Manfaat Menulis dan 9 Kesalahan Penulis Pemula

kesalahan penulis pemula

Punya impian menjadi penulis profesional? Maka selain mengetahui apa saja cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkannya, juga perlu mengetahui kesalahan penulis pemula. Dimana semua daftar kesalahan ini perlu dihindari untuk bisa sukses menghasilkan karya yang berkualitas dan laris di pasaran. 

Penulis adalah profesi, dikatakan demikian karena banyak yang bisa berpenghasilan dan bahkan hidup layak dari hasil menulis. Dulunya, menulis dikenal hanya sebagai hobi yang ketika dilakukan maka bisa memberi rasa senang. 

Namun, seiring berjalannya waktu keberadaan penulis semakin dihargai. Meskipun di Indonesia masih dalam proses ke tahap tersebut, namun harus diakui menulis bisa memberi penghasilan. Bahkan bisa menjadi sarana untuk berinvestasi agar memiliki pendapatan pasif. 

Sukses menekuni profesi penulis tidak bisa instan, seorang penulis buku best seller tidak selalu bisa sukses dengan merilis satu judul buku. Bisa jadi perlu lebih, setiap penulis punya jalan ceritanya masing-masing sampai namanya dikenal luas. 

Namun, tidak akan rugi menjadi penulis karena meski punya karya best seller atau tidak. Karyanya sudah abadi. Mulailah dulu menjadi penulis dengan mempelajari kesalahan-kesalahan penulis pemula dan berusaha menghindarinya. Berikut informasi lengkapnya. 

Manfaat Menjadi Penulis Buku

Sebelum mengetahui apa saja kesalahan penulis pemula yang perlu dihindari, maka kenali dulu manfaat dari menulis. Sebab pada masa awal merintis karir biasanya penulis dihadapkan pada banyak batu sandungan. 

Ada yang merasa tulisannya susah untuk diterbitkan dan mendapatkan banyak pembaca. Bisa juga karena saat naskah dikirimkan justru menerima banyak penolakan. Hal ini lumrah, bahkan penulis terkemuka sekelas J.K Rowling pun ditolak puluhan kali sebelum novel Harry Potter dikenal dunia dan membuatnya menjadi penulis kaya raya seperti sekarang. 

Inti pertama agar sukses menjadi penulis adalah produktif menulis dan tidak putus asa untuk mempublikasikannya. Supaya semangat menulis, cek dulu sekian manfaat yang didapatkan jika menjadi penulis buku berikut ini: 

  • Memiliki Wawasan Luas 

Sebelum menulis, seseorang akan mencari ide kemudian data, dan dituangkan dalam bentuk tulisan. Sehingga penulis perlu tahu apa yang akan ditulisnya, dan semakin lama ide tulisan semakin kompleks. Hal ini sekaligus menunjukan penulis semakin tahu banyak hal dari sumber terpercaya. Wawasan pun semakin luas. 

  • Sarana untuk Berbagi Kebaikan

Tulisan perlu diakui bisa menjadi media bagi seseorang untuk berceramah tanpa harus berdiri di atas mimbar. Setiap ilmu yang dimiliki dan setiap hal positif yang disampaikan akan bermanfaat bagi pembacanya. Maka menulis menjadi sarana bagi seseorang untuk berdakwah menebar atau berbagi kebaikan. 

  • Mendapatkan Pahala 

Penulis adalah profesi yang mulia dan selalu mendapatkan pahala, pahala ini  akan menjadi tabungan di akhirat. Sebab bisa menjadi sarana untuk masuk surga. Bisa menjadi sumber pahala, karena penulis akan menyampaikan hal-hal bermanfaat kepada siapa saja yang membaca karyanya. Baik itu ilmu pengetahuan, pengalaman, hasil penelitian, dan lain sebagainya. 

  • Memperluas Pertemanan 

Menjadi penulis membantu memperluas pertemanan, baik dengan sesama penulis ketika menjadi kontributor maupun penulis di penerbit yang sama, menjadi pengisi di acara yang sama, dan sebagainya. 

banner-di-artikel (1)

Penulis juga bisa kenal dengan masyarakat luas, sebab bisa berkenalan dengan teman baru lewat karya-karyanya. Apalagi jika penulis aktif di media sosial. Maka bisa bertemu teman yang cocok dari banyak hal di media sosial tersebut. 

  • Memberi Penghasilan 

Menulis bukan lagi hanya hobi, menekuni profesi penulis bukan lagi hanya profesi amal. Sebab, menjadi penulis juga bisa berpenghasilan meskipun sifatnya tidak pasti. Maka kebanyakan penulis menjadikan kegiatan menulis sebagai sampingan. Setiap tulisan yang diterbitkan akan memberi penghasilan, jumlahnya bisa sangat lumayan. 

  • Sarana Investasi 

Bagi penulis yang sudah aktif menulis buku maka bisa memetik manfaat punya sarana investasi. Sebab buku yang sudah diterbitkan akan memberi royalti dan bisa cair setahun sekali padahal penulis tidak menulis buku baru. 

Royalti ini kemudian menjadi pendapatan pasif, yang tentu bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Semakin banyak buku yang ditulis dan diterbitkan maka semakin banyak royalti didapatkan. Jumlahnya tentu semakin tinggi. 

  • Dikenal Luas 

Ingin dikenal masyarakat seluruh Indonesia lewat karya? Maka bisa menjadi penulis buku profesional. Sebab penulis akan mencantumkan namanya dalam setiap karya yang sudah dihasilkan dan dipublikasikan. Tidak hanya buku, bisa itu berupa cerpen, puisi, dan hasil karya tulis lainnya. 

Jika nama sudah dikenal maka akan membuka pintu-pintu rezeki bagi penulis tersebut. Misalnya, naskah semakin mudah diterima oleh penerbit dari penerbit minor sampai mayor. Kemudian cerpen, puisi, dan sebagainya juga mudah diterima oleh media massa dan menerima penghasilan darinya. 

Selain itu ada kesempatan diundang ke beberapa acara, baik sebagai narasumber utama maupun narasumber kedua dan seterusnya. Sehingga menulis bisa ditekuni, sebab bisa membantu lebih dikenal dan punya banyak peluang menguntungkan di masa mendatang.

Baca juga: Cara menulis cerita fiksi yang menarik

Kesalahan Penulis Pemula

Menjadi penulis memberi manfaat yang sangat besar, sehingga sangat tepat untuk ditekuni. Apalagi, saat karyanya dikenal dan memberi manfaat luas maka akan semakin puas sudah memilih profesi penulis. 

Sebagai penulis, tentu dituntut untuk menghasilkan karya yang berkualitas dan juga produktif. Hal ini tidak mudah, khususnya bagi penulis pemula. Apalagi penulis pemula sering berhadapan dengan sejumlah kesulitan dan sering melakukan kesalahan. 

Kesalahan umum yang dilakukan penulis pemula juga lumayan banyak dan tentu perlu dicermati agar bisa mengantisipasinya. Berikut kesalahan-kesalahan tersebut: 

1. Mempersulit Diri Sendiri

Menulis itu pada dasarnya mudah, menjadi sulit ketika seorang penulis mempersulit dirinya sendiri. Misalnya saja, ada ide sederhana dan menarik yang datang dari pengalaman pribadi. Kemudian merasa bukan ide yang cemerlang. 

Maka memilih untuk keluar, jalan-jalan, menghabiskan banyak uang, dan sebagainya demi mendapat ide yang sempurna. Perfeksionis boleh saja, hanya saja bagi penulis pemula sebaiknya mencoba memanfaatkan hal-hal sekitar. 

Memanfaatkan sesuatu yang mudah didapatkan dan dijadikan ide untuk menulis suatu cerita yang menarik. Sehingga tidak perlu mempersulit diri sendiri, dan pada akhirnya naskah tidak kunjung bisa diselesaikan. 

Jika sudah begini, siapa yang akan rugi? Tentunya penulis itu sendiri. Mulailah menulis dengan melakukan hal-hal yang mudah dan mendukung kegiatan tersebut. Mulai dari ide, pilih ide dari pengalaman pribadi atau pengalaman orang sekitar. 

Bisa juga mengangkat masalah yang ada di lingkungan tempat tinggal. Seorang penulis bahkan bisa menghasilkan cerita dari tanaman cabai yang tumbuh di pekarangan rumah, dari suara ayam yang berkokok, sampai suara semilir angin. 

Jadi, jangan mempersulit diri sendiri dengan mencari ide yang dirasa sangat sempurna. Setelah ide sederhana didapatkan segera tulis agar tidak terlupa atau diketik di smartphone. Saat ada waktu luang manfaatkan untuk mengembangkan ide tadi menjadi tulisan. 

2. Tidak Percaya Diri

Apakah semua orang terlahir dengan rasa percaya diri? Tentunya tidak, percaya diri sama seperti kebahagiaan. Diri sendiri yang menciptakannya dan jangan menunggu orang lain membangunkan kepercayaan diri tersebut. 

Meniti karir sebagai penulis sering berhadapan dengan rasa percaya diri yang minim. Bisa karena merasa kualitas tulisan masih amburadul, susah dipahami, alur masih berantakan, dan lain sebagainya. 

Namun, setiap penulis pemula jangan sampai kalah dengan rasa tidak percaya diri. Sebab tidak ada tulisan yang jelek selama ditulis dari hasil pikiran pribadi bukan asal mencomot tulisan orang lain. 

Selain itu, penulis profesional dan terkenal pastilah memulai karyanya dengan bentuk cekeran ayam yang masih semrawut. Menulis bukan bakat melainkan keterampilan yang bisa diasah. Semakin sering menulis maka keterampilan ini semakin terasah, tulisan pun semakin berkualitas. 

Jadi jangan sampai berhenti menulis hanya karena kurang percaya diri. Padahal belum ada karya tulis yang dipublikasikan dan belum tahu bagaimana reaksi publik saat membacanya. 

3. Sibuk Mencari Penerbit Tapi Naskah Belum Siap

Dalam menulis, tentu ada tahapannya. Jika sudah ada ide maka dituangkan dalam tulisan. Jika naskah sudah selesai baru kemudian mencari penerbit yang sesuai dengan tema cerita dalam naskah tersebut. 

Hanya saja, kesalahan penulis pemula justru membuat proses ini terbalik. Kebanyakan sibuk mencari penerbit ketika naskah belum selesai bahkan masih jauh dari kata selesai. 

Bagaimana bisa sibuk mencari penerbit sedangkan tulisan belum diselesaikan dan belum bisa dikirimkan ke pihak mereka? Jika dilakukan, maka bisa membuat proses menulis terasa susah dan tidak bisa dilakukan. 

Jadi, mulailah menulis dengan urutan yang sudah pasti sesuai penjelasan sebelumnya. Selesaikan dulu naskah baru kemudian mencari penerbit. Sehingga naskah ini siap untuk dibaca editor dan sekaligus siap untuk diterbitkan. 

4. Terlalu Banyak Menunggu Mood

Penulis pemula sering memiliki semangat menulis yang naik turun, saat malas biasanya disebut dengan istilah “sedang tidak mood untuk menulis”. Pernah berada di situasi seperti ini? Jika iya, maka sejatinya masih menjadi penulis pemula. 

Sebab penulis profesional tidak akan menunggu mood untuk menulis melainkan menciptakan mood untuk menulis. Sehingga dirinya bisa terus produktif menulis dan menghasilkan karya yang bisa segera dipublikasikan. 

Jika menunggu mood menulis datang maka sama artinya menunggu waktu luas sebanyak-banyaknya baru kemudian bisa menulis. Padahal, dalam keseharian ada banyak aktivitas perlu dilakukan. 

Beberapa terbilang bermanfaat beberapa lagi hanya membuang-buang waktu. Maka idealnya, seorang penulis tidak menunggu mood melainkan menciptakannya. Bagaimana menciptakannya? 

Jika ada ide tulisan segera catat, kemudian segera luangkan waktu untuk menyusun kerangka karangan dari ide tersebut. Setiap harinya, selalu luangkan waktu untuk menulis dari satu bagian ke bagian lain sesuai kerangka yang telah disusun. 

Sehingga penulis setiap hari punya mood untuk menulis karena memang menciptakannya. Bukan menunggu, karena menunggu mood ibarat menunggu wangsit yang tidak ada kepastiannya. 

5. Tidak Adanya Target Waktu Realistis

Kesalahan penulis pemula berikutnya adalah tidak memiliki target waktu yang realistis. Menentukan target untuk menyelesaikan naskah dalam jangka waktu tertentu sah saja dilakukan, selama realistis. 

Misalnya saja mengusung topik tentang cinta segitiga saat menulis novel. Jika ada rencana menulis sampai 500 halaman. Kemudian membuat target penyelesaian dalam jangka waktu 1 minggu. Kira-kira, target ini apakah logis? 

Bagi mereka yang hanya fokus menulis dan tidak ada kesibukan lain, sekaligus sudah paham alur dari cerita novelnya. Mungkin masih logis meskipun dijamin terseok-seok dan pada saat proses self editing masih banyak kesalahan ditemukan. 

Jadi, untuk bisa sukses menjadi penulis usahakan membuat target waktu yang realistis. Sesuaikan dengan kesibukan, jika hanya bisa meluangkan waktu satu jam saja di malam hari maka lakukan saja. 

Jika lelah maka bisa ditunda untuk dikerjakan keesokan harinya. Fleksibilitas termasuk ke dalam perencanaan yang logis dalam menulis sebuah karya berkualitas. Sebab kesehatan adalah yang utama, tanpa tubuh yang sehat aktivitas menulis tidak akan bisa dilakukan. 

6. Tidak Membuat Outline Apa yang Ingin Ditulis

Membuat outline atau kerangka karangan adalah hal penting, bagi sebagian besar penulis proses ini menjadi sangat krusial. Khususnya yang punya banyak kesibukan atau sering sekali kehilangan fokus dalam menjaga alur cerita atau tulisan. 

Sayangnya, penulis pemula sering menganggap bahwa membuat outline akan menghambat kreativitas. Sebab ide hanya bisa dikembangkan di tahap awal, selebihnya harus mengikuti seluruh kerangka yang sudah disusun. 

Padahal bisa jadi dengan semangat jiwa muda mereka yang sedang bergejolak, ingin memberi kejutan di tengah cerita. Jika bisa direalisasikan tidak masalah. Namun, bagaimana jika bagian akhir dari tulisan justru susah untuk ditentukan? 

Disinilah fungsi outline atau kerangka tulisan, membantu tetap fokus dan paham betul akhir tulisannya akan seperti apa. Jika dilakukan maka tulisan akan segera rampung dan bisa ke tahap selanjutnya, yakni dikirimkan ke penerbit. 

7. Tidak Mau Membaca Karya Sejenis

Menjadi penulis pada dasarnya perlu rajin membaca. Lewat membaca karya lain maka penulis bisa menambah wawasan, menambah kosakata, muncul ide segar untuk dijadikan tulisan, dan lain sebagainya. 

Tulisan yang dikerjakan akan terus berkembang seiring dengan kebiasaan membaca tersebut. Maka penulis dijamin rajin membaca, sebab membaca bisa membantu menciptakan tulisan yang berkualitas dan sesuai dengan selera. 

Sayangnya, penulis pemula masih banyak yang belum menyadari manfaat membaca bagi mereka. Sehingga menjadi kesalahan penulis pemula yang enggan membaca karya sejenis. Pada akhirnya tulisannya hanya berkutat di ruang lingkup itu-itu saja. 

Tidak ada yang berkembang, tidak ada unsur baru, bisa membuat pembaca bosan, dan kehilangan pembaca setia. Mencegahnya, penulis perlu terus berkembang dengan rajin membaca karya sejenis. Sehingga tulisan lebih kreatif, inovatif, dan variatif. Hal ini bisa menjaga loyalitas pembaca lama dan mendatangkan pembaca baru. 

8. Terlalu Banyak Menggunakan Kata yang Sama

Menulis adalah proses menuangkan ide dalam pikiran menjadi dalam bentuk tulisan. Maka terjadi proses menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan paragraf demi paragraf, sampai akhirnya menjadi satu naskah yang utuh dan siap diterbitkan. 

Penulis pemula umumnya mengalami kesulitan dalam menggambarkan ide di kepala menjadi tulisan yang menarik. Penyebab utamanya adalah masih terbatasnya kosakata yang dikenal dan juga terbatasnya kata ganti sampai majas yang diketahui. 

Efeknya, penulis ini hanya berputar dalam menggunakan kata-kata yang sama pada setiap karyanya. Hal ini bisa menimbulkan kejenuhan. Oleh sebab itu penulis perlu mengembangkan kosakatanya dengan membaca lebih banyak buku. 

9. Tidak Punya Grup Diskusi Kepenulisan

Seorang penulis perlu berinteraksi dengan penulis lainnya, sehingga bisa terbantu untuk mengatasi berbagai kesulitan. Misalnya mencari referensi, mencari penerbit yang tepat, dan lain-lain. 

Sehingga penulis perlu bergabung dalam grup diskusi agar bisa sukses menyelesaikan naskahnya dan menerbitkannya. Sayangnya penulis pemula tidak punya grup diskusi. 

Disinilah pentingnya membangun jaringan pertemanan agar bisa kenal dengan lebih banyak penulis. Supaya bisa membangun grup diskusi yang saling memberi manfaat. 

Diantara sekian kesalahan penulis pemula yang dijelaskan di atas, mana yang saja pernah dilakukan? Jika pernah atau bahkan sedang dilakukan, silahkan segera menyadarinya dan menyelesaikannya. Supaya tulisan bisa segera diselesaikan dan kualitasnya juga terjamin.

Baca juga artikel pendukung menulisnya dari Penerbit Buku Bukunesia

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis