, menerbitkan buku kini tidak lagi eksklusif bagi penulis besar.

Prosesnya semakin terbuka dan dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Untuk kamu yang punya ide, pengalaman, atau keahlian dan ingin mengubahnya menjadi passive income, menerbitkan buku bersama Bukunesia melalui Layanan Collaborative Publishing bisa menjadi langkah awal.

Prosesnya kolaboratif, editor hadir sejak awal pengolahan naskah, buku diposisikan untuk masuk pasar, dan sistem pre-order sudah dirancang lebih awal agar potensi penghasilannya lebih terukur.

Semoga artikel dari Bukunesia ini bermanfaat sebagai referensi cara mendapatkan passive income yang realistis dan bisa dikembangkan secara bertahap.

Referensi

Statista – Global Digital Publishing Market
Amazon Kindle Direct Publishing – Author Earnings Overview
U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) – Dividends & Long-Term Investing
Morningstar – Dividend Investment Research
World Bank – FinTech and Peer-to-Peer Lending

MAU NULIS TAPI BINGUNG MULAI DARI MANA?

Ebook gratis ini akan membantu kamu menulis buku novel, biografi, fiksi, dan nonfiksi dengan lebih mudah. Dilengkapi panduan serta tips praktis agar proses menulismu makin percaya diri dan terarah.