Bagaimana rasanya menjadi mahasiswa Indonesia yang menempuh studi teknologi nuklir di Rusia? Bagaimana perjuangan menembus persaingan ketat beasiswa internasional, sekaligus bertahan hidup di negeri bersuhu minus puluhan derajat? Semua kisah tersebut akan dibahas dalam acara Bedah Buku Di Bawah Reaktor Salju yang diselenggarakan oleh Bukunesia.
Acara ini berlangsung pada Sabtu, 11 Juli 2026 pukul 10.00 WIB di Pesona Merapi Yogyakarta sekaligus Live TikTok @bukunesiastore. Bedah buku menghadirkan langsung penulisnya, Winata Kusuma, yang akan mengajak peserta menyelami isi buku sekaligus berdiskusi mengenai teknologi nuklir dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan manusia.
Daftar Isi Artikel
Tentang Buku Di Bawah Reaktor Salju
Sekilas melihat judulnya Di Bawah Reaktor Salju banyak orang mungkin mengira buku ini penuh dengan rumus fisika atau pembahasan teknis mengenai reaktor nuklir. Padahal, buku ini mengajak pembaca melihat dunia nuklir dari sisi yang lebih humanis.
Melalui buku ini, Winata Kusuma membagikan perjalanan hidupnya sebagai seorang anak desa yang berhasil menembus Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN-BATAN) Yogyakarta pada tahun 2012, kemudian melanjutkan studi melalui Beasiswa Pemerintah Rusia di National Research Nuclear University MEPhI pada tahun 2019.
Dalam sesi bedah buku tersebut, penulis mengulas bagaimana teknologi nuklir sebenarnya memiliki manfaat besar bagi kehidupan manusia. Mulai dari bidang kesehatan, energi, hingga pengembangan teknologi masa depan. Jika ternyata nuklir bukan sebatas teknologi yang identik dengan bom atau bencana seperti yang sering digambarkan dalam film.
Tidak hanya itu, peserta juga diajak memahami berbagai cerita di balik kehidupan mahasiswa Indonesia di Rusia. Mulai dari tantangan akademik, perbedaan budaya, hingga perjuangan menghadapi cuaca ekstrem yang menjadi bagian dari perjalanan penulis selama menempuh pendidikan di negeri tersebut. Jadi buku ini memadupadankan kisah inspiratif dan wawasan tentang teknologi nuklir, sehingga muatannya lebih eksploratif.
Perjalanan Penulis di Balik Buku Ini
Winata Kusuma mengungkapkan bahwa proses penulisan manuskrip dimulai secara intensif pada awal tahun 2026 di Moskow. Proses penyusunan buku ini pun menghidupkan memori yang selama ini tersimpan rapi dalam ingatan. Ia harus kembali membuka pengalaman masa kecil yang penuh perjuangan, sembari tetap menyelesaikan tanggung jawab akademiknya pada semester akhir.
Ada banyak momen yang menjadi saksi lahirnya buku ini. Beberapa bab ditulis di sudut perpustakaan MEPhI setelah berjam-jam mengerjakan simulasi reaktor menggunakan kode GETERA-93 dan analisis bahan bakar MOX. Di tengah suhu musim dingin yang mencapai minus 35 derajat Celsius, tangan yang kaku karena udara dingin tetap berusaha menyelesaikan setiap paragraf yang penuh emosi.
Tidak berhenti sampai disitu, penulis tidak berhenti diam begitu saja. Dari dapur asrama lantai empat, di sela-sela menjalankan usaha ayam geprek untuk memenuhi kebutuhan hidup di tanah rantau, penulis menuangkan berbagai kenangan menjadi rangkaian kalimat. Bukan tanpa alasan, usaha ayam geprek ini ini lebih karena rindu kampung halaman, dan keluarga.
Perjalanan tersebut mencapai puncaknya ketika naskah selesai hampir bersamaan dengan keberhasilannya mempertahankan penelitian mengenai investigasi siklus bahan bakar nuklir di hadapan 15 profesor Rusia. Tentu saja ini momen kelulusan yang menggembirakan. Karena untuk bisa dititik ini, penulis tidaklah mudah.
Baca Juga: Bukunesia Hadir dalam Peluncuran dan Diskusi Tiga Buku Sastra
Tiga Motivasi di Balik Penulisan Buku
Dalam sesi bedah buku, Winata Kusuma juga berbagi alasan terdalam yang mendorongnya menulis Di Bawah Reaktor Salju. Menurutnya, seluruh perjalanan tersebut bermuara pada filosofi Jawa “Urip Iku Urup”, yang berarti hidup seharusnya menjadi nyala yang mampu menerangi sesama. Ia memiliki tiga motivasi besar, sebagai berikut.
Motivasi pertama adalah sebagai bentuk penghormatan kepada sang ibu. Buku ini menjadi persembahan atas setiap pengorbanan dan kerja keras seorang ibu yang berhasil mengantarkan anaknya dari sebuah dusun di Indonesia hingga menempuh pendidikan di Rusia. Jadi buku ini setiap lembarnya ungkapan terima kasih yang tidak dapat diwakili oleh kata-kata sederhana.
Motivasi kedua adalah memberikan semangat kepada generasi muda yang masih ragu untuk bermimpi. Penulis ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi maupun fasilitas bukanlah akhir dari perjalanan seseorang. Dengan strategi, kerja keras, dan keberanian mengambil peluang, mimpi besar tetap bisa diwujudkan.
Sementara itu, motivasi ketiga berkaitan dengan diplomasi nuklir Indonesia. Selama ini teknologi nuklir kerap dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Melalui buku ini, penulis ingin memperkenalkan sisi lain dari teknologi tersebut, yaitu sebagai ilmu pengetahuan yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, energi, pertanian, hingga pembangunan masa depan apabila dimanfaatkan secara damai dan bertanggung jawab.
Antusiasme Peserta Bedah Buku
Bedah buku ini menjadi kesempatan menarik bagi rekan-rekan penulis sekaligus juniornya yang ingin mengenal dunia nuklir dari perspektif yang lebih dekat dan membumi.
Peserta tidak hanya memperoleh insight mengenai isi buku Di Bawah Reaktor Salju, tetapi juga berkesempatan mengikuti sesi tanya jawab langsung bersama penulis. Diskusi akan membahas perjalanan meraih beasiswa luar negeri, pengalaman kuliah di Rusia, proses kreatif menulis buku, hingga bagaimana teknologi nuklir dapat dipahami secara lebih objektif.
Melalui kegiatan ini, Bukunesia berharap semakin banyak generasi muda yang berani bermimpi, berani berkarya, dan tidak takut mengeksplorasi bidang ilmu yang selama ini dianggap sulit atau jauh dari kehidupan sehari-hari. Sebab, seperti pesan yang ingin disampaikan Winata Kusuma melalui bukunya, mimpi besar selalu berawal dari keberanian untuk melangkah.
Semoga artikel dari Bukunesia ini bermanfaat untuk memberikan gambaran tentang bedah buku Di Bawah Reaktor Salju, sehingga kamu bisa mengenal lebih dekat perjalanan penulis dan pesan yang ingin disampaikan melalui karyanya.
