Emha Ainun Nadjib: Biografi, Keilmuan dan Karya Buku

Emha Ainun Nadjib atau yang lebih akrab disapa Cak Nun adalah sosok inspiratif di bidang agama dan kebudayaan. Baca biografi dan karya buku.
Biografi Emha Ainun Nadjib

Siapa yang tidak kenal budayawan satu ini? Ya, Emha Ainun Nadjib atau yang lebih akrab disapa Cak Nun adalah sosok inspiratif. Maka tidak heran jika banyak pengagumnya. Tidak hanya dikenal sebagai seorang budayawan, ia juga dikenal sebagai kolumnis pada masanya. Sementara buat Anda yang masih belum mengenal sosoknya, yuks kita berkenalan lebih dekat dengan sosok nyentrik dan unik satu ini. 

Biografi Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)

Cak Nun tidak sekedar dikenal sebagai seorang budayawan, tetapi juga dikenal sebagai intelektual muslim. Beliau dikenal seorang pendakwah yang berkesan dan banyak disenangi oleh anak muda. Salah satu daya pikat adalah cara menyampaikan dakwah yang cukup menyenangkan untuk diikuti dan kritis. Wajar jika banyak anak muda yang tertarik. Dari perspektif lain, ini hal baik karena mampu menarik animo masyarakat kalangan muda, sebagai estafet penerus penegak agama.

Sebagai putra keempat dari 15 bersaudara Cak nun perjalanan hidupnya sama dengan kita, juga menghadapi banyak masalah. Salah satunya sepak terjang di dunia pendidikan. Cak nun bukanlah tipe orang yang pandai secara akademik,hal ini dapat dilihat bahwa Ia pernah kuliah di UGM Fakultas Ekonomi, dan hanya menyelesaikan 1 semester. Itulah kenapa saya menyebutnya tidak pandai secara akademik. Namun jika dilihat dari perspektif lain, banyak orang besar dan genius pun tidak menyelesaikan pendidikan mereka. Contoh Mark Elliot Zuckerberg, Bob Sadino, Bill Gates, Ralph Lauren dan masih banyak bahwa pendidikan tidak melulu sebagai indikator. 

Cak nun juga sama seperti orang pada umumnya, karena beliau memang bukanlah dewa. Ia pun menjalani hidupnya secara normal. Beliau juga menikah dan dalam pernikahannya pun juga sama seperti orang pada umumnya, yang juga berhadapan dengan gelombang masalah. 

Alumni Pondok Modern Gontor, Ponorogo ini menikahi Neneng Suryaningsih, yang merupakan seorang penari dari Lampung. Kemudian di dikaruniai seorang putra yang bernama Sabrang Mowo Damar Panuluh. Kemudian kita kenal sebagai vokalis band Letto yang bernama Noe. Sayangnya pernikahannya dengan neneng Suryaningsih kandas dan bercerai. Setelah bercerai dengan istri pertama, Cak nun menikahi Novia Kolopaking seorang pemeran sekaligus penyanyi di Indonesia pada era nya. Bersama Novia Kolopaking dikaruniai empat anak.

Tidak banyak yang tahu, jika Cak nun pun dulunya sebagai wartawan dan redaktur di harian Masa Kini pada tahun 1973 hingga 1976. Tidak heran jika beliau pun juga memiliki keterampilan menulis kritis dan mendalam, dan menjadi seorang kolumnis di beberapa media. Kekritisan cak nun dalam memandang sesuatu hal inilah yang mengarahkan beliau menjadi sosok yang peduli dengan budaya. Tidak heran jika akhirnya ia pun mendapatkan Penghargaan Satyalencana Kebudayaan 2010 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2011 yang lalu. 

Pasalnya, penghargaan satyalancana Kebudayaan ini diberikan untuk seseorang yang memiliki peran dan jasa besar di bidang kebudayaan, sekaligus mampu melestarikan budaya daerah maupun budaya nasional. Dimana hasilnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, bangsa dan negara. 

Tentu saja ini sebuah pencapaian yang tidak mudah. Entah butuh berpuluh tahun Cak Nun mampu mengcreate menjadi pribadi yang luar biasa dan berpengetahuan seperti yang kita lihat. 

Promo Aksara Internasional Web 2

Ternyata ada satu guru yang dikagumi oleh Cak Nun saat merantau di Yogyakarta untuk mempelajari sastra. Sosok tersebut seorang sufi misterius yang bernama Umbu Landu Paranggi. Dari sinilah Cak nun tidak sekedar mengenal dunia sastra, tetapi juga teater. Menariknya berkat kerja kerasnya, Cak Nun pun mengikuti lokakarya teater di filipina di tahun 80-an. Termasuk juga pernah mengikuti international writing program di Universitas Iowa, AS di tahun 84-an. 

Fokus ruang gerak, prestasi dan pencapaian cak nun tidak jauh-jauh dari kebudayaan, teater, dan seni. Tetapi juga seorang pendakwah yang disampaikan secara nyentrik. Yaitu dengan membawakan musik Kiai Kanjeng. Dimana musik yang disampaikan adalah lagu-lagu sholawat dan syair religius yang sarat pesan dakwah. Dan beliaulah yang menjadi narasumber pengajian bulanan yang diselenggarakan berjalan, yang kemudian kegiatan itu kita akrab dengan komunitas masyarakat padang bulan.

Pendidikan Cak Nun

Sama seperti yang lain. Cak nun dibesarkan di kalangan masyarakat biasa. Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga, dan ayahnya sebagai anak Petani yang juga sebagai kyai di desanya. Ayahnya pun cukup dikenal di desanya. Dari sumber lain menyebutkan bahwa Ayah Cak Nun juga sebagai pemimpin lembaga pendidikan pengelola TK-SMP.

Menariknya, meskipun ayahnya seorang yang cukup dikenal dan dipandang, justru membuat Cak Nun malu bersekolah yang dipimpin ayahnya. Itu sebabnya Cak nun lebih memilih sekolah di sekolah Negeri di desa tetangga. Riwayat pendidikan Cak nun dari SD sekolah di Jombang di tahun 1965. 

Kemudian pindah dari Jombang ke Yogyakarta dan melanjutkan SMP di SMP Muhammadiyah di tahun 1968. Masih di kota yang sama, di Yogyakarta Cak nun muda melanjutkan masuk ke SMA Muhammadiyah di tahun 1971. 

Lulus SMA, akhirnya memutuskan untuk melanjutkan masuk pondok daripada kuliah. Pondok yang menjadi tempatnya menimba ilmu ada di Pondok Pesantren Modern Gontor dan barulah dilanjutkan masuk ke perguruan TInggi UGM, dengan jurusan Fakultas Ekonomi, dan sayangnya hanya menyelesaikan satu semester saja.

Bidang Keahlian Cak Nun (Tokoh Intelektual Islam)

Bidang keahlian cak nun selain sebagai pendakwah, juga memiliki ketertarikan di bidang teater dan sastra. Maka tidak heran jika ia pun juga seorang penyair dan seorang sastrawan. Bisa dibilang, Cak Nun memiliki banyak bidang keahlian selain tokoh intelektual muslim indonesia dan seorang budayawan. Tetapi juga memiliki ragam keahlian dibidang tafsir, musik, tasawwuf, filsafat, kesehatan dan pendidikan. 

banyaknya bidang yang dikuasai inilah yang membuat pengayaan analisisnya tajam dan selalu renyah untuk diikuti. Yap, seperti yang kita tahu, bahwa luasnya pengetahuan seseorang akan mempengaruhi seberapa jauh dan menarik orang itu dalam mengeksplorasi potensi dalam dirinya. Termasuk lewat pemikiran-pemikiran mereka. 

Mereka mampu menjelaskan dan memahamkan kepada orang lain dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Tanpa menghilangkan kekritisan dan ke-fresh-an topik pembicaraan. Tidak heran jika beliau pun disebut sebagai tokoh intelektual islam, karena mampu mencerahkan bagi masyarakat.

Baca juga: Sabrina Ara, Istri CEO Ruang Guru

Buku Emha Ainun Nadjib

Tidak banyak yang tahu jika Emha Ainun Nadjib pun memiliki banyak sekali karya buku yang sudah diterbitkan. Dimana buku-buku tersebut diterbitkan di berbagai penerbit buku. Berikut adalah karya-karya Cak Nun. 

  • Yang Terhormat Nama Saya, 1992
  • Surat Kepada Kanjeng Nabi, 2015
  • Opini Plesetan (Oples), 1995
  • Nasionalisme Muhammad :Islam Menyongsong Masa Depan (1995)
  • Terus Mencoba Budaya Tanding, 1995
  • Markesot Bertutur, 2019
  • Markesot Bertutur Lagi, 2015
  • Kiai Sudrun Gugat, 1994
  • Indonesia Bagian Dari Desa Saya, 2016
  • Slilit Sang Kiai, 2019
  • Seribu Masjid Satu Jumlahnya : Tahajjud Cinta Seorang Hamba, 2016 
  • 99 Untuk Tuhanku, 2015
  • Cahaya Maha Cahaya : Kumpulan Sajak, 1991
  • Doa Mohon Kutukan, 1995
  • Kyai Kocar-Kacir, 1998
  • Secangkir Kopi Jon Pakir, 2019
  • Sajak-Sajak Sepanjang Jalan, 1978
  • Indonesia Apa Adanya, 2017
  • Tuhan Pun Berpuasa, 2016
  • Demokrasi Tolol Versi Saridin, 1998
  • Bola Bola Kultura, 1993
  • Yang Terhormat Nama Mereka, April 202
  • Berserahlah, Biar Allah Mengurus Hidupmu, September 2022
  • Kerajaan Indonesia, 2006
  • Sesobek Buku Harian Indonesia, 2017
  • Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai, 2016
  • Karikatur Cinta, 2005
  • BH, 2006
  • Kafir Liberal, 2006
  • Tidka, Jibril Tidak Pensiun!, 2017
  • Istriku Seribu, 2015
  • Kagum Kepada Orang Indonesia, 2015
  • Titik Nadir Demokrasi, 2016
  • Demokrasi La Roiba Fi, 2009
  • Hidup Itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem, 2016
  • Saat-Saat Terakhir Bersama Soeharto, 2016
  • Mati Ketawaala Refortnasi, 2016
  • Orang Maiyah, 2015
  • Arus Bawah, 2015
  • Gelandang Di Kampung Sendiri, 2018
  • Sedang Tuhan Pun Cemburu, 2018
  • Kiai Hologram, 2018
  • Pemimpin Yang Tuhan, 2018
  • Daur VI-Siapasebenarnya Markesto? (2019
  • Daur V – Markesot Belajar Ngaji, 2017
  • Daur IV – Kapal Nuh Abad 21, 2017
  • Daur III – Mencari Buah Simalakama 2917
  • Daur II – Iblis Tidak Butuh Pengikut, 2017
  • Daur I O- Anak Asuh Bernama Indonesia, 2017

Jumlah karya yang luar biasa banyak. Tentu sebuah pencapaian yang luar biasa sampai bisa memiliki karya sebanyak itu. Baca juga biografi dan pengalaman tokoh lainnya di Biografi Tokoh.

Barangkali Anda pun juga menginginkan hal sama? Anda pun mulai dari sekarang bisa menuliskan pengalaman, keahlian dan pemikiran Anda seperti yang sudah dilakukan Cak Nun dalam sebuah buku. 

Buat Anda yang binggung ingin menerbitkan kemana, bisa menerbitkannya di bukunesia. Siapa tahu karya Anda adalah karya yang mampu mengubah dunia. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Tulislah impian Anda ingin menerbitkan buku apa dan kontak [email protected]

(Irukawa Elisa)

Abadikan Cerita, Pengalaman dan Keilmuan Anda Menjadi Buku yang Fenomenal

Terbitkan Buku di Bukunesia, Penerbitnya Para Tokoh Terkenal di Indonesia. Karya dalam bentuk buku akan dikenang sepanjang masa!

Hubungi Email: [email protected]

Bagikan Artikel Ini
Facebook
Twitter
LinkedIn
Telegram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *