Menyelesaikan sebuah naskah adalah pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, bagi banyak penulis, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah naskah selesai ditulis, yaitu saat mengirimkannya ke penerbit. Tidak sedikit penulis yang merasa kecewa karena naskahnya ditolak, padahal mereka yakin isi bukunya sudah menarik dan bermanfaat.
Padahal, keputusan penerbit menerima atau menolak sebuah naskah tidak hanya didasarkan pada kualitas tulisan. Ada banyak aspek lain yang menjadi pertimbangan editor, mulai dari kesesuaian tema, potensi pasar, hingga kelengkapan dokumen pendukung.
Jika kamu sedang mempersiapkan naskah untuk dikirim ke penerbit, memahami proses kurasi akan membantu meningkatkan peluang naskah diterima. Berikut beberapa hal yang perlu diketahui.
Daftar Isi Artikel
Kenapa Naskah Bagus Pun Bisa Ditolak Penerbit?
Banyak penulis menganggap bahwa naskah yang ditolak berarti kualitas tulisannya buruk. Faktanya, tidak selalu demikian. Dalam dunia penerbitan, editor tidak hanya menilai apakah sebuah naskah ditulis dengan baik, tetapi juga mempertimbangkan apakah naskah tersebut sesuai dengan visi penerbit dan memiliki peluang untuk diterbitkan secara berkelanjutan.
Adapun beberapa alasan umum mengapa naskah yang baik tetap ditolak antara lain tema tidak sesuai dengan fokus penerbit, dan topik sudah terlalu banyak beredar di pasaran tanpa menawarkan sudut pandang baru.
Adapun alasan lain, bisa karena target pembaca belum jelas, struktur penulisan masih memerlukan banyak penyuntingan dan bisa juga karena sinopsis dan proposal naskah kurang mampu menjelaskan nilai jual buku. Bahkan masalah jadwal penerbitan sedang penuh atau prioritas penerbit sedang berubah bisa menjadi alasan.
Artinya, penolakan tidak berarti naskah kamu tidak layak. Dalam banyak kasus, naskah hanya belum menemukan penerbit yang paling sesuai.
Apa yang Sebenarnya Dinilai Editor Saat Kurasi
Sebelum memutuskan menerima sebuah naskah, editor biasanya melakukan proses kurasi. Tahapan ini bertujuan untuk menilai apakah naskah memiliki kualitas sekaligus peluang untuk diterbitkan. Beberapa aspek yang umumnya menjadi perhatian editor antara lain.
1. Orisinalitas Ide
Editor akan melihat apakah naskah menawarkan gagasan baru, sudut pandang berbeda, atau cara penyampaian yang lebih menarik dibandingkan buku sejenis.
Rata-rata penerbit mayor kurang melirik naskah yang dibahas dari sudut pandang yang begitu-begitu saja. Oleh karena itu, ide original perlu kamu garis bawahi, jika buku kamu ingin lolos.
2. Kesesuaian Target Pembaca
Naskah yang baik memiliki sasaran pembaca yang jelas. Buku untuk remaja tentu memiliki gaya bahasa yang berbeda dengan buku profesional atau akademik. Nah, di sini kamu harus jeli melihat karakter penerbit buku. Ketika kamu mengetahui karakter penerbit buku, setidaknya kamu jadi tahu target pembaca mereka seperti apa.
3. Struktur Isi
Alur pembahasan harus runtut, logis, dan mudah dipahami. Untuk buku nonfiksi, sistematika menjadi salah satu aspek penting dalam proses penilaian. Pastikan struktur isi yang kamu kemas menarik, tersistematis.
4. Kualitas Bahasa
Editor tidak mengharapkan naskah yang sempurna, tetapi mereka menginginkan tulisan yang komunikatif, konsisten, serta mudah disunting. Nah, biasanya editor buku bisa melihat mana buku yang sudah menjadi karakter bahasa si penulis, dan mana penulis yang mengimitasi gaya bahasa penulis lain.
5. Potensi Pasar
Selain kualitas isi, penerbit juga mempertimbangkan apakah buku tersebut memiliki peluang diminati pembaca. Aspek ini penting agar proses penerbitan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Jadi saat menulis, kamu perlu memikirkan potensi buku yang kamu buat apakah berpeluang, atau tidak. Karena namannya bisnis, perusahaan pasti mempertimbangkan untung rugi.
Cara Meningkatkan Peluang Naskah Diterima
Meskipun tidak ada jaminan sebuah naskah pasti diterima, beberapa langkah berikut dapat meningkatkan peluang Anda.
1. Pelajari Karakter Penerbit
Sebelum mengirim naskah, cari tahu jenis buku yang biasa diterbitkan. Hindari mengirim novel ke penerbit yang fokus pada buku akademik, atau sebaliknya.
Bisa jadi buku kamu ditolak karena tidak sesuai dengan karakternya. Jadi penting buat kamu untuk mempelajari katalog penerbit, agar bisa menyesuaikan segmentasi yang mereka inginkan.
2. Tentukan Target Pembaca Secara Spesifik
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan penulis adalah menulis untuk “semua orang”. Padahal, editor lebih mudah menilai potensi sebuah buku ketika target pembacanya jelas, misalnya mahasiswa, guru, pelaku UMKM, orang tua muda, atau penulis pemula. Semakin spesifik target pembaca, semakin mudah penerbit memetakan strategi pemasaran buku tersebut.
3. Susun Sinopsis yang Kuat
Penting juga buat kamu untuk menyusun sinopsis yang kuat dan menarik. Jadi sinopsis bukan bukan sebatas ringkasan buku. Sebaliknya, sinopsis bisa kamu jadikan salah satu bahan pertimbangan pertama yang dibaca editor.
Adapun sinopsis yang baik adalah sinopsis yang mampu menjelaskan masalah yang diangkat, mencantumkan solusi yang ditawarkan, dan memberikan manfaat bagi pembaca, serta menonjolkan keunikan dibanding buku lain.
4. Perbaiki Struktur Naskah
Sebelum dikirim, baca kembali keseluruhan isi naskah, ini hal yang paling penting. Kamu perlu memastikan bahwa setiap bab memiliki hubungan yang logis, tidak ada pembahasan yang berulang, dan alur penyampaian mengalir dengan baik. Untuk buku nonfiksi, gunakan heading dan subheading yang konsisten agar isi mudah dipahami.
5. Lakukan Self-Editing
Self-editing merupakan tahap yang sering diabaikan penulis. Jika kamu ingin naskah kamu diterima penerbit, harus bisa melawan rasa malas itu dan tetap lakukan self-editing.
Kamu boleh memeriksa kembali ejaan, tanda baca, konsistensi istilah, serta kalimat yang terlalu panjang atau bertele-tele. Naskah yang bersih menunjukkan profesionalisme penulis dan memudahkan editor melakukan evaluasi.
6. Ikuti Panduan Pengiriman Naskah
Setiap penerbit memiliki ketentuan yang berbeda mengenai format naskah, panjang tulisan, dokumen pendukung, maupun cara pengiriman. Ketika kamu mengabaikan panduan tersebut dapat membuat naskah tidak diproses, meskipun isinya sebenarnya berkualitas. Oleh karena itu, penting buat kamu untuk selalu membaca syarat pengiriman sebelum mengirimkan naskah.
7. Minta Masukan Sebelum Mengirim
Jika perlu, kamu bisa meminta bantuan ke teman, mentor, atau sesama penulis untuk membaca naskah kamu terlebih dahulu. Kenapa demikian, karena seringkali sudut pandang orang lain lebih objektif dan efektif membantu penulis menemukan bagian yang kurang jelas atau masih membutuhkan perbaikan.
Proses umpan balik seperti ini dapat meningkatkan kualitas naskah secara signifikan sebelum masuk ke meja editor penerbit.
Bagaimana Jika Naskah Tetap Ditolak?
Menerima penolakan memang tidak menyenangkan, tetapi hampir semua penulis pernah mengalaminya. Bahkan banyak penulis terkenal yang harus mengirim naskah ke berbagai penerbit sebelum akhirnya berhasil diterbitkan. Yang terpenting adalah menjadikan penolakan sebagai bahan evaluasi, bukan alasan untuk berhenti menulis.
Jika memungkinkan, pelajari kembali alasan penolakan yang diberikan editor. Masukan tersebut dapat menjadi dasar untuk memperbaiki struktur, memperjelas target pembaca, atau memperkuat nilai jual buku.
Apabila kamu masih merasa kesulitan, mengikuti proses menulis yang lebih terarah juga bisa menjadi pilihan. Saat ini banyak penerbit menyediakan layanan pendampingan, mulai dari konsultasi ide, penyusunan outline, penyuntingan, hingga evaluasi naskah sebelum diajukan untuk diterbitkan.
Pendampingan seperti ini tidak menjamin naskah pasti diterima, tetapi dapat membantu penulis memahami standar penerbitan dan mengurangi kesalahan-kesalahan mendasar yang sering menjadi penyebab penolakan.
Jadi, peluang sebuah naskah diterima bukan hanya ditentukan oleh bakat menulis, melainkan juga oleh kesiapan penulis dalam memahami proses penerbitan. Dengan terus memperbaiki kualitas naskah, mengikuti panduan penerbit, dan terbuka terhadap masukan, kesempatan untuk melihat karya kamu terbit akan semakin besar.
Jika kamu sedang mempersiapkan naskah pertama, jangan terburu-buru mengirimkannya. Luangkan waktu untuk melakukan evaluasi, revisi, dan bila perlu berdiskusi dengan editor atau tim penerbit. Proses yang lebih terarah akan membantu naskah tampil lebih matang sekaligus meningkatkan peluangnya untuk lolos dalam proses kurasi.
Kesimpulan
Cara agar naskah diterima penerbit tidak hanya bergantung pada kualitas tulisan, tetapi juga pada kesiapan naskah dalam memenuhi standar yang dicari editor. Dengan memahami proses kurasi, menyesuaikan naskah dengan karakter penerbit, serta melakukan evaluasi sebelum mengirimkan naskah, peluang untuk lolos seleksi tentu akan semakin besar.
Namun, mempersiapkan naskah hanyalah salah satu tahapan dalam proses penerbitan buku. Setelah naskah siap, pastikan kamu juga memahami cara pengiriman yang benar dan memenuhi persyaratan yang ditentukan penerbit agar proses pengajuan berjalan lebih lancar.
Kalau kamu ingin mempelajari tahapan selanjutnya sebelum atau saat mengirimkan naskah ke penerbit, baca juga artikel berikut:
- 7 Cara Mengirim Naskah Buku dan Kesalahan yang Perlu Dihindari
- Format Pengiriman Naskah Novel ke Penerbit yang Benar
- 7 Penerbit yang Menerima Naskah Pemula
Semoga artikel dari Bukunesia ini bermanfaat dan bisa membantu kamu memahami cara agar naskah diterima penerbit. Terus perbaiki kualitas naskah, jangan ragu menerima masukan, dan semoga karya terbaikmu segera menemukan penerbit yang tepat.
Referensi
Clark, R., & Phillips, A. (2019). Inside Book Publishing (6th ed.). Routledge.
Chicago Manual of Style. (2017). The Chicago Manual of Style (17th ed.). University of Chicago Press.
King, S. (2000). On Writing: A Memoir of the Craft. Scribner.
Strunk, W., Jr., & White, E. B. (2000). The Elements of Style (4th ed.). Longman.
Zinsser, W. (2006). On Writing Well: The Classic Guide to Writing Nonfiction (30th Anniversary ed.). HarperCollins.

