9 Cara Menulis Cerita Anak yang Menarik

menulis cerita anak

Menulis cerita anak harus mengetahui sembilan poin penting ini supaya tulisan tidak sekedar ditulis, tetapi juga disukai oleh anak, dicari oleh orang tua dan menghasilkan pendapatan buat kamu.

Terutama buat calon penulis pemula. Kesalahan umum bagi penulis pemula asal menulis cerita anak, tanpa memperhatikan sembilan poin di bawah. 

Dampaknya, karya tidak ada yang melirik. Saat karya ditawarkan ke penerbit, tidak ada yang tertarik menerbitkan.

Maka dari itu, untuk menghindari permasalahan seperti itu, kamu wajib tahu persiapan apa saja yang harus diperhatikan sebelum menulis cerita anak. Langsung saja simak ulasan lengkapnya berikut ini. 

1. Ketahui Sasaran Pembaca

Poin yang pertama yang harus diperhatikan saat menulis cerita anak adalah, memperhatikan sasaran pembaca. karena konteksnya cerita anak, maka kamu perlu tahu sasaran pembaca anak. Ada kategori anak pra sekolah, anak anak usia sekolah. 

Dikatakan sebagai anak ra sekolah adalah kelompok anak yang berusia antara 5 sampai 6 tahun. Sedangkan anak usia sekolah adalah kelompok usia 6 tahun sampai 18 tahun. Sementara anak yang masih berusia 1 tahun hingga 5 tahun masuk ke dalam kategori balita. 

Nah, sebagai penulis cerita anak harus mengetahui kategorisasi ini. Tujuannya untuk memilih diksi atau gaya bahasa yang pas dan sesuai dengan perkembangan mereka. Termasuk juga membantu mengangkat tema yang sesuai dengan tahapan usia dan dunia mereka.

Bagaimana cara mengetahui target pembaca yang benar? Yuk pahami pada menentukan sasaran pembaca.

2. Pilih Tema

Menulis cerita anak perlu juga memperhatikan kesesuaian tema. Jika cerita diperuntukan untuk anak-anak, lantas kamu mengambil tema tentang perang dunia. Seperti itu hal yang sulit diterima untuk mereka. 

Anak akan lebih senang dengan tema ceria, kental akan dunia imajinasi, dan penuh dengan warna-warni. Itu sebabnya, tema menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pembaca, yang perlu diperhatikan penulis. Terutama buat penulis yang ingin karyanya diterima oleh pasar. 

Lantas, bagaimana memilih tema agar saat membuat cerita anak menarik? 

Kamu bisa mengangkat beberapa tema, seperti mengangkat tema persahabatan, mengangkat tema keberanian atau bisa juga mengangkat tema lain seperti impian, kemarahan, kesedihan, kemanusiaan, dan kepedulian dengan hewan-hewan yang sering ditemukan di sekeliling anak-anak.

3. Menulis Cerita

Saat menulis cerita anak, ada yang special. Kenapa special? Karena penyampaian cerita dibatasi. HIndari penulisan yang ruwet. Justru tulislah cerita secara simpel-simpel. Cara simpel cara yang efektif agar pembaca menangkap dan memahami apa yang disampaikan penulis. 

Menulis cerita anak berbeda dengan menulis cerita pada remaja ataupun pada orang-orang dewasa. Anak-anak tidak membutuhkan alasan mendetail dan terlalu dalam. Apalagi jika target pembaca adalah anak-anak usia 1-5 tahun, penulis harus bisa mengemas tulisan lebih sederhana.

4. Perhatikan Kesopanan

Saat menulis cerita anak, perhatikan kesopanan. Kesopanan menjadi unsur paling penting bagi penulis. Pasalnya buku bacaan yang kita tulis adalah tempat mereka belajar secara tidak langsung. Termasuk belajar tentang kesopanan. 

