Majas Litotes: Pengertian, Ciri-Ciri dan Contoh

Unsur-Unsur intrinsik dan ekstrinsik novel

Saat berada di bangku SMP atau mungkin SMA tentunya sudah pernah mendapat pelajaran tentang majas litotes. Majas jenis ini termasuk ke dalam jenis-jenis majas yang jumlahnya sangat beragam. Kemudian, pembahasan tentang majas masuk ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. 

Jika membahas mengenai majas maka dijamin akan menikmati proses belajar mengajar tersebut. Sebab materi ini memang menyenangkan karena bisa membantu mengenal berbagai bentuk gaya bahasa. Jika diterapkan maka bisa memperindah karya tulis yang disusun. Salah satu majas yang perlu dikenal adalah litotes, dan berikut penjelasannya. 

Pengertian Majas Litotes

Majas litotes adalah majas atau gaya bahasa yang menggambarkan suatu keadaan lebih rendah dari seharusnya dengan maksud untuk merendahkan diri padahal aktualnya justru sebaliknya. Jadi, majas ini digunakan untuk merendahkan diri meskipun memiliki banyak kelebihan. 

Majas jenis ini menarik untuk dibahas, dipahami, sekaligus digunakan baik dalam karya tulis maupun praktek secara langsung. Sebab dengan pengetahuan tentang litotes maka seseorang bisa paham bagaimana mengungkapkan kelebihan diri sendiri secara tersirat. Sehingga orang-orang disekitarnya tidak merasa tersinggung. 

Majas ini juga membantu untuk membangun sifat rendah hati, tidak mudah sombong atas kelebihan yang dimiliki. Penggunaannya pun tidak hanya bisa pada keseharian saja, melainkan juga pada banyak karya. Misalnya pada karya tulis, khususnya karya tulis non ilmiah atau fiksi

Majas ini sendiri masuk ke dalam jenis majas pertentangan, yang bertujuan untuk mempengaruhi orang lain dengan cara merendahkan diri. Penggunaan litotes bertujuan untuk mengecilkan fakta dan bisa digunakan untuk kesopanan dan menghaluskan pembicaraan sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya. 

Ciri-Ciri Majas Litotes

Majas litotes kemudian memiliki sejumlah ciri khas atau karakteristik yang membedakannya dengan majas lain, termasuk dengan sesama majas dari jenis majas pertentangan. Adapun ciri-ciri yang dimiliki antara lain: 

1. Menggunakan Kata Kiasan 

Majas jenis litotes umumnya menggunakan kata kiasan, kata ini digunakan untuk memberi perumpamaan pada suatu kondisi dengan kondisi lainnya. Sehingga pembaca maupun pendengar perlu memahami arti dari kata kiasan tersebut. Supaya bisa paham apa maksud yang ingin disampaikan oleh penulis atau pembicara. 

2. Menggunakan Kata-Kata yang Merendahkan Diri 

Sesuai dengan definisinya, majas jenis litotes secara umum menggunakan kata yang tujuannya untuk merendahkan diri. Sehingga akan ada banyak kata yang mengarah ke tujuan tersebut. Detailnya nanti bisa dilihat pada beberapa contoh litotes di bagian bawah. 

3. Membandingkan Dua Hal yang Berbeda 

Meskipun litotes masuk ke dalam majas pertentangan, namun tetap menggunakan kata-kata yang membandingkan dua hal berbeda. Namun dianggap sama dan menjadi pilihan kata yang dinilai bisa membantu merendahkan diri. 

Sehingga sering menggunakan pembanding yang pada dasarnya berbeda terlalu jauh. Misalnya membandingkan rumah yang megah dengan gubuk reyot, membandingkan lahan gersang dengan area persawahan subur yang dimiliki, dan lain sebagainya. 

4. Menyampaikan Niat Tinggi dengan Lebih Halus 

Ciri berikutnya dari majas litotes adalah menyampaikan niat yang tinggi dengan kata-kata atau kalimat yang lebih halus. Tujuannya sekali lagi untuk merendahkan diri. Pada beberapa kondisi majas jenis ini juga bisa digunakan untuk menyombongkan diri namun dengan cara tersirat agar lebih elegan. 

Misalnya menyampaikan seseorang untuk mampir ke klinik yang baru saja dibuka. Disampaikan klinik tersebut baru dan masih kecil. Namun aktualnya tidak demikian. Bisa jadi klinik tersebut sudah besar meskipun baru dan menyediakan fasilitas lengkap. Namun, karena ingin merendah maka disampaikan hal sebaliknya. 

Cara seperti ini tentu dianggap lebih sopan dan juga lebih mudah diterima oleh siapa saja sekaligus oleh semua kalangan. Lain halnya jika sejak awal sudah mengatakan punya klinik baru yang besar dan fasilitasnya lengkap. Lawan bicara bisa jadi merasa malas untuk datang karena sadar pemilik klinik cukup sombong dengan usahanya. 

5. Menggunakan Kata yang Berlawanan dengan Kenyataan 

Ciri berikutnya dari litotes adalah selalu menggunakan kata yang berlawanan dengan kenyataan. Sebagaimana dengan penjelasan sebelumnya, dimana majas ini cocok digunakan untuk merendah maupun untuk menunjukan kesopanan. 

Bisa digunakan untuk merendahkan diri terkait status sosial, keindahan paras (cantik atau tampan), kecerdasan otak, prestasi yang diraih, kondisi tempat kerja, kondisi tempat tinggal, dan lain sebagainya. 

Fungsi Majas Litotes

Menggunakan majas jenis litotes kemudian bisa dijadikan pilihan untuk beberapa tujuan. Sebab majas jenis ini memiliki sejumlah fungsi, diantaranya adalah: 

  • Memberikan efek kesenangan yang bersifat imajinatif kepada pembaca atau pendengar. Sebab mencoba untuk menggunakan kata kiasan dengan maksud merendah sehingga membuat kalimat yang terucap atau tertulis lebih santun dan lebih enak didengar. 
  • Majas jenis litotes juga bisa membangun imajinasi yang luas kepada lawan bicara maupun pembaca. Sebab penggunaan kata kiasan dan sifatnya abstrak membantu mereka melakukan imajinasi untuk menggambarkan apa yang dimaksud pembicara atau penulis. 
  • Berfungsi untuk mengungkapkan perasaan penulis maupun pembicara dalam banyak hal, bisa terkait prestasinya maupun harta benda yang dimiliki. Namun dengan cara yang baik dan tidak menimbulkan prasangka yang buruk. 
  • Berfungsi untuk menjelaskan suatu hal dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Tentunya dengan cara yang halus sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya. 

Contoh Majas Litotes 

Supaya lebih paham lagi mengenai pengertian dan penerapan majas litotes, maka berikut adalah beberapa contohnya: 

  1. Jika ada waktu silahkan mampir ke gubuk kami. (gubuk digunakan untuk menjelaskan rumah yang dimiliki, dan biasanya kondisinya tidak seburuk gubuk). 
  2. Saya hanya punya motor butut ini dari hasil kerja selama 2 tahun. (motor butut digunakan untuk merendahkan aset kendaraan bermotor yang dimiliki, namun aktualnya motor yang dimiliki di mata orang lain bisa jadi motor yang bagus, handal, mahal, dan sebagainya). 
  3. Terima dan simpan uang yang tidak seberapa ini, barangkali butuh. (kata tidak seberapa bertujuan untuk menjelaskan jumlah uang yang sedikit, padahal bagi penerima bisa jadi jumlah tersebut banyak). 
  4. Jangan sungkan minta bantuan ke orang kurang pengalaman seperti saya. (kata kurang pengalaman digunakan untuk merendah, padahal aktualnya si pembicara bisa jadi lebih punya banyak pengalaman di suatu bidang). 
  5. Mohon berkenan hadir ke pesta kecil-kecilan yang kami selenggarakan. (kata pesta kecil-kecilan digunakan untuk merendah karena bisa jadi pesta yang digelar sangat megah). 
  6. Saya hanya pegawai biasa di kantor. (kata pegawai biasa hanya kiasan, karena aktualnya bisa jadi memegang jabatan tinggi di kantor). 
  7. Hadiah ini terima ya meski tidak seberapa. (kata tidak seberapa untuk merendah, karena bagi penerima bisa jadi hadiah tersebut mewah atau sangat berkesan meski tidak mahal). 
  8. Hidup saya penuh kesederhanaan, jadi tidak perlu sungkan untuk kenal. (kata penuh kesederhanaan untuk merendah, biasanya dilakukan orang kaya yang gaya hidupnya bisa saja tidak sesederhana ucapannya). 
  9. Silahkan dinikmati sajian yang alakadarnya ini. (kata alakadarnya dimaksudkan untuk merendah, bisa jadi bagi tamu yang dijamu mendapatkan hidangan yang mahal). 
  10. Saya punya usaha kecil-kecilan di Bali, Alhamdulillah bisa untuk makan sehari-hari. (kata usaha kecil-kecilan bisa dipakai untuk menyebut usaha besar dengan profit tinggi). 

Penjelasan tentang majas litotes diatas tentu membantu memahaminya dengan baik. Sehingga bisa menggunakannya di waktu yang tepat dan di momentum terbaik. Silahkan mencobanya.

Baca artikel penting lainnya dari Penebit Bukunesia:

Bagikan artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram

Artikel oleh

Artikel Terbaru