⚡ Promo Diskon Akhir Tahun | diskon 30% + 20% dan bonus eksemplar up to 10

Lihat Selengkapnya

Self Editing: Pengertian dan Langkah Mudah Melakukannya

Self editing

Kamu sering mengirim naskah ke surat kabar, media cetak maupun media online? Jika iya, barangkali ada diantara kalian yang bertanya kenapa tulisan kamu tidak ada yang di approve? Bisa jadi tulisan tidak diterima karena kamu tidak melakukan self editing. 

Seringkali self editing dianggap kurang penting. Meskipun sederhana, sangat penting sekali dan menentukan nasib tulisan kamu akan di acc atau tidak. Nah, sampai di sini, barangkali kamu masih asing dengan istilah self editing? Untuk mengetahui penjelasan lengkapnya bisa simak ulasannya sebagai berikut.

Pengertian Self Editing 

Self editing adalah swa hunting. Secara umum Swasunting dapat diartikan upaya penulis untuk meminimalisir kesalahan menulis dengan cara membaca ulang. Nah, bagaimana dengan pendapat para ahli? Yuks intip apa pendapat mereka.

1. C.J. Cherryh 

Ada satu pendapat yang menarik dari C. J. Cherryh seorang penulis fantasi asal Amerika yang mengatakan bahwa tidak apa-apa kamu menulis sampah, asal setelahnya kamu harus melakukan editing secara brilian. 

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa self editing adalah melakukan editing ulang terhadap karya yang sudah kamu tulis. 

2. PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) 

Menurut PUEBI self editing secara inti menyampaikan bahwa self editing upaya penulis untuk menuliskan huruf atau kata yang baik dan benar. Benar dalam penulisan huruf besar atau kecil, benar tidaknya penulisan tanda baca dan masih banyak lagi.

Sebelum melanjutkan membaca, ada kabar baik buat kamu, buknes lagi ada promo PDKT bareng Bukunesia, Diskon hingga 50% dan bonus eksemplar up to 10. Baca lebih lanjut yuk!

3. Ditjen Dikti 

Sementara Ditjen Dikti (2011) self editing bagi penulis, khususnya penulis karya ilmiah, harus memenuhi instrumen akreditasi terbitan berkala ilmiah yang wajib menuliskan judul, kepengarangan, abstrak, kata kunci, sistematika pembahasan, pemanfaatan instrumen pendukung, cara mengacu dan pengutipan dan penyusunan daftar acuan.

Dari beberapa pendapat di atas, maka self editing dapat disimpulkan sebagai upaya penulis baik itu penulis fiksi maupun non fiksi untuk mengecek dan memperbaiki kembali karya tulis yang sudah dibuat. Secara tidak langsung, self editing dapat dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, dilihat dari konteks. 

Misalnya saja pendapat dari Ditjen Dikti yang menitik beratkan pada tulisan karya ilmiah, tentu saja self editing lebih baku dan lebih ketat. Sementara untuk jenis tulisan non karya ilmiah atau penelitian, kamu cukup membaca ulang dan jika ada kalimat yang rancu, EYD belum tepat tinggal menggantinya. 

Metode SEKSI-B – Langkah Mudah Self Editing

Sepertinya mengetahui pengertian self editing saja belum cukup. Nah, buat kamu yang ingin melakukan self editing sendiri atau otodidak, kamu bisa belajar tentang metode SEKSI-B. Ada yang beelum tahu apa sih maksud dari SEKSI-B?

promo akhir tahun bukunesia

SEKSI-B kepanjangan dari S : Spasi, E : Ejaan, K : Kata & kalimat, S : Sumber, I : Ilustrasi dan B : Baca Kembali. Jika dibuat singkatan dari awal kalimat akan menjadi SEKSI-B. Nah, belum afdol juga jika kita tidak membahas secara detail self editing dengan metode SEKSI-B berikut ini. 

1. Spasi

Saat melakukan self editing, setidaknya harus memenuhi metode SEKSI-B. Salah satunya terkait penulisan spasi yang baik dan benar itu seperti apa dan bagaimana. 

2. Ejaan

Tidak hanya berhenti sampai disitu saja, kamu juga perlu memperhatikan ejaan setiap kata dan kalimat yang sudah kamu tulis. Pastikan tidak ada ejaan yang salah atau salah ketik. 

Kasus kesalahan ejaan sangat mungkin terjadi. Bukan karena penulis tidak bisa menulis, tetapi kesalahan dalam mengetik dan faktor lain. Misal faktor format pada komputer, faktor kurangnya konsentrasi dan masih banyak lagi. 

Kesalahan ejaan kelihatannya sepele dan kecil. Tetapi bagi editor bisa menjadi kesalahan besar. Kesalahan ketik pun juga mampu menyebabkan kesalahan pemahaman atau pusing memahami. Jadi meskipun sederhana, metode SEKSI-B satu ini harus kamu lalui dan lewati, meski perasaan kamu sangat malas, tetap harus dihadapi. Karena itulah resiko menjadi penulis.

3. Kata & kalimat

Self editing di poin ketiga adalah kata dan kalimat. Penting sekali saat kamu membaca dan mengedit tulisan diri sendiri untuk memperhatikan kata dan kalimat. Penting menimbang pemilihan kalimat yang pantas dan tidak pantas. Tentu saja pantas dan tidaknya pemilihan kata disesuaikan dengan konteks kalimat yang digunakan. 

Sampai di sini, barangkali ada diantara kalian yang bertanya, bagaimana cara membuat kalimat atau kata yang baik? Jawabannya pun sederhana. Kamu cukup membuat kalimat atau kata secara terstruktur baik. Lalu bentuk kalimat yang terstruktur yang baik itu yang seperti apa? Saya yakin ketika saya jawab, kamu pun sudah tahu dan sudah mempelajari sejak dulu. 

Yap betul sekali, kalimat yang terstruktur dan baik yang ditulis menggunakan SPOK.Kalimat yang dibuat menggunakan struktur kalimat tersebut lebih mudah dipahami dibandingkan kalimat yang memiliki anak kalimat.

4. Sumber

Langkah mudah self editing juga dapat dilihat dari sumber. Sumber yang dimaksud di sini adalah sumber kutipan yang digunakan dalam tulisan kamu. Termasuk penggunaan gambar dari pihak lain, juga wajib dicantumkan sumbernya.

Bagaimana jika sumbernya tidak dituliskan? Tentu saja ada banyak kemungkinan yang terjadi. Misal plagiarisme, dan tuntutan karena menggunakan hak cipta karya orang lain akibat tidak mencantumkan sumbernya. 

Ada kelebihan dalam menulis menggunakan sumber, menjadikan analisa dan ulasan tulisan kamu lebih kaya, lebih beragam karena ada banyak perspektif lain. Minimal tulisan memiliki ruh dan lebih berisi. 

Bagaimana jika bentuk tulisannya adalah fiksi? Kan hanya mengandalkan imajinasi saja. Apakah masih perlu sumber? Ternyata banyak penulis fiksi, seperti penulis novel yang tetap membutuhkan sumber untuk wacana dan wawasan. Jadi meskipun fiksi, tidak ada salahnya tetap menggunakan sumber.

5. Ilustrasi 

Perhatikan juga masalah penulisan ilustrasi. Teliti ulang, apakah sudah ditulis atau belum. Oh iya berbicara tentang ilustrasi ada tiga bentuk yang sering digunakan dalam proses tulis menulis.

  • Ilustrasi gambar 
  • Ilustrasi Tabel 
  • Ilustrasi Diagram 

Dalam sebuah tulisan, ketiga ilustrasi tersebut tidak wajib ada. Bisa saja hanya menggunakan ilustrasi gambar saja, atau ilustrasi tabel saja atau diagram saja. Atau tidak menggunakan ketiganya pun tidak apa-apa jika memang tidak ada. Jadi dilihat dari kebutuhan dari isi tulisan. Lantas bagaimana cara menulis data ilustrasi? Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan, 

  1. Pastikan jika menggunakan ilustrasi yang diambil dari orang lain, sudah disebutkan di dalam teks. Jika ilustrasi adalah buatan dari pemikiran sendiri, maka tidak perlu dituliskan sumbernya. 
  2. Perhatikan penomoran ilustrasi. Jika konteksnya adalah buku dan menggunakan ilustrasi milik orang lain. Maka pada ilustrasi pertama diberi nomor 1, 2 dst. Tujuannya untuk memudahkan dalam penulisan daftar tabel ilustrasi dan memudahkan pembaca. 
  3. Perhatikan terkait penulisan keterangan pada ilustrasi antara nomor dan caption ilustrasi itu sendiri.

