Pernah nggak, kamu semangat banget menulis di awal minggu, tetapi beberapa hari kemudian malah tidak menyentuh naskah sama sekali? Atau mungkin kamu sudah berkali-kali membuat target menulis, tetapi selalu gagal menjalaninya secara konsisten?
Kalau jawabannya iya, tenang saja. Kamu tidak sendirian. Banyak orang berpikir bahwa konsistensi menulis hanya soal kemauan atau disiplin. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada banyak faktor yang sering tidak disadari dan diam-diam membuat seseorang sulit mempertahankan kebiasaan menulis dalam jangka panjang.
Menariknya, masalah ini tidak hanya dialami penulis pemula. Bahkan penulis yang sudah menerbitkan buku pun pernah mengalami fase kehilangan ritme menulis. Bedanya, mereka memahami penyebabnya dan berusaha mencari cara untuk mengatasinya.
Daftar Isi Artikel
Penyebab Sulit Konsisten Menulis
Jika selama ini kamu merasa sulit konsisten menulis, mungkin salah satu dari tujuh penyebab berikut sedang terjadi tanpa kamu sadari.
1. Menunggu Mood Datang Terlebih Dahulu
Salah satu mitos terbesar dalam dunia kepenulisan adalah anggapan bahwa menulis harus menunggu mood. Banyak orang hanya membuka laptop ketika sedang merasa termotivasi atau mendapatkan inspirasi. Masalahnya, mood adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksi. Hari ini mungkin semangat, tetapi besok belum tentu.
Ketika kebiasaan menulis terlalu bergantung pada suasana hati, produktivitas akan menjadi tidak stabil. Akibatnya, tulisan hanya berkembang saat mood sedang baik, sementara di hari-hari biasa naskah akan terus terbengkalai.
Penulis yang produktif umumnya tidak menunggu inspirasi datang. Mereka tetap menulis sesuai jadwal yang sudah dibuat, bahkan ketika tidak sedang merasa termotivasi. Justru dari proses itulah ide dan inspirasi sering muncul.
2. Target yang Terlalu Tinggi
Banyak orang memulai kebiasaan menulis dengan penuh semangat. Mereka membuat target besar seperti menulis 3.000 kata per hari atau menyelesaikan satu novel dalam waktu singkat. Sekilas terdengar keren. Namun dalam praktiknya, target yang terlalu tinggi justru sering menjadi penyebab kegagalan.
Ketika target tidak tercapai, muncul rasa kecewa dan frustasi. Lama-kelamaan, aktivitas menulis mulai terasa seperti beban, bukan lagi kegiatan yang menyenangkan. Padahal, membangun konsistensi jauh lebih efektif jika dimulai dari target kecil yang realistis.
Menulis 300 kata setiap hari selama satu bulan sering kali lebih berdampak dibandingkan menulis 3.000 kata hanya sekali dalam seminggu.
3. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Penulis Lain
Media sosial membuat kita sangat mudah melihat pencapaian orang lain. Ada yang berhasil menerbitkan buku, menjadi best seller, atau mendapatkan ribuan pembaca. Tanpa sadar, hal tersebut sering membuat seseorang mulai membandingkan dirinya sendiri.
“Aku baru menulis beberapa halaman, sedangkan dia sudah menerbitkan buku.”
“Aku masih belajar, sedangkan dia sudah punya banyak pengikut.”
Pikiran seperti ini dapat mengurangi semangat menulis secara perlahan. Fokus yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan karya malah habis untuk membandingkan perjalanan diri dengan orang lain. Padahal, setiap penulis memiliki proses yang berbeda. Tidak ada garis waktu yang sama dalam dunia kepenulisan.
4. Takut Tulisan Tidak Bagus
Perfeksionisme sering kali menyamar sebagai keinginan untuk menghasilkan karya terbaik. Namun dalam banyak kasus, justru menjadi alasan seseorang sulit konsisten menulis. Ketika terlalu takut membuat kesalahan, seseorang akan lebih sering mengedit daripada menulis. Setiap kalimat diperiksa berulang kali. Setiap paragraf dianggap kurang bagus.
Akibatnya, kemajuan tulisan menjadi sangat lambat. Yang perlu dipahami adalah draft pertama memang tidak dirancang untuk menjadi sempurna. Tujuannya adalah menuangkan ide terlebih dahulu. Proses penyempurnaan bisa dilakukan pada tahap revisi. Semakin cepat menerima kenyataan ini, semakin mudah mempertahankan kebiasaan menulis.
5. Tidak Memiliki Jadwal Menulis yang Jelas
Banyak orang berkata bahwa mereka ingin menulis lebih rutin. Namun ketika ditanya kapan waktu menulisnya, jawabannya sering kali tidak jelas.
“Aku menulis kalau sempat.” Atau “Aku menulis nanti malam kalau tidak capek.”
Masalahnya, aktivitas yang tidak memiliki jadwal biasanya lebih mudah tergeser oleh kegiatan lain. Menulis membutuhkan ruang khusus dalam rutinitas harian. Tidak harus berjam-jam. Bahkan 20 hingga 30 menit setiap hari sudah cukup untuk membangun kebiasaan.
Ketika menulis memiliki waktu yang jelas dalam jadwal harian, kemungkinan untuk dilakukan secara konsisten akan jauh lebih besar.
6. Terlalu Banyak Konsumsi, Terlalu Sedikit Produksi
Saat ini kita hidup di era banjir informasi. Setiap hari ada video baru, artikel baru, podcast baru, dan berbagai konten menarik lainnya. Tanpa sadar, sebagian orang menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengkonsumsi konten daripada menciptakan karya.
Mereka terus mencari tips menulis, menonton video motivasi, atau membaca pengalaman penulis lain. Semua itu memang bermanfaat, tetapi tidak akan menghasilkan tulisan jika tidak diimbangi dengan praktik. Belajar memang penting. Namun pada akhirnya, kemampuan menulis hanya berkembang melalui aktivitas menulis itu sendiri.
7. Kehilangan Tujuan Menulis
Penyebab terakhir yang sering tidak disadari adalah kehilangan alasan mengapa seseorang mulai menulis. Di awal, mungkin ada semangat besar untuk menyelesaikan novel, menerbitkan buku, atau berbagi cerita dengan pembaca. Namun seiring waktu, tujuan tersebut mulai terlupakan.
Ketika tujuan menjadi kabur, motivasi juga ikut melemah. Karena itu, penting untuk sesekali mengingat kembali alasan mengapa kamu ingin menulis. Apakah ingin membagikan ide? Menyelesaikan novel pertama? Menjadi penulis profesional? Atau sekadar menikmati proses kreatif?
Tujuan yang jelas dapat menjadi bahan bakar yang membantu menjaga konsistensi ketika semangat sedang turun.
Kesimpulan
Sulit konsisten menulis bukan berarti kamu malas atau tidak berbakat. Dalam banyak kasus, ada faktor-faktor tertentu yang sering tidak disadari, seperti terlalu bergantung pada mood, menetapkan target yang tidak realistis, membandingkan diri dengan orang lain, takut membuat kesalahan, tidak memiliki jadwal menulis, terlalu banyak mengonsumsi konten, atau kehilangan tujuan menulis.
Kabar baiknya, semua hambatan tersebut dapat diatasi secara bertahap. Langkah pertama adalah menyadari penyebab yang paling sering terjadi pada dirimu sendiri. Setelah itu, kamu bisa mulai membangun kebiasaan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Kalau kamu ingin mengatasi hambatan menulis dan membangun kebiasaan yang lebih konsisten, jangan lewatkan beberapa artikel berikut:
- Ingin Menjadi Novelis? Kuasai 7 Cara Konsisten Menulis Novel
- 11 Cara Mengatasi Writer’s Block, Hambatan Penulis
- 11 Cara Mudah Menemukan Ide Menulis Cerita
Semoga artikel dari Bukunesia ini bermanfaat untuk membantu kamu memahami penyebab sulit konsisten menulis dan menemukan cara agar kebiasaan menulis terus terjaga.
Referensi
Clear, J. (2018). Atomic Habits: An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Ones. New York, NY: Avery.
Duhigg, C. (2012). The Power of Habit: Why We Do What We Do in Life and Business. New York, NY: Random House.
King, S. (2000). On Writing: A Memoir of the Craft. New York, NY: Scribner.
Pressfield, S. (2012). The War of Art: Break Through the Blocks and Win Your Inner Creative Battles. New York, NY: Black Irish Entertainment.
Sullivan, K., & Tinberg, H. (Eds.). (2006). What Is “College-Level” Writing?. Urbana, IL: National Council of Teachers of English.

