Bukunesia Hadir dalam Peluncuran dan Diskusi Tiga Buku Sastra

diskusi tiga buku sastra
Bagaimana sebuah buku sastra lahir dan dibahas? Simak diskusi tiga buku sastra yang mempertemukan penulis, akademisi, dan pegiat literasi

Jakarta, 24 Juni 2026 – Bukunesia kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung perkembangan sastra Indonesia melalui partisipasinya dalam kegiatan Peluncuran dan Diskusi Tiga Buku Sastra yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bekerja sama dengan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HSBI), dan Lembaga Seni Budaya Perempuan Indonesia (LSBPI).

Bertempat di Aula Balai Sastra Lantai 4 PDS H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, kegiatan ini menjadi ruang temu bagi akademisi, mahasiswa, penulis, penyair, pegiat literasi, dan masyarakat umum untuk merayakan lahirnya karya-karya sastra baru sekaligus memperkuat budaya literasi di Indonesia.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan perubahan pola konsumsi bacaan, kegiatan sastra seperti ini menjadi momentum penting untuk terus menumbuhkan minat membaca, menulis, dan berdialog.

Acara ini dihadiri mulai dari perguruan tinggi, komunitas sastra, penerbit, hingga masyarakat umum. Melalui kolaborasi lintas lembaga, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang peluncuran buku, tetapi juga menjadi wadah bertemunya gagasan, pengalaman kreatif, dan semangat untuk terus merawat tradisi literasi.

Peluncuran Tiga Buku Sastra Karya Helvy Tiana Rosa Dkk

Agenda utama kegiatan ini adalah peluncuran tiga buku sastra yang diterbitkan oleh tiga penerbit berbeda. Ketiga buku tersebut merepresentasikan kekayaan genre sastra Indonesia, mulai dari cerpen, puisi, hingga buku referensi mengenai seni perpuisian.

Buku pertama adalah Gaza: Sunyi Malam di Jakarta, kumpulan cerpen karya Helvy Tiana Rosa yang diterbitkan oleh Penerbit Obor. Buku ini mengangkat tema kemanusiaan, empati, dan solidaritas terhadap Palestina. Kisah-kisah di dalamnya tidak hanya berbicara mengenai konflik, tetapi juga menghadirkan refleksi tentang harapan, keteguhan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.

Buku kedua adalah Kota-Kota yang Tertidur di Pangkuan Rindu, kumpulan puisi karya Helvy Tiana Rosa yang diterbitkan oleh Bukunesia. Puisi ini merekam perjalanan batin, kerinduan, serta pengalaman manusia yang disampaikan melalui bahasa yang puitis dan reflektif. Melalui kumpulan puisi ini, pembaca diajak menyelami berbagai peristiwa kehidupan dari sudut pandang yang lebih kontemplatif sekaligus menemukan makna-makna yang dekat dengan pengalaman sehari-hari.

banner ebook menulis gratis juni

Sementara itu, buku ketiga berjudul Berpuisi Sampai Mati: Seni Menulis, Membaca, dan Menghidupkan Puisi diterbitkan oleh Dunia Dosen. Buku ini ditulis oleh Dr. Helvy Tiana Rosa, S.S., M.Hum., Dr. Rahmi Yulia Ningsih, S.Pd., M.Pd., dan Ayu Puspa Nanda, S.Pd., M.Pd. Berbeda dengan dua buku sebelumnya yang merupakan karya sastra, buku ini sebagai referensi yang mengulas proses kreatif dalam menulis puisi, teknik membaca puisi secara ekspresif, hingga berbagai pendekatan dalam menghidupkan puisi sebagai bagian dari kehidupan berkesenian dan pendidikan.

Peluncuran ketiga buku tersebut ditandai dengan penyerahan simbolis buku dari masing-masing penerbit kepada para penulis. Prosesi ini menjadi bentuk apresiasi terhadap perjalanan kreatif para penulis sekaligus menandai hadirnya karya-karya baru yang diharapkan dapat memperkaya khazanah sastra Indonesia.

Kehadiran tiga penerbit dalam satu panggung juga menunjukkan bahwa kolaborasi merupakan salah satu kekuatan penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap buku-buku berkualitas.

Diskusi Sastra Bersama Para Akademisi san Pegiat Sastra

Setelah prosesi peluncuran, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan bedah buku yang menghadirkan Dr. Rahmi Yulia Ningsih, Maman S. Mahayana, dan Rahmadiyanti Rusdi sebagai narasumber, dengan Ayu Puspa Nanda bertindak sebagai moderator.

Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Para narasumber membahas berbagai aspek yang melatarbelakangi lahirnya ketiga buku, mulai dari proses kreatif penulisan, karakteristik masing-masing karya, hingga relevansinya dengan perkembangan sastra Indonesia saat ini.

Tidak hanya mengulas isi buku, forum ini juga membuka ruang dialog mengenai tantangan dunia literasi di era digital, pentingnya menjaga tradisi membaca, serta peran sastra sebagai media untuk membangun empati, memperluas perspektif, dan merekam dinamika kehidupan masyarakat.

Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan sepanjang sesi diskusi. Mahasiswa, dosen, penulis muda, hingga pegiat literasi memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog secara langsung dengan para narasumber. Suasana yang terbuka dan komunikatif menjadikan forum ini tidak sekadar bedah buku, tetapi juga ruang belajar bersama yang mempertemukan pengalaman akademik dengan praktik kepenulisan.

Pembacaan Puisi dari Podium Perempuan Penyair Indonesia

Nuansa sastra semakin terasa melalui sesi pembacaan puisi yang dibawakan oleh Podium Perempuan Penyair Indonesia. Penampilan D. Kemalawati, Fatin Hamama, Helvy Tiana Rosa, dan Devie Matahari menghidupkan suasana lebih ekspresif, mereka hadir untuk memperlihatkan bahwa puisi tidak hanya hidup di dalam halaman buku, tetapi juga memberikan maknanya ketika puisi tersebut dibacakan di hadapan publik. Pastinya, bagi pecinta sastra, menikmati ambiance seperti ini.

Pembacaan puisi sebagai penutup acara. Meskipun demikian pembacaan puisi inilah yang justru menguatkan semangat kegiatan event ini, sekaligus menunjukkan bagaimana sastra mampu membangun kedekatan emosional antara penyair, karya, dan pembacanya.

Bukunesia Berkomitmen Mendukung Ekosistem Literasi Indonesia

Keikutsertaan Bukunesia dalam kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung perkembangan literasi dan industri perbukuan nasional. Sebagai penerbit independen, Bukunesia terus membuka ruang bagi lahirnya karya-karya berkualitas dari berbagai penulis Indonesia, baik yang telah dikenal luas maupun penulis baru yang memiliki potensi.

Melalui penerbitan Kota-Kota yang Tertidur di Pangkuan Rindu serta kolaborasi dalam berbagai kegiatan literasi, Bukunesia berharap dapat menghadirkan lebih banyak karya yang mampu memperkaya khazanah sastra Indonesia sekaligus mendekatkan buku kepada masyarakat.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas sastra, lembaga budaya, dan penerbit seperti yang terwujud dalam kegiatan ini menjadi bukti bahwa penguatan ekosistem literasi membutuhkan sinergi dari berbagai pihak. Bukunesia percaya bahwa buku bukan sekadar produk penerbitan, melainkan sebagai sarana untuk menghubungkan penulis dengan pembaca, gagasan dengan masyarakat, serta budaya dengan generasi masa depan.

Semoga artikel dari Bukunesia ini bermanfaat untuk memberikan gambaran tentang diskusi tiga buku sastra dan menginspirasi kamu untuk lebih mengenal karya, gagasan, serta perjalanan para penulis.

banner pod cetak reguler juni

UDAH MULAI NULIS, TAPI BINGUNG GIMANA LANJUTINNYA?

Ebook gratis ini akan membantu kamu menulis dan melanjutkan naskah yang sudah kamu mulai, baik buku novel, biografi, quotes, fiksi, dan nonfiksi dengan lebih mudah. Dilengkapi panduan serta tips praktis agar proses menulismu lebih terarah hingga bisa diselesaikan.

Bagikan Artikel Ini
WhatsApp
Threads
X
Facebook
LinkedIn