Perbedaan Sajak dan Puisi Beserta Contoh

perbedaan sajak dan puisi

Dalam dunia sastra ada dua jenis karya yang sulit dibedakan, yakni perbedaan sajak dan puisi. Antara sajak dan puisi sejatinya ada perbedaan yang memang tidak begitu besar. Saking tipisnya perbedaan tersebut, maka banyak orang yang menganggap keduanya sama. 

Baik sajak maupun puisi dikenal sebagai jenis karya sastra lama, keduanya muncul atas perkembangan suatu bangsa sehingga ada unsur budaya di dalamnya. Sampai saat ini baik puisi maupun sajak masih aktif dibuat oleh sastrawan. 

Jika tertarik untuk menulis puisi maupun sajak, atau bahkan keduanya. Maka perlu paham dulu apa perbedaan dari keduanya. Apalagi ada yang berkata bahwa sajak adalah puisi sementara puisi belum tentu sajak. 

Pengertian Sajak

Secara umum sajak adalah persamaan bunyi yang ada dalam suatu paragraf. Jadi, jika menjumpai paragraf yang setiap kalimatnya memiliki persamaan bunyi. Maka paragraf tersebut sudah bisa dikatakan sebagai sajak. 

Pada sumber lain, sajak diartikan sebagai adalah sebuah puisi yang berdiri sendiri dan berkaitan dengan bunyi pada kalimat di dalamnya. Dalam susunan sebuah sajak akan dijumpai penggunaan kata dengan intonasi dan konotasi yang mirip. 

Konotasi dan intonasi yang mirip ini kemudian dirangkai dan menunjukan suatu maksud atau tujuan. Sehingga pembacanya bisa menemukan irama pada sajak sekaligus tetap bisa memahami apa yang ingin disampaikan penulis lewat sajak tersebut. 

Namun, sajak bukanlah pantun. Pantun memiliki rima, sajak juga memiliki rima hanya saja tidak ada bagian pembuka dan penutup seperti pantun. Setiap penulis bisa menyusun syair dan dijadikan sajak. 

Umumnya sajak digunakan dalam menulis puisi lama, dan itupun bukan keharusan. Artinya, puisi lama tidak harus menggunakan kata-kata yang intonasi dan konotasinya hampir mirip. BIsa menggunakan banyak jenis kata, dan inilah yang membuat puisi tidak selalu disebut sajak. 

Pengertian Puisi

Supaya mengerti apa saja perbedaan sajak dan puisi, maka selain mempelajari pengertian sajak. Juga perlu mempelajari pengertian dari puisi. Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang berisi ungkapan hati dan perasaan yang membuatnya syahdu. 

Puisi sekilas mirip dengan buku harian, hanya saja ada sejumlah aturan yang mengikat struktur penulisan puisi. Pada puisi akan dijumpai struktur seperti bait, yang berisi kalimat pendek dan berkumpul menjadi satu kelompok. 

Satu puisi bisa terdiri dari beberapa bait yang memiliki rima dan juga irama. Pembacaan puisi kemudian perlu melibatkan perasaan. Sehingga saat menyaksikan lomba baca puisi, maka akan dijumpai penggunaan intonasi khas di setiap baitnya dan menggunakan irama yang mendayu-dayu. 

Karakter ini kemudian membuat puisi bisa diubah menjadi lirik lagu, atau dinyanyikan dengan alunan alat musik. Contohnya adalah pada salah satu adegan di film Ada Apa dengan Cinta. Dimana tokoh perempuannya berada di atas panggung sedang membacakan puisi sambil memetik gitar. 

Seiring berjalannya waktu, puisi tidak hanya digunakan untuk mencurahkan isi hati dan perasaan. Puisi kemudian bisa dijadikan media untuk menjalin komunikasi bahkan menjadi media untuk protes. Misalnya berisi bait-bait kalimat yang menyampaikan protes atau kritikan pada pemerintah. 

Perbedaan Sajak dan Puisi

Melalui penjelasan tersebut, mungkin sudah bisa sedikit dipahami apa perbedaan sajak dan puisi. Lebih detailnya, berikut adalah beberapa perbedaan dari kedua jenis karya sastra tersebut: 

1. Pengertian 

Perbedaan sajak dan puisi bisa dilihat dengan jelas dari pengertian atau definisinya. Dari penjelasan sebelumnya bisa disimpulkan bahwa puisi adalah karya sastra yang menyampaikan perasaan dan isi hati dimana penulisannya terikat oleh aturan. 

Sementara sajak adalah susunan kalimat yang mengungkapkan suatu perasaan yang memiliki persamaan bunyi di bagian akhir maupun di bagian tengah. Dalam sajak umum digunakan kata yang saling berasosiasi atau yang maknanya hampir mirip seperti penjelasan sebelumnya. 

Sehingga sajak juga menitik beratkan pada penggunaan kata yang maknanya indah sekaligus memiliki bunyi yang nyaris sama atau bahkan dibuat sama persis. Penulisan sajak kemudian memiliki PR menjadi kata yang memiliki bunyi akhir sama. 

2. Pengungkapan Kata 

Perbedaan sajak dan puisi yang kedua adalah dilihat dari pengungkapan kata, artinya dari pemilihan kata yang digunakan. Pada puisi, penyair menggunakan kata yang menyampaikan makna secara tersirat atau secara implisit. 

Jadi, puisi kaya akan penggunaan majas atau kata kiasan. Tidak pernah menggunakan kata dengan makna yang lugas dan apa adanya. Selalu dibungkus dengan majas yang membuatnya indah dan maknanya menjadi tersembunyi. 

Sedangkan, pada sajak menggunakan kata yang maknanya bisa implisit dan bisa juga lugas. Point terpenting adalah menggunakan kata yang iramanya sama atau punya keharmonisan bunyi. 

Jadi, lebih sulit yang mana saat menyusunnya? Jika dilihat dari perbedaan sajak dan puisi satu ini, lebih banyak yang mengatakan tingkat kesulitan pada sajak lebih tinggi. Sebab perlu mencari padanan kata sesuai makna dengan akhiran atau bunyi yang sama atau senada. 

Namun, pendapat ini tentu sifatnya subjektif karena setiap penulis karya sastra memiliki tingkat keahlian berbeda dan pandangan berbeda. Bisa jadi, ada yang menganggap penulisan puisi lebih sulit karena alasan tertentu. 

3. Keterikatan Aturan 

Puisi merupakan jenis karya sastra yang terikat oleh aturan, terutama dalam hal struktur kata atau kalimat. Puisi diatur susunan kalimatnya mulai dari jumlah baris, jumlah kata dalam satu baris, dan terikat oleh rima. 

Mengenai rima, aturan ini lebih ditekankan pada puisi lama atau puisi klasik. Puisi di zaman dulu cenderung punya rima yang setiap kata terakhir pada baris puisi memiliki bunyi yang sama. 

Namun, seiring berjalannya waktu terutama di era modern seperti sekarang banyak penulis puisi yang tidak lagi terikat oleh rima. Gaya bahasa yang digunakan lebih bebas dan pemilihan kata yang digunakan juga lebih fleksibel. Kuncinya, adalah makna dari puisi yang tersampaikan dengan baik kepada pembaca. 

Sementara perbedaan sajak dan puisi dilihat dari aspek ini, adalah karena sajak tidak terikat oleh aturan. Meskipun idealnya memiliki kata-kata yang berirama sama di bagian akhir. Namun strukturnya lebih bebas. 

DIluar dari persamaan bunyi, penulis sajak lebih bebas mengekspresikan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan dalam kalimat panjang maupun pendek. Namun rata-rata sajak memiliki kalimat atau baris yang tidak terlalu panjang, nyaris mirip dengan puisi. 

Fungsi Sajak dan Puisi

Meskipun terdapat sejumlah perbedaan antara sajak dan puisi, namun kedua jenis karya sastra ini memiliki fungsi yang tidak jauh berbeda. Secara umum, berikut adalah fungsi-fungsi tersebut: 

1. Mengungkapkan Isi Hati 

Fungsi pertama dari puisi dan sajak adalah menjadi media untuk mengungkapkan isi hati atau perasaan. Sebab lewat karya sastra inilah seorang sastrawan bisa meluapkan apa yang dirasakan dengan lebih mudah. Bagi mereka yang cenderung introvert, mencurahkan isi hati lewat tulisan menjadi satu-satunya pilihan. 

Puisi dan sajak bisa memiliki fungsi seperti ini karena penulis tidak perlu menyampaikan perasaannya secara lisan. Kemudian tidak perlu pula menuliskan perasaannya secara langsung. Bisa menggunakan gaya bahasa dan aneka jenis kosakata unik dan menarik yang punya makna tersirat. 

Pada puisi hal ini bisa dipahami karena memang sarat dengan penggunaan majas. Lalu, bagaimana dengan sajak? Sajak yang meski tidak banyak memakai bahasa kiasan namun memilih kosakata dengan nada atau irama yang sama. Sehingga pemilihan kata kadang tanpa majas pun bisa menyampaikan pesan secara tersirat. 

2. Media untuk Menyampaikan Kritik 

Karya tulis, dimana sajak dan puisi juga termasuk di dalamnya. Bisa digunakan oleh penulisnya untuk menyampaikan kritik maupun keresahan yang dirasakan. Banyak sastrawan yang berhasil menciptakan karya emas dalam kondisi yang kurang mendukung. 

Misalnya di tengah lingkungan yang terjadi konflik, dalam kondisi keluarga yang tidak harmonis, dalam masa pengasingan seperti yang dialami beberapa tokoh pahlawan, dan lain sebagainya. 

Puisi yang mereka ciptakan kemudian menjadi media untuk mengungkapkan kritik dan keresahan yang dialami secara eksplisit. Semakin kesini semakin banyak yang memanfaatkannya untuk tujuan demikian. 

Baik itu untuk mengkritik budaya atau kebiasaan masyarakat yang dianggap melenceng, kritik kepada pemerintah, perusahaan, dan lain sebagainya. Meskipun puisi dan sajak menggunakan bahasa yang dibuat indah. Nyatanya kritik dan keresahan ini bisa disampaikan dengan sempurna. 

3. Media untuk Memberi Motivasi 

Puisi dan sajak juga bisa berfungsi sebagai media pemberi motivasi, yakni dari penulisnya kepada pembaca. Penulis sastra umumnya mengungkapkan suatu perasaan pada karyanya dan bisa jadi merupakan motivasi bagi orang lain. Misalnya pada saat penulis mengalami masa susah atas kematian kedua orangtua. Pada puisi atau sajak tersebut, penulis juga menceritakan perjuangannya hidup tanpa orang tua dan keberhasil yang sudah diraihnya. 

Cerita dalam puisi dan sajak ini kemudian bisa menjadi sumber inspirasi dan memotivasi mereka yang tidak punya orangtua agar tetap gigih berjuang. Sehingga, bagi para penulis yang ingin memberi motivasi atas suatu kondisi. Bisa menuangkannya dalam puisi maupun sajak, lalu dipublikasikan. 

4. Media untuk Refreshing 

Meskipun ada banyak perbedaan sajak dan puisi, namun keduanya juga memiliki sejumlah fungsi yang sama. Selain yang sudah dijelaskan sebelumnya, sajak dan puisi juga punya fungsi sebagai media refreshing. 

Bagi penulis, kegiatan menyusun puisi ataupun sajak bisa membantu melepaskan stres dan mencurahkan isi hati. Sehingga perasaan menjadi lega dan beban pikiran lebih ringan. 

Sedangkan bagi pembaca, membaca sajak maupun puisi menjadi sarana hiburan untuk melepaskan stres dan penat. Sebab bisa jadi pembaca akan mendapatkan inspirasi, motivasi, dan bahkan suatu momen lucu yang disampaikan penulis. 

Contoh Sajak

Supaya lebih mudah memahami perbedaan dan juga bisa menulis entah puisi entah sajak dengan lebih baik lagi. Maka ada contoh sajak maupun puisi yang bisa dijadikan referensi. Berikut adalah contoh sajak: 

Malam itu

Terdengar lagi tangisan sendu

Siapakah beliau

Untaian kata memecah kalbu

Derap langkah tanpa tersipu

Jantung ini terus menderu

Oh Ibu..

Sujudmu

Doamu

Kenapa selalu untukku

Anakmu.

Contoh Puisi

Berikut adalah salah satu contoh puisi: 

Syair Pendidikan

Wahai engkau para pemuda,

Engkaulah pewaris bangsa,

Giatlah belajar sepanjang masa,

Untuk membangun bangsa negara,

Ilmu bukanlah untuk harta semata,

Ilmu tak akan lekang oleh usia,

Sebab ilmu akan membuatmu terjaga,

Dan ilmu akan membuatmu dewasa,

Belajarlah tanpa malas,

Hormatilah semua penghuni kelas,

Masa depan perlu kerja keras,

Kalau perlu energi terkuras,

Hormatilah para guru,

Pandanglah sebagai orang tuamu,

Ilmu senantiasa akan masuk dalam kalbu,

Bersama berkah untuk jiwamu.

Melalui dua contoh di atas maka semakin jelas perbedaan sajak dan puisi, dimana puisi terdiri dari empat baris dan banyak menggunakan majas. Sementara sajak tidak terikat oleh struktur penulisan, bahkan dalam satu baris bisa hanya terdiri dari satu kata saja.

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis