Pernah kamu membaca sebuah cerita? Kadang cerita itu terasa “aku banget”. Namun sering juga kamu membaca cerita yang rasanya hambar dan membosankan.
Dalam kehidupan sehari-hari, cara seseorang bercerita memang sangat mempengaruhi bagaimana kita memahami dan merasakan sebuah pengalaman—begitu juga dalam novel.
Dari sinilah sudut pandang menjadi elemen penting yang sering tidak disadari, tetapi diam-diam menentukan apakah sebuah cerita terasa hidup atau justru datar.
Lewat pemilihan sudut pandang yang tepat, penulis bisa mengajak pembaca masuk lebih dalam, bukan hanya membaca, tapi juga merasakan cerita itu sendiri.
Daftar Isi Artikel
Apa Itu Sudut Pandang dalam Novel
Dalam kehidupan sehari-hari, cara seseorang menceritakan sebuah kejadian sangat mempengaruhi bagaimana orang lain memahaminya. Cerita yang sama bisa berbeda tergantung dari siapa yang bercerita, sudut mana yang ditonjolkan, dan seberapa banyak informasi yang dibagikan.
Dalam dunia penulisan, hal ini dikenal sebagai sudut pandang atau point of view.
Sudut pandang dalam novel adalah cara penulis menyampaikan cerita kepada pembaca melalui siapa cerita itu dilihat dan diceritakan.
Menurut kajian teori sastra, sudut pandang berperan penting dalam membentuk kedekatan emosional, alur informasi, dan pengalaman membaca secara keseluruhan (Abrams & Harpham, 2015).
Artinya, sudut pandang bukan sekadar teknik, tetapi strategi penting untuk mengarahkan bagaimana pembaca memahami dan merasakan sebuah cerita.
Baca Juga: Point of View: Memahami Sudut Pandang Penulis
Jenis Jenis Sudut Pandang dalam Novel
Setelah memahami apa itu sudut pandang dalam novel, langkah berikutnya adalah mengenali jenis-jenisnya. Sudut pandang (point of view) menentukan bagaimana cerita disampaikan, siapa yang “berbicara”, dan sejauh mana pembaca mengetahui peristiwa dalam cerita.
Menurut teori naratif dalam kajian sastra, pemilihan sudut pandang sangat mempengaruhi kedekatan emosional pembaca dengan tokoh serta kedalaman cerita (Abrams & Harpham, 2015). Berikut beberapa jenis sudut pandang dalam novel yang paling umum digunakan.
1. Sudut Pandang Orang Pertama (First Person)
Dalam sudut pandang ini, cerita disampaikan menggunakan kata “aku” atau “saya”. Tokoh utama menjadi narator yang menceritakan langsung pengalaman dan perasaannya.
Kelebihannya, cerita lebih personal dan emosional karena pembaca seolah masuk ke dalam pikiran tokoh. Namun, keterbatasannya adalah sudut pandang ini hanya mengetahui apa yang dialami tokoh tersebut.
2. Sudut Pandang Orang Ketiga Serba Tahu (Third Person Omniscient)
Pada sudut pandang ini, narator berada di luar cerita dan mengetahui segalanya tentang semua tokoh. Baik pikiran, perasaan, maupun latar belakang mereka. Biasanya menggunakan kata “dia” atau “mereka”. Kelebihannya, cerita menjadi lebih luas dan kompleks karena bisa mengeksplorasi banyak karakter sekaligus.
3. Sudut Pandang Orang Ketiga Terbatas (Third Person Limited)
Berbeda dengan serba tahu, sudut pandang ini hanya fokus pada satu tokoh saja. Narator tetap menggunakan kata “dia”, tetapi hanya mengetahui pikiran dan perasaan satu karakter. Teknik ini sering digunakan untuk menjaga fokus cerita sekaligus tetap memberi kedalaman emosi.
4. Sudut Pandang Orang Kedua (Second Person)
Sudut pandang ini menggunakan kata “kamu” sebagai pusat cerita. Pembaca seolah menjadi tokoh utama dalam cerita. Meski jarang digunakan dalam novel panjang, teknik ini cukup unik karena memberikan pengalaman membaca yang lebih imersif dan berbeda.
5. Sudut Pandang Campuran
Beberapa novel menggunakan lebih dari satu sudut pandang dalam satu cerita. Misalnya, berganti antara orang pertama dan orang ketiga, atau antar tokoh yang berbeda di tiap bab. Teknik ini memungkinkan cerita terasa lebih dinamis, tetapi perlu konsistensi agar tidak membingungkan pembaca.
Dari berbagai jenis sudut pandang di atas, tidak ada yang paling “benar” atau paling “baik”. Semuanya tergantung pada kebutuhan cerita yang ingin kamu bangun. Yang terpenting adalah konsistensi dan kesesuaian dengan pesan yang ingin disampaikan.
Karena sudut pandang bukan sekadar teknik menulis, tetapi cara kamu mengajak pembaca melihat dunia melalui cerita yang kamu ciptakan.
Baca Juga: 5 Format Penulisan Novel yang Baik [Bonus Ebook Gratis]
Cara Menentukan Sudut Pandang dalam Novel
Menentukan sudut pandang dalam novel memiliki peran penting, karena sudut pandang mempengaruhi kedalaman cerita, kedekatan emosi, dan cara pembaca memahami alur.
Dalam kajian naratif, sudut pandang berkaitan dengan siapa yang “melihat” dan “menceritakan” peristiwa (Abrams & Harpham, 2015). Agar tidak salah memilih, berikut enam cara yang bisa kamu pertimbangkan.
1. Pahami Tujuan Cerita yang Ingin Disampaikan
Setiap cerita punya tujuan yang berbeda, apakah ingin terasa intim, luas, atau penuh misteri. Jika kamu ingin pembaca merasa sangat dekat dengan tokoh, sudut pandang orang pertama bisa jadi pilihan. Namun, jika ingin menunjukkan banyak sisi cerita, sudut pandang orang ketiga serba tahu lebih fleksibel.
2. Kenali Karakter Utama Lebih Mendalam
Sudut pandang akan sangat dipengaruhi oleh siapa tokoh yang kamu pilih sebagai “mata” cerita. Jika karakter utama punya konflik batin yang kuat, menggunakan sudut pandang terbatas (limited) bisa membantu menggali emosi lebih dalam dan personal.
3. Tentukan Jarak Emosional dengan Pembaca
Sudut pandang menentukan seberapa dekat pembaca dengan cerita. Orang pertama menciptakan kedekatan intens, sementara orang ketiga memberikan jarak yang lebih luas. Menurut teori naratif, jarak ini memengaruhi empati dan keterlibatan pembaca terhadap cerita (Genette, 1980).
4. Sesuaikan dengan Genre dan Gaya Cerita
Genre juga berpengaruh. Novel misteri sering menggunakan sudut pandang terbatas untuk menjaga kejutan, sementara novel epik atau fantasi cenderung memakai sudut pandang serba tahu agar dunia cerita terasa luas. Tidak ada aturan baku, tetapi penyesuaian ini membantu cerita terasa lebih “hidup”.
5. Uji dengan Menulis Beberapa Versi
Jika masih ragu, cobalah menulis satu adegan dengan sudut pandang berbeda. Dari situ, kamu bisa merasakan mana yang paling nyaman dan paling kuat menyampaikan emosi. Menurut praktik penulisan kreatif, eksplorasi ini membantu penulis menemukan “suara” terbaik dalam cerita (Purdue OWL).
Baca Juga: Cara Menulis Dialog di Dalam Novel
6. Jaga Konsistensi Sudut Pandang
Setelah memilih, pastikan sudut pandang tetap konsisten sepanjang cerita. Perpindahan sudut pandang yang tidak jelas bisa membingungkan pembaca dan mengurangi kekuatan narasi. Jika ingin berpindah, lakukan dengan transisi yang jelas dan terarah.
Dari pemaparan di atas, maka dapat disimpullkan bahwa sudut pandang bukan sekedar teknik menulis, tetapi tentang bagaimana kamu ingin pembaca “merasakan” cerita yang kamu buat.
Dari pilihan sederhana seperti “aku” atau “dia”, kamu sebenarnya sedang menentukan arah emosi, kedalaman makna, dan pengalaman membaca secara keseluruhan.
Tidak perlu langsung sempurna, yang terpenting adalah mulai mencoba, bereksplorasi, dan menemukan gaya yang paling sesuai dengan ceritamu. Karena ketika sudut pandang sudah pas, maka pembaca juga semakin tertarik membaca novel hingga selesai.
Semoga artikel dari Bukunesia ini bermanfaat dan bisa membantu kamu memahami sudut pandang dalam novel sebelum mulai menulis cerita sendiri.
Referensi
Abrams, M. H., & Harpham, G. G. (2015). A Glossary of Literary Terms. Cengage Learning.
Keraf, G. (2004). Diksi dan Gaya Bahasa. Gramedia.
Stanton, R. (2007). Teori Fiksi. Pustaka Pelajar.
Nurgiyantoro, B. (2013). Teori Pengkajian Fiksi. Gadjah Mada University Press.
Lucas, S. E. (2015). The Art of Public Speaking. McGraw-Hill Education.

