Unsur Intrinsik Puisi: Pengertian dan Jenis-Jenisnya

unsur intrinsik puisi

Mengenal berbagai unsur intrinsik puisi ternyata cukup bahkan sangat penting. Salah satunya untuk mengenal apa saja yang perlu dilakukan untuk menyusun puisi yang bagus. Puisi termasuk ke dalam karya sastra dan seperti karya sastra pada umumnya ada unsur tertentu yang membangun isinya. 

Puisi juga demikian. Puisi bisa tersusun dari baris kata yang indah dan kaya akan majas ketika ada unsur tertentu yang membangunnya. Unsur-unsur inilah yang perlu dikenal lebih dalam. Supaya kedepannya bisa menulis puisi dengan baik sekaligus bisa menjadi penikmat puisi yang bijak. 

Apa Itu Unsur Intrinsik Puisi? 

Unsur utama yang membangun sebuah puisi adalah unsur intrinsik. Unsur intrinsik pada puisi adalah unsur-unsur yang membangun puisi dari dalam. Jadi, segala hal yang dicantumkan di dalam puisi masuk ke dalam unsur intrinsik tersebut. Sehingga pembaca puisi bisa mengetahui apa saja unsur intrinsik dari puisi yang dibacanya. 

Kebalikan dari unsur intrinsik adalah unsur ekstrinsik, yakni unsur yang membangun puisi dan berasal dari luar. Unsur ekstrinsik berbeda dengan unsur intrinsik yang tercantum dengan jelas di dalam puisi. Sedangkan unsur ekstrinsik tidak tercantum, namun ada kalanya disampaikan secara tersirat oleh penulis puisi. 

Kedua unsur ini sangat penting untuk dimiliki oleh penulis puisi. Adanya unsur intrinsik membantu penulis untuk menentukan tema seperti apa yang akan diangkat menjadi puisi. Sedangkan unsur ekstrinsik akan menentukan permasalahan apa yang dihadapi penulis dan kemudian disampaikan ke dalam puisi. 

Keduanya kemudian saling terhubung satu sama lain. Tanpa unsur intrinsik maka puisi tidak akan selesai ditulis. Sebaliknya, jika hanya ada unsur intrinsik tanpa ekstrinsik maka puisi juga tidak akan bisa diselesaikan oleh penulisnya. Hal ini menunjukan bahwa hubungan keduanya sangat erat. 

Mengenai unsur intrinsik, puisi punya ciri khas yang membuatnya berbeda dengan karya sastra lain dari unsur ini. Maka memahami unsur intrinsik puisi sangat penting agar bisa memahami betul bagaimana menulis puisi dengan benar. Sekaligus bisa menyampaikan tema dan amanat dengan benar juga. 

Unsur Intrinsik pada Puisi 

Khusus untuk unsur intrinsik puisi, diketahui terbagi menjadi dua bentuk utama. bentuk yang pertama adalah unsur fisik dan yang kedua adalah unsur batin. Masing-masing kemudian terbagi lagi menjadi beberapa bentuk.

Unsur intrinsik terbagi menjadi dua yaitu, unsur batin dan unsur fisik, yaitu unsur fisik dan unsur batin.

A. Unsur Fisik 

Unsur intrinsik puisi yang pertama adalah unsur fisik. Yaitu sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Secara sederhana unsur fisik ini adalah unsur yang membangun struktur puisi. Unsur ini yang kemudian membantu pembaca membedakan puisi dengan karya sastra jenis lainnya. 

Jadi, inilah alasan kenapa puisi bisa langsung disebut puisi oleh siapa saja yang melihat bentuk tulisan dan bagaimana kalimat dirangkai di dalamnya. Sekaligus bisa menyebut novel bukan sebagai puisi, karena secara struktur keduanya berbeda. 

Meskipun sama-sama karya sastra dan sama-sama menjadi media bagi penulisnya untuk menyampaikan sesuatu.  Adapun bentuk unsur fisik pada puisi yang dimaksudkan mencakup: 

1. Diksi 

Unsur fisik yang pertama adalah diksi. Dikti pada puisi adalah pemilihan kata-kata yang digunakan oleh penyair dalam puisinya. Pemilihan kata menjadi sangat penting di dalam sebuah puisi. Sebab salah satu ciri khas karya sastra ini adalah menggunakan sedikit kata dan bentuknya padat. 