Jangkauan kesopanan dalam hal ini bisa memuat banyak hal. Sopan dalam berbicara, sopan dalam bersikap dan sopan dalam berperilaku. Cara yang dapat disampaikan penulis dengan menjadikan tokoh utama dalam cerita sebagai objek. 

Misalnya, si tokoh yang tidak bersikap sopan, dampaknya akan tidak disenangi dan dijauhi oleh teman-teman, kena omel dan masih banyak lagi yang bisa disampaikan. Nah, dibagian ini dikembalikan lagi kepada si penulis, dalam mengkreasikan. 

5. Bahasa yang Mudah

Salah satu trik menulis cerita anak agar dapat diterima oleh pembaca adalah, gunakan bahasa yang mudah. Jika masih merasa kesulitan dan bingung bagaimana menggunakan bahasa yang mudah, kamu bisa menggunakan bahasa aktif, yang terdiri dari Subjek, Predikat, Objek dan Keterangan (SPOK). 

Gunakan kosakata umum yang memang dipahami oleh usia anak-anak. Jika kamu menulis cerita anak untuk usia 1-5 tahun, maka kamu menggunakan bahasa umumnya mereka. Hindari penulisan bahasa yang tidak lazim, apalagi menggunakan ilmiah. 

Agar lebih tepat sasaran, tidak ada salahnya sebelum menulis kamu melakukan survey pasar terlebih dahulu.  Kamu bisa melakukan pengamatan buku-buku untuk anak-anak. Survey pasar terkait penggunaan bahasa yang digunakan jauh lebih efektif dan membantu banyak hal. 

Misalnya, semakin tinggi permintaan pasar, nama kamu semakin dikenal oleh pembaca dan masih tidak menutup kemungkinan kamu akan di contact penerbit untuk menulis cerita anak lagi. 

6. Gambar Menjadi Unsur Penting

Menguasai pemilihan tema cerita anak, pintar menyampaikan tulisan dalam sebuah kata-kata yang mudah dipahami anak-anak saja tidak cukup. Di dalam buku yang kamu tulis, juga perlu menyertakan unsur gambar. 

Sertakan gambar semenarik mungkin. Misalnya gambar kartun, gambar buah-buahan atau apapun itu gambar. Agar semakin menarik lagi, buatlah gambar yang colorfull atau berwarna. Anak-anak memiliki kecenderungan tertarik secara visual dibandingkan secara lisan maupun tulisan. 

Itu sebabnya, hampir sebagian besar cerita anak pasti ada unsur gambar dan warna-warni. Permasalahannya adalah, bagaimana jika tidak memiliki kemampuan menggambar? Maka kamu bisa menyewa tukang desain grafis atau tukang gambar. Bisa juga kamu menarik salah satu teman yang punya keterampilan ini. 

Sementara jika kamu sudah cukup dikenal oleh pihak penerbit yang akan menerbitkan buku, maka kamu hanya fokus pada konten karya saja. Masalah gambar, akan di urus oleh pihak penerbit. Jadi, masalah gambar, bisa didiskusikan. 

7. Unik dan Beda

Menulis cerita anak yang unik dan menarik memang tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Kamu pun bisa menciptakannya, salah satunya dengan beberapa cara. 

  • Pastikan cerita yang diangkat belum pernah ada yang mengangkat ataupun menuliskannya. 
  • Buat cerita secara unik, dikatakan unik dan baru. 
  • Tulis menggunakan kalimat yang singkat, padat dan jelas. 
  • Buat tulisan menarik dan mampu membangkitkan daya tarik pembaca. 
  • Ciptakan kesan bagi pembaca.

Itulah beberapa tips menulis cerita anak yang unik dan berbeda. Hindari penulisan cerita yang umum dan begitu-begitu saja. Karena tulisan yang dibuat seperti pada umumnya orang, maka pembaca pun akan merasa bosan, biasa saja dan tidak ada hal yang membedakan dengan karya orang lain. 

8. Penerbit Khusus 

Jika kamu sudah memiliki naskah cerita anak, maka kamu harus jeli dan lakukan survey penerbit terlebih dahulu. Tidak semua penerbit bisa menerbitkan semua buku kamu.

Ada penerbit yang fokus menerbitkan buku pendidikan, ada penerbit yang fokus menerbitkan buku politik, ada juga penerbit yang fokus menerbitkan buku fiksi. Mulai dari fiksi novel, ataupun cerita anak. 

Karena ada banyak sekali jumlah dan nama penerbit buku. Barangkali kamu merasa kebingungan penerbit mana yang pas dan menerima karya cerita anak?

Tenang karena ada penerbit bukunesia. Setidaknya di sini kamu bisa menerbitkan karya fiksi, mulai dari kumpulan cerpen, kumpulan puisi, atau mungkin kamu seorang novelis? Kamu bisa tawarkan bukunya di penerbit bukunesia. 

Termasuk juga juga cerita anak, meliputi komik, dongeng, legenda ataupun cerita anak lain. Jadi buat kamu yang tertarik dan memiliki tema tentang cerita anak, kamu tetap fokus menulis cerita anak sebanyak mungkin. Jika sudah selesai, kamu bisa tawarkan di penerbit bukunesia

9. Harga dan Kualitas

Cara menulis cerita anak yang terakhir, perhatikan harga dan kualitas. Memang ada banyak kasus yang menyebabkan terjadi penurunan kualitas. Kasus yang pertama dan paling umum adalah, penulis sudah membuat kualitas buku dengan gambar yang bagus dan semenarik mungkin secara visual. 

Namun saat dicetak, kualitas buku tidak sesuai dengan harapan. Maka dari itu, untuk meminimalisir terjadinya permasalahan seperti ini, ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan. 

  • Jika kamu ingin menerbitkan secara self publishing atau cetak secara mandiri, konfirmasi dan pastikan kepada pihak penerbit menggunakan kualitas cetak warna yang terbaik. Nah, biasa nya akan berpengaruh pada harga. Tentu saja semakin baik kualitas cetak, maka harga pasar nantinya juga akan ikut naik.  
  • Jika kamu ingin menerbitkan cerita lewat penerbit mayor, kamu juga perlu konfirmasi jika kamu menginginkan cetak buku cerita anak dengan kualitas baik, terutama pada bagian lembar yang berwarna. 
  • Jika ingin menerbitkan sendiri, maka kamu perlu memantau setiap prosesnya. Pilih percetakan yang benar-benar amanah. 

Sementara untuk masalah harga, juga perlu diperhatikan. Berikan harga yang standar. Jika kualitas sedang, maka berikan harga yang standar. JIka kualitas cetak mahal, maka tidak ada salahnya jika harga pun mengikuti mahal. 

Ada banyak faktor yang menimbulkan harga cerita anak mahal atau pun murah. Selain masalah kualitas cetak warna, ada juga faktor lain.

Misal kemasan cerita anak. Jika cerita anak kamu desain dengan pop-up, lift the flap dan movable book jelas harga juga menjadi jauh lebih mahal. Sementara jika kamu ingin buku standar harga, bisa menggunakan desain buku yang standar dan biasa-biasa saja. 

Contoh Cerita Anak

Berikut ini beberapa contoh judul cerita anak yang sudah dikenal banyak orang. Nah, mungkin buat kalian yang ingin menjadi penulis buku cerita anak, bisa membaca banyak referensi ya biar cerita diterima dengan baik.

  1. Dongeng Cerita Cerdik si Kancil dan Buaya
  2. Cerita Tikus dan Singa
  3. Kelinci Sombong dan Kura-Kura
  4. Cerita Kawanan Semut dan Belalang
  5. Kisah Kambing dan Serigala

Itulah beberapa poin menulis cerita anak, semoga beberapa catatan ini memberikan gambaran, wawasan dan pengetahuan di dunia penerbitan. Buat kamu yang masih penasaran dan bingung ingin menerbitkan buku kemana, bisa di bukunesia. (Irukawa Elisa)

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis