Banyak orang ingin menjadi penulis, tetapi tidak sedikit yang berhenti bahkan sebelum benar-benar memulai. Rasa ragu, takut salah, dan bingung harus melangkah dari mana sering menjadi penghalang terbesar di tahap awal.
Padahal, setiap penulis hebat pernah berada di posisi yang sama: sebagai penulis pemula yang belajar melalui proses coba-salah.
Artikel ini akan mengulas secara lengkap pengertian penulis pemula, kesalahan yang paling sering terjadi, serta langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan agar perjalanan menulis terasa lebih terarah dan berkelanjutan.
Daftar Isi Artikel
Pengertian Penulis Pemula
Penulis pemula adalah seseorang yang sedang berada di tahap awal perjalanan menulis, ketika ide, rasa ingin bercerita, dan keinginan untuk belajar masih berjalan beriringan dengan keraguan dan proses coba-salah.
Pada fase ini, penulis biasanya masih mencari gaya menulis yang paling nyaman, belajar menyusun gagasan agar runtut, serta membiasakan diri menulis secara konsisten.
Menurut Writer’s Digest (2020), penulis pemula bukan diukur dari seberapa sempurna tulisannya, melainkan dari kemauannya untuk terus berlatih, menerima masukan, dan berkembang melalui proses menulis yang berulang, karena keterampilan menulis lahir dari pengalaman, bukan bakat instan.
Baca Juga: Materi Kepenulisan Untuk Pemula: 7 Materi Dasar
Kesalahan Penulis Pemula
Menjadi penulis pemula adalah proses belajar yang wajar dipenuhi kesalahan. Banyak orang berhenti menulis bukan karena tidak berbakat, tetapi karena terjebak pada pola yang salah sejak awal. Padahal, kesalahan dalam menulis bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dipahami dan diperbaiki.
Dengan mengenali kesalahan umum penulis pemula, kamu bisa menghindarinya dan berkembang lebih cepat. Berikut lima kesalahan penulis pemula yang paling sering terjadi.
1. Terlalu Takut Salah dan Menunggu Sempurna
Kesalahan paling umum penulis pemula adalah menunggu tulisan terasa sempurna sebelum dipublikasikan. Akibatnya, banyak tulisan tidak pernah selesai atau hanya tersimpan sebagai draf.
Padahal, hampir semua penulis profesional sepakat bahwa tulisan yang baik lahir dari proses revisi, bukan dari draf pertama. Perfeksionisme justru membuat penulis sulit berkembang karena takut memulai dan takut dinilai.
2. Jarang Menulis, Terlalu Banyak Berpikir
Banyak penulis pemula menghabiskan waktu terlalu lama untuk memikirkan ide, tetapi sangat sedikit waktu untuk menulis. Menurut Writer’s Digest, kemampuan menulis berkembang melalui praktik, bukan hanya teori.
Menulis secara rutin, meskipun singkat, jauh lebih efektif daripada menunggu ide besar yang belum tentu datang. Kebiasaan ini sering membuat penulis pemula merasa tidak berkembang karena minim latihan nyata.
3. Tidak Mengenal Target Pembaca
Kesalahan berikutnya adalah menulis tanpa memahami siapa pembaca yang dituju. Tulisan menjadi terlalu umum, tidak fokus, dan sulit terhubung dengan audiens.
Dalam penulisan digital dan konten SEO, mengenal target pembaca sangat penting agar bahasa, gaya, dan sudut pandang tulisan terasa relevan. Tanpa pemahaman ini, tulisan cenderung kehilangan arah dan kurang menarik perhatian.
4. Mengabaikan Struktur dan Alur Tulisan
Penulis pemula sering menulis secara spontan tanpa memperhatikan struktur. Akibatnya, tulisan terasa berantakan, ide meloncat-loncat, dan sulit dipahami pembaca. Padahal, struktur sederhana seperti pembuka, isi, dan penutup sudah cukup untuk membuat tulisan lebih rapi.
Menurut Harvard Business Review, struktur yang jelas membantu pembaca menangkap pesan dengan lebih cepat dan efektif.
5. Menolak Kritik dan Masukan
Kesalahan terakhir yang sering terjadi adalah menutup diri terhadap kritik. Beberapa penulis pemula menganggap kritik sebagai serangan pribadi, bukan sebagai masukan. Padahal, umpan balik dari pembaca, editor, atau sesama penulis sangat penting untuk meningkatkan kualitas tulisan.
Penulis yang mau belajar dari kritik cenderung berkembang lebih cepat dibanding yang bertahan pada zona nyaman.
Baca Juga: 10 Kesalahan Umum Penulis Pemula dan Cara Menghindarinya
Cara Menjadi Penulis Pemula
Menjadi penulis pemula sering kali terasa membingungkan. Banyak orang ingin menulis, tetapi terhenti oleh rasa ragu, takut salah, atau bingung harus mulai dari mana. Padahal, menulis adalah keterampilan yang bisa dilatih secara bertahap.
Tidak harus langsung sempurna, yang terpenting adalah memulai dan konsisten. Berikut tujuh cara menjadi penulis pemula yang realistis, mudah diterapkan, dan relevan untuk pemula di era digital.
1. Tentukan Alasan dan Tujuan Menulis
Langkah awal menjadi penulis pemula adalah memahami alasan mengapa kamu ingin menulis. Apakah untuk menyalurkan hobi, membangun personal branding, berbagi pengetahuan, atau mencari penghasilan?
Tujuan yang jelas akan membantu kamu tetap termotivasi dan tidak mudah berhenti di tengah jalan. Penelitian tentang kebiasaan menulis menunjukkan bahwa penulis yang memiliki tujuan personal cenderung lebih konsisten dalam berkarya.
2. Mulai dari Topik yang Kamu Kuasai atau Sukai
Penulis pemula tidak perlu langsung menulis topik yang berat. Mulailah dari hal-hal yang dekat dengan kehidupanmu, seperti pengalaman pribadi, hobi, opini, atau pengetahuan sederhana yang kamu pahami.
Menulis dari topik yang disukai membuat proses menulis terasa lebih ringan dan mengalir. Selain itu, pembaca juga cenderung lebih tertarik pada tulisan yang terasa jujur dan autentik.
3. Biasakan Menulis Secara Rutin
Kunci utama menjadi penulis adalah latihan yang konsisten. Kamu tidak harus menulis panjang setiap hari. Cukup 300–500 kata secara rutin sudah sangat membantu membangun kebiasaan.
Menurut Harvard Business Review, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten jauh lebih efektif dibanding target besar yang jarang tercapai. Konsistensi akan melatih alur berpikir dan meningkatkan kepercayaan diri dalam menulis.
4. Jangan Terjebak Perfeksionisme
Banyak penulis pemula berhenti karena ingin tulisannya langsung sempurna. Padahal, tulisan yang baik hampir selalu melalui proses revisi.
Fokuslah untuk menyelesaikan tulisan terlebih dahulu, bukan membuatnya sempurna sejak awal. Editor profesional pun menekankan bahwa draf pertama memang bertugas untuk “ada”, bukan untuk “sempurna”.
5. Perbanyak Membaca untuk Memperkaya Gaya Menulis
Membaca adalah bagian penting dari proses menulis. Dengan membaca buku, artikel, atau karya penulis lain, kamu akan belajar struktur tulisan, pilihan kata, dan cara menyampaikan ide secara efektif.
Stephen King bahkan menyebutkan bahwa penulis yang jarang membaca hampir tidak mungkin menjadi penulis yang baik. Membaca membantu memperluas sudut pandang dan memperkaya kosakata.
Baca Juga: Ciri-Ciri Penulis yang Baik dan Sukses, Ini Rahasianya!
6. Gunakan Platform Digital untuk Berlatih dan Publikasi
Di era digital, penulis pemula memiliki banyak ruang untuk berlatih dan mempublikasikan karya. Blog pribadi, Medium, Wattpad, atau media sosial bisa menjadi tempat belajar sekaligus membangun audiens.
Platform ini juga memungkinkan kamu mendapatkan umpan balik dari pembaca, yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas tulisan secara bertahap.
7. Terbuka pada Kritik dan Terus Belajar
Kritik sering kali terasa tidak nyaman, tetapi sangat berharga bagi penulis pemula. Dengan menerima masukan, kamu bisa melihat kelemahan tulisan dan memperbaikinya. Selain itu, ikuti kelas menulis, webinar, atau komunitas kepenulisan untuk memperluas wawasan.
Menurut Writer’s Digest, penulis yang aktif belajar dan berjejaring cenderung berkembang lebih cepat dibanding yang berjalan sendiri.
Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa menjadi penulis pemula bukan tentang seberapa cepat kamu menjadi mahir, melainkan seberapa mau kamu bertahan dalam proses belajar. Kesalahan adalah bagian alami dari perjalanan, dan konsistensi adalah kunci utama untuk berkembang.
Selama kamu terus menulis, terbuka pada masukan, dan berani memperbaiki diri, langkah kecil hari ini bisa menjadi fondasi kuat bagi perjalanan menulis yang lebih panjang dan bermakna di masa depan.
Jika kamu penulis pemula yang ingin melangkah lebih jauh dari sekadar menulis, Bukunesia menghadirkan Layanan Collaborative Publishing yang mendampingi proses penerbitan secara kolaboratif, dengan editor profesional sejak awal, serta strategi agar bukumu siap masuk pasar.
Semoga artikel dari Bukunesia ini bermanfaat bagi siapa pun yang sedang belajar cara menjadi penulis pemula agar terus berkembang.
Referensi
Harvard Business Review. (2018). How small habits make a big difference. https://hbr.org
King, S. (2000). On writing: A memoir of the craft. Scribner.
Writer’s Digest. (2020). How to become a writer: Step-by-step guide. https://www.writersdigest.com
Medium. (n.d.). Why writing every day matters. https://medium.com
Wattpad. (n.d.). Tips for new writers on Wattpad. https://www.wattpad.com