Jika dalam sebuah novel penulis butuh satu bahkan lebih dari tiga paragraf untuk menyampaikan maksudnya. Maka dalam puisi, penyair perlu menyampaikan maksudnya dalam bentuk satu atau dua baris kalimat. Dimana satu kalimat seringnya terdiri dari 5 kata atau 7 kata saja. 

Diksi kemudian menjadi unsur intrinsik yang membangun struktur puisi secara khas. Pemilihan kata yang digunakan kemudian membedakan puisi dengan karya sastra lain. 

Saat orang membaca puisi, maka pendengarnya bisa langsung tahu seseorang tersebut tengah membaca puisi bukan karya sastra lain. 

2. Gaya Bahasa 

Unsur fisik dalam unsur intrinsik puisi yang kedua adalah gaya bahasa atau majas. Gaya bahasa adalah penggunaan bahasa perumpamaan, sehingga suatu benda yang disebutkan seolah-olah punya sifat lain yang dimiliki benda lainnya. 

Jika dalam karya sastra lain penggunaan gaya bahasa atau majas ini sangat minimal. Maka pada puisi penggunaannya cukup sering dijumpai, sebab salah satu sentuhan estetika atau keindahan pada puisi terletak dari unsur ini. 

Tanpa menggunakan gaya bahasa atau majas, maka bahasa di dalam puisi tidak akan terdengar indah ketika dibaca. Sehingga saat membaca puisi akan menjumpai gaya bahasa konotatif, berlebihan, dan bisa juga terkesan merendahkan diri. 

Adapun mengenai gaya bahasa, setiap penulis puisi atau penyair punya gaya bahasanya sendiri. Ada yang lebih suka menggunakan majas personifikasi ada yang tidak. Majas yang umum digunakan mencakup majas personifikasi, metafora, eufemisme, dan kadang memakai majas ironi. 

3. Rima 

Unsur fisik yang ketiga di dalam puisi adalah rima. Rima merupakan persamaan bunyi pada puisi baik itu di bagian awal dengan akhir, maupun awal dengan tengah, dan seterusnya. Sekilas, puisi akan mirip dengan pantun dimana ciri khas pantun adalah berima. 

Hanya saja, puisi tidak terikat oleh jumlah baris seperti pada pantun. Biasanya pantun digunakan untuk menyampaikan suatu pemikiran atau mengobrol. Sementara puisi digunakan untuk meluapkan emosi yang dimiliki ke dalam sebuah karya sastra. 

Penggunaan rima pada puisi klasik biasanya sangat kuat, nyaris setiap baris mengandung rima. Namun tidak demikian dengan puisi modern, dimana banyak penyair yang tidak menggunakan rima sama sekali. Beberapa lagi menggunakan rima sesekali dalam karyanya. 

4. Imaji

Unsur intrinsik puisi dalam kategori unsur fisik selanjutnya adalah imaji. Imaji pada puisi merupakan unsur yang melibatkan indra manusia seperti indra penglihatan, indra pendengaran, indra perasa, dan lain sebagainya. Sehingga puisi mengajak pembacanya untuk merasakan suatu hal. 

Misalnya puisi yang menggambarkan rasa jatuh cinta yang dialami seseorang. Maka penyair akan berusaha meminta pembaca menggunakan indra perasaannya untuk ikut merasakan sensasi jatuh cinta tersebut. Begitu juga dengan tema lain yang bisa mengundang pembaca menggunakan indranya. 

Misalnya puisi yang menggambarkan kemegahan Gunung Merapi. Lewat barisan kalimat estetik, penyair bisa menyampaikan betapa gagahnya Gunung Merapi ketika dilihat secara langsung. Hal ini akan membuat pembaca melakukan imajinasi melihat langsung Gunung Merapi. 

5. Tipografi 

Puisi diketahui tidak hanya bermain dengan kata-kata lewat gaya bahasa dan rima, melainkan juga bermain dengan bentuk. Maka dalam unsur fisik puisi terdapat unsur tipografi. Tipografi pada puisi adalah bentuk fisik atau struktur susunan kata-katanya. 

Puisi meskipun memiliki rima, namun struktur bentuknya khas yakni terkesan bebas tanpa ikatan. Puisi tidak harus diawali dengan huruf kapital di setiap kata pertamanya. Sekaligus tidak diakhiri dengan tanda titik di akhir kalimatnya. 

Panjang pendek kalimat juga bebas, tidak ada aturan khusus. Sehingga sangat mudah menjumpai puisi yang satu barisnya hanya terdiri dari dua sampai tiga kata, bahkan hanya dengan satu kata. Kemudian ada juga yang cukup panjang. 

Jika membahas mengenai unsur intrinsik puisi dari tipografi, maka biasanya mengetahui bentuk puisi dalam bentuk baris. Padahal bentuk puisi yang sifatnya tidak terikat tadi membuatnya punya banyak bentuk. 

Misalnya dibuat menjadi fragmen-fragmen, ada yang disusun membentuk buah apel, bunga, dan lain sebagainya. Tidak adanya ikatan dalam bentuk membuat penyair leluasa menuliskan puisi dengan cara bagaimana. Tidak ada batasan dalam hal ini. 

6. Kata Konkret 

Puisi dari unsur fisik juga memiliki kata konkret. Kata konkret pada puisi adalah unsur yang melibatkan indra imajinasi dari manusia atau pembacanya. 

Jika dilihat dari KBBI, kata konkret pada puisi adalah kata-kata yang memiliki makna atau acuan yang bisa dirasakan, didengar, dilihat, dan atau dicium oleh indra manusia. 

Puisi lewat unsur ini bisa menggunakan kata-kata yang mendorong daya imajinasi pembacanya dan menggunakan sejumlah indra. Misalnya merasakan emosi yang juga dirasakan penyair pada saat menulis sebuah puisi. 

Berbeda dengan unsur imaji, dimana imaji lebih condong kepada penggunaan kalimat yang menuntut penggunaan indra manusia. Kata konkret mencoba menggambarkan sebuah benda, sebuah hal, atau sebuah emosi dengan kata kiasan yang membutuhkan indra manusia. 

B. Unsur Batin 

Jenis unsur intrinsik puisi yang kedua adalah unsur batin. Unsur batin puisi adalah unsur yang berkaitan dengan batin dalam pembacaan puisi. Unsur batin pada puisi mengarah pada permasalahan dan emosi yang dibahas di dalam emosi. 

Sehingga sebuah puisi bisa menjadi sarana bagi penulisnya untuk menyampaikan sebuah permasalahan. Atau mungkin menyampaikan sebuah emosi yang dirasakan oleh penulis tersebut. 

Emosi ini seperti emosi ketika merasakan jatuh cinta, marah kepada orangtua, marah kepada Tuhan, rasa sayang kepada anak, dan lain sebagainya. Semua perasaan dan permasalahan yang dihadapi penulis atau yang menarik perhatian dan minat penulis kemudian bisa dituangkan menjadi puisi. 

Sama seperti unsur intrinsik puisi secara fisik, unsur batin ini juga punya beberapa bentuk. Cakupannya antara lain: 

1. Tema

Unsur batin yang pertama dari bagian unsur intrinsik puisi adalah tema. Tema pada puisi adalah persoalan utama atau ide utama yang diungkapkan penyair dalam puisi yang ditulisnya. Sepanjang apapun baris sebuah puisi, temanya hanya ada satu. 

Jika puisi tersebut mengangkat tema tentang jatuh cinta. Maka dari baris pertama sampai akhir akan digunakan penyair untuk menggambarkan perasaan jatuh cinta tersebut. Begitu juga dengan tema lainnya, yang akan menguasai puisi secara keseluruhan. 

Jadi, pada saat ingin menulis puisi maka perlu menentukan satu tema terlebih dahulu. Satu tema ini kemudian diungkapkan dengan berbagai kalimat yang memenuhi unsur-unsur fisik yang dijelaskan sebelumnya. Sebab bukan puisi namanya jika dalam satu judul menceritakan dua tema bahkan lebih. 

2. Amanat 

Unsur batin yang kedua dalam puisi adalah amanat, yaitu pesan yang ingin disampaikan penulis atau penyair ke dalam puisi buatannya. Sama seperti tema, amanat di dalam sebuah puisi juga bersifat tunggal. Satu judul puisi hanya memiliki satu amanat. 

Puisi yang memiliki bentuk padat dan menggunakan sedikit kata maupun kalimat. Membuat penulisnya harus jeli memperhatikan amanat yang akan disampaikan. Pastikan amanat ini tersampaikan dengan baik dari baris-baris puisi yang berhasil disusun. Sebab puisi tanpa amanat badan badan tanpa nyawa. 

Lewat amanat inilah, penyair kemudian bisa menulis puisi dengan berbagai tujuan. Mulai dari menggambarkan perasaan yang dirasakannya saat menulis puisi. Sampai menyampaikan kritik terhadap suatu pihak. Inilah alasan kenapa puisi modern tidak punya rima yang kuat sebagaimana puisi klasik. 

Sebab dengan adanya rima, maka ada kekhawatiran amanat yang ingin disampaikan penyair tidak tersampaikan dengan baik. Sehingga tidak perlu terikat oleh rima untuk menghasilkan satu judul puisi yang utuh. 

3. Emosi 

Unsur intrinsik puisi dari jenis batin berikutnya adalah emosi. Emosi pada puisi adalah perasaan yang dituangkan oleh penulis atau penyair ke dalam puisi yang disusunnya. Sehingga pembaca puisi kemudian bisa merasakan perasaan yang dirasakan penyair tersebut. 

Perasaan ini mencakup perasaan sayang, cinta, benci, rindu, jijik, marah, dan lain sebagainya. Sehingga segala hal yang melibatkan perasaan penyair masuk ke dalam unsur emosi. Unsur emosi sangat penting dalam menyusun puisi yang bagus atau yang berkualitas. 

Sebab emosi ini memaksimalkan penggambaran tema dan memudahkan penyampaian amanat dengan baik, tanpa ada kesalahan persepsi. Unsur emosi sekaligus menyumbang sentuhan estetika pada bentuk puisi. Sehingga semakin indah dan semakin banyak orang bisa menikmati puisi tersebut. 

Supaya lebih mudah memahami unsur emosi di dalam sebuah puisi maka perlu mengetahui contoh-contohnya. Contohnya adalah adanya perasaan marah dari penyair jika mengangkat tema korupsi pada puisinya. Kemudian ada perasaan sedih ketika membahas tema tentang kemiskinan dan kematian. 

4. Tone (Nada) 

Unsur terakhir di dalam unsur batin puisi adalah nada atau tone, beberapa juga menyebutnya dengan istilah tonasi. Nada adalah nada atau suasana yang menggambarkan perasaan penulis sebuah puisi. Nada ini akan membantu pembaca memahami perasaan dan emosi penulis. 

Bentuk nada dalam puisi sangat beragam. Misalnya ada penyair yang mengungkapkan rasa kecewa bukan dengan kalimat yang mengandung emosi kemarahan. Melainkan menggunakan kalimat yang menyindir atau kalimat mengandung makna satir. 

Ada juga penulis puisi yang justru menampilkan kekecewaannya dengan apa adanya. Memakai kata sederhana dilingkupi sejumlah majas, dan kemudian kekecewaannya dengan mudah dipahami pembaca. Setiap penyair atau penulis puisi punya ciri khas dalam membentuk dan menentukan nada. 

Nada dalam puisi juga bisa digunakan penyair untuk mengajak pembaca berdialog. Pembaca bisa memiliki pandangan serupa atau mengamini pendapat penyair dari puisi yang dibacanya. Jika menggunakan nada yang pas, maka tujuan ini bisa dengan mudah dicapai oleh penyair. 

Puisi adalah karya sastra yang menggunakan susunan kata menjadi kalimat yang indah. Biasanya kental dengan penggunaan majas, dan juga menggunakan aneka kata serapan. Oleh penulis puisi bisa mengejar rima namun bisa juga tidak. 

Meskipun tidak ada rima, namun puisi akan tetap indah ketika dibaca. Sebab menggunakan kata-kata yang punya makna mendalam, bentuknya pendek dengan tema yang jelas, dan juga seringkali memberi efek menenangkan bagi pembacanya. 

Apabila merasa selama ini menyukai puisi dan punya banyak koleksi antologi puisi dari berbagai penulis puisi ternama di Indonesia dan bahkan dunia. Maka bisa mencoba menulis puisi sendiri. 

Pertama, tentu saja perlu mengenal berbagai unsur intrinsik puisi yang dijelaskan di atas. Sehingga bisa paham bagaimana menulis puisi yang indah dan punya ciri khas. Jika sudah menyelesaikan beberapa puisi, pertimbangkan untuk menerbitkannya menjadi antologi puisi. Pertimbangkan juga untuk ikut ke berbagai ajang lomba menulis puisi.

Penulis: Puji

Baca artikel terkait lainnya:

Bagikan artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram

Artikel oleh

Artikel Terbaru