Epilog: Pengertian, Contoh, dan Cara Membuatnya

Pengertian epilog

Pengertian Epilog – ingin menjadi seorang novelis atau penulis sastra? Kamu wajib tahu pengertian epilog, contoh epilog, serta cara membuat epilog. Secara singkat pengertian epilog dapat diartikan sebagai bagian penutup dalam karya sastra yang menyampaikan intisari dari apa yang disampaikan oleh si penulis kepada pembaca ataupun penonton. Terkait penulisan epilog pun tidak boleh dibuat sembarangan. 

Penulis perlu memperhatikan pemilihan diksi dalam pembuatan epilog agar menciptakan kesan yang menarik. Epilog juga menegaskan penyelesaian terhadap masalah yang diangkat. Dalam penulisan karya sastra, selain ada epilog ada yang namannya prolog atau bagian awal karya sastra dimulai. 

Nah, pada artikel kali ini kita tidak akan mengulas tentang prolog, melainkan mengulas tentang epilog pada karya sastra. Agar tidak berbelit-belit, langsung saja simak ulasannya berikut.

Pengertian Epilog Menurut Para Ahli 

Pengertian epilog secara umum sudah disinggung di paragraf awal. Nah, berikut pengertian epilog menurut para ahli ataupun KBBI.

1. KBBI

Menurut KBBI epilog adalah bagian penutup pada karya sastra yang berfungsi untuk menyampaikan intisari cerita. Termasuk juga upaya menafsirkan dari sebuah karya seorang penulis. Epilog juga dapat diartikan sebagai pidato singkat di bagian akhir pada bentuk drama, dimana umumnya berbentuk komentar tentang yang diperankan. KBBI juga mendefinisikan epilog sebagai peristiwa terakhir yang berupaya untuk menyelesaikan peristiwa induk.

2. Wiyanto 

Sementara menurut wiyanto epilog diambil dari bahasa Yunani. Diambil dari kata epilogos yang memiliki arti kesimpulan. Epilog juga dapat dikatakan sebagai outro yang bersifat retoris. Dimana epilog dibuat guna mengajak pembaca, penonton ataupun pendengar agar bisa menangkap hikmah atau pesan yang ingin disampaikan oleh penulis atau penciptanya.

3. Endraswara 

Berbeda dengan pendapat Endraswara yang mengartikan prolog termasuk bagian dari struktur yang ada dalam drama. Jadi dalam sebuah drama memiliki lima struktur yang terdiri dari babak, adegan, dialog, prolog dan epilog. 

Prolog itu sendiri dapat diartikan sebagai bagian naskah yang ingin menonjolkan pesan agar melahirkan penghayatan terhadap karya yang ditulis, dipertunjukan atau semacamnya. Dapat pula diartikan sebagai tempat untuk menyimpulkan isi drama. tentu saja ini sangat membantu memberikan penegasan kesimpulan kepada para penikmat sastra.

4. Asmara 

tidak jauh berbeda dengan pendapat Asmara, yang mengartikan bahwa epilog sebagai kata penutup dalam karya sastra maupun dalam pementasan. Tujuan pembuatan epilog bertujuan untuk membuat kesimpulan yang menarik dan memberikan pembelajaran yang patut diambil oleh pembaca ataupun penonton.

Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa epilog adalah rangkuman yang disampaikan di bagian akhir. Rangkuman yang dibuat ini sebagai bentuk kilas balik untuk menegaskan pesan amanat kepada penikmatnya.

Fungsi Epilog Dalam Sebuah Karya

Bagi sebagian penulis, prolog tidak begitu penting, sementara bagi penulis yang lain prolog memiliki peran dan fungsi yang sangat penting. Apa saja sih fungsi tersebut? Sebagai berikut. 

1. Tambahan informasi setelah cerita berakhir

Penting banget nih, terutama buat kamu yang memang ingin menekuni dunia sastra tulis ataupun seni pertunjukan. Ternyata epilog menjadi central penting dalam memberikan penekanan terhadap amanat cerita ataupun amanat pesan. 

banner-di-artikel (1)

Dimana epilog dapat dijadikan sebagai tambahan informasi setelah cerita berakhir. Kita tahu bahwa saat kita menulis sebuah karya, ada banyak orang yang membaca dan setiap pembaca memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada tipe pembaca yang dapat menyimpulkan amanat bacaan sendiri, ada juga yang butuh penulis untuk membuat epilog untuk menegaskan amanat yang diinginkan oleh si pencipta karya. 

2. Memberikan pesan cerita

Fungsi epilog yang kedua sudah pasti bertujuan untuk memberikan pesan cerita. Memang ada beberapa tipe penulis yang membiarkan pembaca yang membuat pesan cerita berdasarkan perasaan dan penghayatan mereka. 

Kelemahan menyerahkan pembaca untuk membuat epilog sendiri adalah bisa jadi pesan yang diperoleh berbeda jauh dari keinginan penulis. kelebihan memasrahkan pembaca mengambil pesan cerita sendiri, penulis tidak perlu repot-repot lagi membuat epilog. 

Kecuali kamu ingin amanat karya kamu tidak simpang siur dan tidak beragam di mata pembaca. Maka kamu wajib membuat prolog untuk menyamakan sudut pandang terkait amanat cerita yang ingin kamu ceritakan. Tentu saja bagi pembaca yang susah berkonsentrasi membaca, epilog ini sangat membantu mereka untuk memahami isi karya kamu loh. 

3. Peluang untuk menghadirkan sekuel

Fungsi pembuatan epilog ternyata tidak hanya memberikan pesan cerita dan sebagai tambahan informasi setelah cerita berakhir. Tetapi juga memberikan peluang untuk menghadirkan sekuel. Barangkali ada yang belum tahu tentang sekuel?

Istilah sekuel ini dapat diartikan sebagai lanjutan cerita yang sebelumnya pernah dibuat atau ditayangkan. Istilah sekuel ternyata menjadi sebuah daya tarik, terutama mereka yang sudah memiliki penggemar dan penasaran ingin mengetahui kelanjutan cerita sebelumnya.

Itulah beberapa fungsi dari kehadiran epilog. Semoga dengan pembahasan yang singkat ini memberikan gambaran bagaimana seharusnya kamu membuat epilog. 

Ciri-ciri Epilog 

Buat kamu yang merasa kesulitan membedakan antara prolog dan epilog. Banyak orang yang salah membedakan antara epilog dan prolog. Nah, buat kamu yang ingin mendalami dunia sastra harus tahu bagaimana ciri-ciri epilog. Berikut ada beberapa ciri-ciri epilog yang digarisbawahi. 

  1. Epilog pasti diletakan di bagian akhir cerita, sementara prolog umumnya diletakan dibagian awal cerita.
  2. Dari teknis penulisan kalimat berupa kesimpulan yang memuat kata-kata berpetuan, berhikmah dan menyampaikan intisari yang ingin disampaikan ke penikmat. 
  3. Mengulas secara singkat nasib tokoh di akhir konflik 
  4. Karena berupa kesimpulan, nah, dibagian inilah penulis dibolehkan menuliskan mengucapkan ucapan terima kasih
  5. Jika karya yang kamu tulis akan kamu buat dalam bentuk sekuel, maka epilog dibuat sebagai jembatan cerita yang sudah dibuat dengan cerita yang akan muncul di waktu yang akan datang.

Itulah ciri-ciri dari epilog. Jadi memang berbeda jauh dengan prolog. Prolog cirinya ada di bagian awal cerita, sementara prolog ada di bagian akhir cerita. 

Contoh Epilog

Saat berbicara contoh epilog, sebenarnya ada banyak jenis epilog, ada epilog novel, epilog puisi dan masih banyak lagi. Berikut contoh epilog dari buku “Kakawin Ramayana” 

Saksat Manmatha sila sang Raghusutamenuhi wisaya dharma ring sarat Ngkan Ramayana bhadrawada nira mogha mawangi rumesep teke hatiSang Yogiswara sista sang sujana suddha manah ira huwus mace sira.Byaktawas ucapanta ring julung adohmuka pinaka nimiitaning lepas.(Ramayana, XXV : 50).

Dari epilog di atas, ternyata memiliki penafsiran terkait angka dan tahun yang mana jika diterjemahkan. Nah, untuk lebih lanjut terkait penafsiran memang akan banyak sekali definisi ilmiahnya.

Adapun contoh epilog yang lain, kamu bisa cek di banyak portal online. Buat kamu yang suka baca novel ataupun karya sastra, pasti sudah tahu epilog itu seperti apa. Karena umumnya setiap karya sastra pasti ada epilog ini. Hanya saja ada yang ditulis secara tersurat dan ada juga yang ditulis secara tersirat oleh penulisnya. 

Cara Membuat Epilog 

Kamu merasa kesulitan membuat epilog itu bagaimana? Ternyata cara membuat epilog itu tidaklah sulit. Kamu cukup mengikuti tips cara berikut. 

  1. Berisi mengenai kondisi masa depan setelah cerita utama selesai

Cara pertama, kamu cukup menuliskan kondisi masa depan setelah cerita utama selesai. Agar epilog terasa lebih hidup, kamu hanya tinggal memasukan emosi disertai dengan pemilihan diksi yang pas dan menarik. 

Penting banget nih kamu memperhatikan kondisi dari cerita yang kamu tulis. Hal yang paling tidak kalah penting lagi, naskah harus sudah ada dan selesai. Karena jika tidak ada naskah yang fix, maka tidak bisa membuat epilog. Karena sara membuat epilog harus ada naskah yang sudah jadi. 

  1. Tetapkan latar tempat dan waktu epilog terjadi

Cara membuat epilog yang kedua, pastikan bahwa kamu sudah menentukan latar tempat dan waktu. Tempat dan waktu ini juga membantu pembaca untuk membangun emosi dan membangun imajinasi noh. Jadi jangan anggap hal ini tidak penting. 

Tapi ingat, saat menuliskan epilog, cukup tuliskan latar tempat dan waktu secara singkat padat dan jelas. Jangan terlalu panjang. Karena epilog itu sendiri dibuat tidak terlalu panjang. Secukupnya saja, seperti halnya kesimpulan. 

  1. Buat Epilog yang sederhana dan tidak terlalu panjang

Sudah disinggung sebelumnya, epilog tidak ditulis dalam jumlah panjang ataupun berlembar-lembar. Cukup ditulis secara singkat. Adapun tips agar epilog menarik, namun tidak bertele-tele. Pastikan ditulis menggunakan bahasa yang sederhana, singkat, padat dan jelas. Meskipun ada unsur-unsur yang harus dituliskan dalam epilog, pastikan tetap memperhatikan keefektifan kalimat. 

  1. Jangan terjebak “Happy ending”

Kesulitan yang paling umum dilakukan oleh pemula adalah terjebak pada ending cerita yang happy ending. Ingat, membuat sebuah karya sastra itu tidak melulu berakhir bahagia. Tidak masalah karya sastra kamu berakhir tragis dan unhappy ending. Karena amanat cerita atau pesan pembelajaran yang disampaikan kepada pembaca tidak melulu dengan analogi kebahagian. 

Justru dari kesedihan, luka, dan  kekecewaanlah yang memberikan banyak pelajaran hidup. Intinya fokus pada amanat dan peesan cerita.  Bukan justru sebaliknya, terjebak pada akhir yang MENGHARUSKAN happy ending. 

  1. Jika ada sekuel, pastikan ceritanya menggantung

Jika konteks karya kamu ingin didesain sebagai sekuel. Maka epilog dibuat semenarik mungkin, dan membuat penikmatnya penasaran. Jika perlu, buat ending yang menggantung, agar penikmat tidak sabar menunggu kelanjutan cerita. 

Oh iya, jika ingin membuat karya sekuel, pastikan untuk mengkonsep dari awal. Jangan dibuat dadakan saat karya hampir selesai ditulis. Sebenarnya boleh-boleh saja, namun alangkah lebih baiknya jika sudah diperhitungkan dengan matang. Agar konflik da nisi cerita lebih menantang. 

Itulah ulusan dari Bukunesia mengenai beberapa cara membuat epilog yang bisa kamu coba. Memang tidak mudah bagi pemula. Meskipun sulit, jika dibiasakan berlatih dan berlatih tanpa lelah, akan mudah dengan sendirinya. Dari segi kualitas karya pun juga semakin berbobot.  Semoga sedikit ulasan tentang epilog ini bermanfaat.

Penulis: Irukawa Elisa

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis