“Pengen banget nulis novel, tapi bingung mulai dari mana.”
Kalau kalimat itu pernah terlintas di kepala, tenang, kamu nggak sendirian. Hampir semua penulis pernah berada di fase yang sama. Ada yang sudah punya banyak ide, tetapi tidak tahu cara merangkainya menjadi cerita. Ada juga yang takut idenya terlalu pasaran, bahkan ada yang belum menulis satu halaman pun karena khawatir novelnya jelek.
Padahal, semua novel hebat berawal dari satu langkah sederhana: mulai menulis. Faktanya, tantangan terbesar penulis pemula bukanlah kekurangan ide, melainkan rasa ragu pada diri sendiri.
“Apakah ceritaku cukup menarik?”, “Bagaimana kalau mirip novel lain?”, atau “Kalau nanti berhenti di tengah jalan gimana?” menjadi pertanyaan yang sering muncul sebelum proses menulis benar-benar dimulai.
Kabar baiknya, menulis novel bukan bakat yang hanya dimiliki segelintir orang. Menulis adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan terus diasah. Semakin sering berlatih, semakin baik pula kemampuanmu dalam membangun cerita.
Kalau kamu sedang ingin memulai perjalanan sebagai penulis, berikut sembilan langkah yang bisa menjadi panduan.
Daftar Isi Artikel
Cara Menulis Novel untuk Pemula
Buat kamu nih yang penasaran, gimana sih cara menulis novel untuk pemula? 9 cara ini wajib kamu pahami, agar kamu bisa mewujudkan mimpimu menjadi seorang penulis novel
1. Kenali Dulu Apa Itu Novel dan Proses Penulisannya
Sebelum mulai mengetik bab pertama, penting untuk memahami apa sebenarnya novel itu. Novel adalah karya sastra berbentuk prosa panjang yang menyajikan cerita secara utuh melalui alur, tokoh, konflik, latar, dan tema yang saling berkaitan.
Berbeda dengan cerpen yang relatif singkat, novel lebih luas bagi penulis untuk mengembangkan karakter dan konflik secara eksploratif.
Banyak pemula mengira proses menulis novel hanya terdiri dari “punya ide lalu menulis”. Padahal, prosesnya biasanya meliputi menemukan ide, melakukan riset bila diperlukan, membuat outline, menulis draf pertama, melakukan revisi, meminta masukan dari pembaca dan menyunting naskah.
Setidaknya dengan memahami tahapan tersebut membuatmu lebih siap menghadapi proses yang memang membutuhkan waktu dan konsistensi.
2. Temukan dan Tentukan Ide Cerita
Salah satu kekhawatiran terbesar penulis pemula adalah takut idenya tidak original. Padahal, hampir semua tema besar sudah pernah ditulis. Yang membuat sebuah novel terasa berbeda adalah cara penulis menyampaikan cerita, membangun karakter, dan menyajikan konflik.
Ide bisa datang dari mana saja, misalnya pengalaman pribadi, kisah orang lain, berita, sejarah, budaya lokal, mimpi, atau pertanyaan sederhana seperti, “Bagaimana kalau…?” Daripada menunggu ide yang dianggap “sempurna”, lebih baik mulai mengembangkan ide yang sudah ada. Sering kali, ide terbaik justru muncul ketika proses menulis sedang berlangsung.
3. Pilh Genre yang Sesuai
Genre membantu menentukan arah cerita sekaligus memudahkan pembaca memahami ekspektasi mereka terhadap novelmu. Beberapa genre yang populer antara lain romance, fantasy, thriller, mystery, horror, science fiction, historical fiction atau slice of life.
Kalau masih bingung, pilih genre yang paling sering kamu baca. Biasanya, seseorang lebih mudah menulis cerita yang memang sudah akrab dengan minat dan referensinya. Namun, jangan takut bereksperimen. Banyak novel menarik yang memadukan dua atau lebih genre sekaligus.
4. Kenali Target Pembaca
Siapa yang akan membaca novelmu? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sangat menentukan gaya bahasa, konflik, hingga cara bercerita. Misalnya, novel untuk remaja tentu berbeda dengan novel yang ditujukan bagi pembaca dewasa. Begitu pula novel anak yang membutuhkan bahasa lebih sederhana dan konflik yang sesuai dengan usia pembacanya.
Dengan memahami target pembaca sejak awal, kamu akan lebih mudah menentukan pilihan diksi, sudut pandang, tema, ritme cerita, dan penyelesaian konflik. Sehingga menulis lebih terarah karena kamu tahu kepada siapa cerita itu disampaikan.
5. Bangun Tokoh yang Hidup
Pembaca mungkin lupa detail alur cerita, tetapi mereka sering kali mengingat tokoh yang berkesan. Karena itu, ciptakan karakter yang hidup, bukan sekadar “baik” atau “jahat”. Jika kamu merasa kesulitan, kamu bisa membangun tokoh dengan mengajukan pertanyaan.
Cobalah menjawab beberapa pertanyaan berikut.
- Apa tujuan hidup tokoh?
- Apa ketakutan terbesarnya?
- Apa kelebihan dan kekurangannya?
- Bagaimana cara dia berbicara?
- Apa yang membuatnya berbeda dari tokoh lain?
Karakter yang memiliki kepribadian, kelemahan, dan perkembangan akan terasa lebih manusiawi sehingga pembaca lebih mudah terhubung secara emosional.
6. Susun Outline atau Kerangka Cerita
Banyak penulis pemula berhenti di tengah jalan karena tidak tahu cerita akan dibawa ke mana. Di sinilah outline menjadi penyelamat. Outline tidak harus rumit. Kamu cukup menuliskan garis besar cerita, misalnya pembukaan, konflik awal, konflik utama, klimaks, dan penyelesaian.
Kalau ingin lebih rinci, kamu juga bisa membuat daftar isi sementara atau ringkasan setiap bab. Dengan adanya kerangka cerita, proses menulis lebih ringan karena kamu tidak perlu memikirkan semuanya sekaligus.
7. Tulis Bab Pertama yang Kuat
Bab pertama adalah kesempatan untuk menarik perhatian pembaca. Tidak harus langsung menghadirkan ledakan, pertarungan, atau plot twist besar. Yang lebih penting adalah membuat pembaca penasaran untuk membuka halaman berikutnya.
Kamu bisa memulai dengan sebuah konflik, dialog yang menarik, situasi yang unik, atau pertanyaan yang belum terjawab. Hindari terlalu banyak penjelasan di awal. Biarkan informasi penting muncul secara bertahap seiring berkembangnya cerita.
8. Selesaikan Draf Pertama Tanpa Terlalu Banyak Mengedit
Ini adalah kesalahan yang paling sering dilakukan penulis pemula. Baru menulis satu halaman, sudah menghapusnya lagi. Baru selesai satu bab, langsung sibuk memperbaiki setiap kalimat. Akibatnya, cerita tidak pernah selesai.
Ingat, tujuan draf pertama bukan menghasilkan novel yang sempurna, tetapi menghasilkan novel yang selesai. Kalau menemukan bagian yang kurang bagus, beri tanda lalu lanjutkan menulis. Revisi bisa dilakukan nanti setelah keseluruhan cerita selesai.
Banyak penulis profesional juga menghasilkan draf pertama yang masih berantakan. Itu adalah bagian normal dari proses kreatif.
9. Revisi dan Baca Ulang Naskah
Setelah draf pertama selesai, jangan langsung mengirimkannya ke penerbit. Istirahatkan naskah selama beberapa hari agar kamu bisa membacanya kembali dengan sudut pandang yang lebih segar.
Saat revisi, perhatikan beberapa hal berikut, Apakah alurnya sudah runtut? Apakah karakter berkembang secara konsisten? Apakah ada adegan yang tidak diperlukan? Apakah dialog terdengar alami? Atau apakah terdapat kesalahan ejaan atau tanda baca?
Kalau memungkinkan, mintalah teman atau beta reader membaca naskahmu. Sudut pandang orang lain sering kali membantu menemukan bagian yang luput dari perhatian penulis.
Lalu, Bagaimana Setelah Naskah Selesai?
Menyelesaikan novel memang sebuah pencapaian besar. Namun, sebenarnya itu baru awal dari perjalanan menjadi seorang penulis. Sebelum dikirim ke penerbit, naskah perlu dipersiapkan dengan baik agar memenuhi standar penerbitan.
Tahapan ini biasanya meliputi penyuntingan isi, penyuntingan bahasa, pengecekan konsistensi, penyesuaian format naskah, hingga memastikan cerita sudah benar-benar matang.
Banyak penulis pemula terburu-buru mengirimkan naskah begitu mengetik kata “Tamat”. Padahal, kualitas naskah yang rapi dan siap terbit akan meningkatkan peluang diterima oleh penerbit maupun mendapatkan respons positif dari pembaca.
Karena itu, jangan hanya fokus menyelesaikan cerita. Luangkan waktu untuk menyempurnakan naskah sebelum memasuki proses penerbitan. Anggap saja tahap ini sebagai jembatan yang mengubah sebuah draf menjadi karya yang benar-benar siap dibaca banyak orang.
Pada akhirnya, tidak ada novel yang lahir dalam semalam. Semua penulis memulai dari halaman kosong, menghadapi keraguan, lalu belajar sedikit demi sedikit hingga berhasil menyelesaikan ceritanya. Jadi, jangan menunggu merasa sempurna untuk mulai menulis.
Bukalah dokumen baru, tuliskan kalimat pertamamu, dan nikmati setiap prosesnya. Siapa tahu, novel yang hari ini masih berupa ide akan menjadi buku yang menginspirasi banyak pembaca di masa depan.
Kesimpulan
Menyelesaikan draf pertama adalah pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, perjalanan seorang penulis belum berhenti sampai di sana. Naskah masih perlu melalui proses penyempurnaan agar alurnya lebih rapi, karakter lebih konsisten, dan siap dibaca oleh orang lain maupun dikirim ke penerbit.
Kalau kamu ingin melanjutkan prosesnya, baca juga beberapa artikel berikut:
- Cara Membuat Naskah Novel agar Siap Dikirim ke Penerbit
Pelajari langkah-langkah menyempurnakan naskah, mulai dari proses revisi hingga hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum mengirimkannya ke penerbit. - Penerbit Novel di Indonesia: Kenali Jenis dan Ciri Terbaik
Kenali berbagai jenis penerbit novel di Indonesia agar kamu bisa menentukan pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhan naskahmu. - 9 Tips Menjadi Penulis Pemula yang Menghasilkan Karya
Temukan berbagai kebiasaan dan strategi yang dapat membantu kamu berkembang sebagai penulis sekaligus meningkatkan kualitas karya secara bertahap.
Semoga artikel dari Bukunesia ini bermanfaat bagi kamu yang sedang belajar cara menulis novel untuk pemula agar setiap ide yang dimiliki dapat berkembang menjadi naskah yang utuh dan menarik.
Referensi
Anderson, N. (2022). Creative writing: A workbook with readings (2nd ed.). Routledge.
King, S. (2000). On writing: A memoir of the craft. Scribner.
Morley, D. (2007). The Cambridge introduction to creative writing. Cambridge University Press.
Snyder, B. (2005). Save the cat!: The last book on screenwriting you’ll ever need. Michael Wiese Productions.
The University of North Carolina at Chapel Hill. (n.d.). The writing process. https://writingcenter.unc.edu/tips-and-tools/