Dari langkah mudah self editing, khususnya tentang ilustrasi memberikan gambaran bagaimana cara melakukan revisi. Seringkali bagi penulis pemula tidak tidak menahu terkait cara penulisan ilustrasi. 

6. Baca Kembali

Langkah terakhir self editing adalah dengan membaca kembali. Nah, banyak pertanyaan yang masuk, merasa malas untuk membaca kembali. Nah, ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan. 

  • Jika lelah Istirahat 

Jika selesai menulis dan kamu merasa lelah. Maka matikan laptop, kamu tidak perlu melakukan self editing. Kamu perlu keluar dari ruang kerja. Salah satu alasan kenapa kamu malas membaca kembali karena pikiran, mata dan tubuh kamu lelah. Saat menulis, kelihatan pekerjaan yang ringan karena hanya duduk saja. Tapi sebenarnya saat kamu menulis kamu bekerja berat. otak dan pikiran terkuras. Maka kamu pun juga perlu istirahat.  

  • Lakukan apa yang membuatmu senang 

Kamu juga bisa melakukan dengan cara lain. Misalnya melakukan hal-hal yang membuat kamu senang. Misalnya kamu suka berkebun, maka tidak ada salahnya kamu keluar sejenak dan berkebun. Atau mungkin kamu suka jalan-jalan? Kamu bisa jalan-jalan sebentar ke tempat wisata paling dekat dan paling murah di tempat kamu tinggal. Jika sudah kembali mood, baru bisa melanjutkan self editing. 

  • Saat mood, mulailah untuk membaca kembali 

Saat kondisi tubuh sudah mood, maka jangan tunda-tunda. Kamu bisa langsung baca kembali hasil tulisannya. Hal yang penting saat membaca kembali tulisan kamu, kamu memang butuh mood terbaik. Kenapa demikian? Karena saat membaca kembali kamu dituntut untuk bisa objektif menilai tulisan sendiri. 

Padahal kita tahu, membaca kembali dengan perasaan objektif itu tidaklah mudah. Untuk bisa objektif terhadap karya diri sendiri itu butuh konsentrasi sekaligus butuh fokus. Buat kamu yang sudah sering melakukan self editing, meskipun dibaca beberapa kali, selalu ada yang kurang dan salah. 

Hal ini menunjukan memang self editing tidak menjamin tulisan kamu akan sempurna tanpa kesalahan. Apalagi jika yang kamu tulis konteksnya adalah buku. Setidaknya tindakan self editing sudah banyak membantu editor yang akan kita masukin naskah bekerja lebih ringan. Setidaknya tidak terlalu parah-parah banget lah. 

  • Ciptakan suasana yang nyaman agar fokus kembali membaca 

Karena menjaga mood, menjaga mood dan menjaga konsentrasi itu tidak mudah. Maka penting banget buat kamu untuk tetap menjaga situasi yang nyaman. Jika perlu, kamu menciptakan suasana yang nyaman untuk melakukan self editing. 

Tentu saja definisi nyaman masing-masing penulis berbeda-beda dan tidak dapat disamakan. Ada yang nyaman sambil mendengarkan music klasik, ada yang nyaman mendengarkan music rock, ada pula yang nyaman ketika tidak mendengarkan music sama sekali dan dalam kondisi Namaste. 

Bagaimana dengan kamu? kondisi nyaman seperti apa yang membuat kamu paling produktif dan bisa bekerja seperti sedang kesurupan? Kamu bisa share di kolom komentar.

Nah itulah ulasan mengenai beberapa langkah self editing dari Bukunesia. Buat kamu yang sedang berjuang ingin memasukan naskah ke penerbit maupun surat kabar cetak maupun online, semoga dengan ini sedikit banyak bisa membantu kalian ya.

Penulis: Irukawa Elisa

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis