6 Unsur Kebahasaan Cerpen dan Penjelasan

6 Unsur Kebahasaan Cerpen

Unsur kebahasaan cerpen – Cerpen kepanjangan dari cerita pendek. Cerpen merupakan karya sastra yang dibuat secara singkat dan berbentuk prosa naratif. Dimana cerpen hanya fokus pada satu permasalahan atau satu konflik saja.

Terlepas dari ilmu teoritis cerpen, ternyata proses penulisannya tidak asal menulis cerita saja. Ada unsur yang harus diketahui bagi setiap penulis cerpen, yaitu unsur kebahasaan cerpen.

Unsur penulisan cerpen ada dua bentuk, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Di dalam unsur intrinsik terdapat tema, penokohan, alur, latar, gaya bahasa, sudut pandang dan amanat. 

Baca juga: Cara menentukan Tema Cerpen

Sementara unsur ekstrinsik terdiri dari ideologi penulis, amanat, dan setting cerita. 

Kebahasaan Cerpen

Secara singkat sudah disinggung tentang unsur kebahasaan cerpen. Adapun beberapa ciri kebahasaan cerpen, penasaran apa saja sih ciri-cirinya? Langsung simak ulasan berikut. 

1. Penggambaran Lampau

Ciri kebahasaan cerpen yang pertama, cerpen ditulis menggunakan penggambaran lampau. Cerpen ditulis seolah-olah terjadi pada zaman dahulu, dan di masa yang sudah terjadi. Karena cerpen adalah cerita fiktif, maka penggambaran masa lampau bisa dikembangkan dari proses imajinasi si penulis. 

Contoh : 

“10 tahun lalu, ada seorang bayi yang dibuang di tepi sungai. Kala itu gelap gulita, dingin menusuk tulang. Jeritan suara bayi menggema di seluruh hutan. Selain suara si bayi, terdengar gesekan bambu yang menambah kesan horror..”

Dari contoh di atas menunjukan keterangan masa lampau, yang sudah terjadi. Oh iya penulisan cerpen juga tidak harus menunjukan secara eksplisit masa lampau. Jadi kamu bisa langsung fokus ke alur dan jalan ceritanya.

2. Penyebutan Tokoh

Unsur kebahasaan cerpen yang kedua, penulis wajib menyebutkan tokoh. Disinilah penulis harus memainkan dua atau tiga tokoh. Dimana tokoh harus memiliki karakter dan sifat. Kehadiran tokoh tidak lain untuk memudahkan pembaca untuk memahami jalan cerita yang disampaikan. 

Penyebutan tokoh juga sebagai upaya memberikan klasifikasi karakter, sikap dan perilaku yang bertolak belakang antara tokoh baik dan tokoh jahat. Jika sebuah cerpen tidak ada tokoh, maka rasanya cerpen susah diterima dan dipahami oleh pembaca. 

3. Menggunakan Kata Yang Mengenai Latar

Adapun ciri cerpen yang lain, yaitu memuat setting. Jadi ada tiga bentuk setting yang dapat ditonjolkan di dalam sebuah cerpen, yaitu setting tempat, waktu dan suasana. Jika dalam sebuah cerpen terdapat salah satu atau salah semua bentuk setting tersebut, maka cerpen tersebut sudah memenuhi unsur kebahasaan cerpen. 

Contoh : 

“Di tepi sungai Oyo, Rinda duduk termangu. Tatapannya kosong memikirkan kesalahan besarnya selama hidup. Tiba-tiba Rinda pun berjalan perlahan ke tengah sungai. Ia menangis, kakinya melangkah ke tepi sungai yang memiliki arus deras. 

Langit yang tadinya mendung berubah menjadi gelap gulita. Kilat petir membelah langit, tak lama kemudian gelegar memenuhi seluruh langit. Rinda pun terhentak. Ia tersadar dari lamunan dan kekalutan pikiran”.

Dari contoh di atas dengan jelas disebutkan setting tempat, yaitu di kali oya. Kemudian di setiap kalimatnya juga dideskripsikan situasi atau suasana yang terjadi. 

4. Mendeskripsikan Ciri Si Tokoh

Unsur kebahasaan cerpen yang keempat dapat dilihat dari deskripsi cerpen. Jadi cerpen yang memenuhi standar cerpen yang baik memuat kata-kata yang mendeskripsikan si tokoh. Jadi penulis memiliki keleluasaan untuk menggambarkan perawatan si tokoh. 

Nah, penulis bisa mendeskripsikan perilakunya, ciri fisiknya atau kepribadiannya. Kenapa harus ditulis? Alasannya sederhana, sekedar menginformasikan pembaca. Agar pembaca dapat mengimajinasikan sosok si tokoh ini. 

Contoh : 

“Ada seorang gadis berbaju biru duduk di sudut ruang. Kepalanya tertunduk di lutut seksinya. Dari kejauhan, tampak sosok lelaki tinggi menggunakan kemeja putih. Rambutnya tipis gaya opa-opa korea. Langkahku semakin dekat, semakin terlihat paras rupawan. Ternyata Mas Alif datang, langsung mendekati si gadis blasteran cina tersebut. 

Dari contoh di atas sangat jelas perawatan fisik yang disampaikan oleh penulis. Berkat deskripsi ciri si tokoh inilah yang mampu membangun imajinasi pembaca. 

5. Memuat Kata-kata Pada Peristiwa Yang Dialami

Buat kamu yang ingin menjadi seorang cerpenis, maka perlu memperhatikan pemilihan bahasa yang akan digunakan untuk menulis. Nah, kamu bisa menggunakan kata-kata pada peristiwa yang dialami oleh si tokoh.  

Masalah pemilihan kata, kamu bisa melihat terlebih dahulu segmentasi pembaca. Jika pembaca adalah masyarakat umum, maka bisa memilih kata yang sesuai. Jika segmentasi pembaca adalah anak SMA, maka kamu pun juga perlu menyesuaikan dengan genre dan perkembangan mereka. 

6. Sudut Pandang Pengarang

Salah satu ciri unsur kebahasaan yang lain adalah masalah sudut pandang pengarang. Sudut pandang pengarang ada tiga bentuk yaitu sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang kedua dan sudut pandang orang ketiga.

a. Sudut pandang orang pertama 

Sudut pandang orang pertama memposisikan penulis sebagai narator atau sebagai pencerita, yang menggunakan kata ganti “aku”. Sudut pandang orang pertama itu sendiri dibagi menjadi dua yaitu sudut pandang pertama tunggal, dan sudut pandang pertama jamak.

b. Sudut pandang orang kedua 

Sudut pandang orang kedua memposisikan penulis atau pengarang sedang berbicara dengan si tokoh. Kata ganti yang sering digunakan adalah “kamu”, “kau” dan “Anda”. 

c. Sudut pandang orang ketiga 

Sementara sudut pandang orang ketiga memposisikan penulis sebagai sutradara yang serba tahu. Kata ganti yang sering digunakan menggunakan kata “Dia”

Sudut pandang orang ketiga pun ada beberapa bentuk. Ada orang ketiga jamak, orang ketiga tunggal. Pada orang ketiga tunggal dibagi lagi menjadi orang ketiga mahatahu, orang ketiga terbatas dan orang ketiga objektif dalam menuliskan cerpen. 

d. Sudut Pandang Campuran 

Sedangkan sudut pandang yang mencampurkan ketiga sudut pandang di atas akan masuk ke dalam sudut pandang campuran.

Itulah beberapa ciri kebahasaan cerpen. Jika kamu ingin menelisik lebih dalam lagi, pasti masih banyak yang bisa kamu dalami. 

Tips Singkat Mendapatkan Ide Untuk Menulis Cerpen

Setelah mengetahui ciri kebahasaan cerpen, mungkin ada di antara kamu yang selalu kesulitan menentukan ide menulis cerpen. Nah, berikut beberapa tips singkat mendapatkan ide menulis cerpen yang selalu aku lakukan. 

1. Berpikir Sederhana

Setelah mengamati diri sendiri selama menulis, ada satu formula yang ingin aku bagikan ke teman-teman, yaitu berpikir sederhana. Ketika berpikir sederhana, ringan dan membebaskan otak melakukan eksplorasi, semakin banyak ide-ide yang bisa dituliskan. 

Mungkin saja ide yang diangkat biasa saja, umum dan sederhana. Namun setelah dipoles, dicari sisi uniknya, dan dicari selling point untuk ditonjolkan. Maka saat cerpen selesai ditulis, akan menjadi karya yang cukup menarik.

Buatlah cerita sederhana itu dengan kerangka yang benar. Berikut panduan Cara Membuat Kerangka Cerpen.

2. Menuliskan Pengalaman

Jika cara pertama masih sulit dilakukan, kamu bisa dengan cara paling umum. Yaitu menuliskan pengalaman atau kisah orang lain. Agar cerpen tidak datar dan begitu-begitu saja, perlu modifikasi cerita sedemikian rupa. 

Jika perlu, kamu boleh menambahkan bumbu micin atau atau garam (konflik dan impresi) agar cerpen memiliki rasa dan membuat pembaca ketagihan dengan karya-karya lain kamu. Aku kira kunci daya tarik cerpen yang menarik berada di kemampuan untuk mengembangkan dan mengolah bumbunya. 

Bagaimanapun juga, menulis cerpen itu seperti masak. Jika asal masak tanpa ada feel. Maka tulisan pun juga akan hambar, datar dan membosankan. Berlaku sebaliknya. Jika penulis memiliki feel apa saja yang perlu dielaborasi dan dimodifikasi dan diberi impresi, maka cerpen bisa menjadi unik. 

3. Mencatat Ide Spontan

Adapun tips singkat mendapatkan ide menulis cerpen yang lain, yaitu menulis semua ide spontan yang datang. Dulu saat ponsel tidak secanggih sekarang, selalu membawa buku catatan untuk menampung ide-ide yang muncul. Sekarang, banyak ponsel canggih. Dimanapun ide datang, bisa langsung dicatat di ponsel. 

4. Membaca Buku

Membaca buku juga salah satu cara untuk menstimulasi otak kita berfikir kreatif dan analitis. Saat konsentrasi membaca, ada banyak sekali ide yang muncul, dan ide-ide sederhana itu rasanya terasa luar biasa dan sulit didapatkan dalam momen-momen lainnya. 

5. Mengamati Fenomena Sosial

Cara yang sampai sekarang masih aku lakukan untuk mendapatkan ide, yaitu jalan-jalan sambil mengamati fenomena sosial yang terjadi sosial. Menurut aku pribadi, cara ini lebih banyak ide yang terkumpul dibandingkan beberapa ide di atas. 

Nah, bagaimana dengan kamu? Saya yakin setiap orang memiliki karakternya sendiri-sendiri. Kamu tidak harus melakukan kelima cara yang aku lakukan. Karena pada dasarnya setiap orang memiliki formulanya masing-masing. 

Sudah tau semuanya? Yuk tulis cerpenmu dan ikuti Panduan A-Z: Menulis Cerpen Sampai Terbit

Itulah beberapa ulasan tentang unsur kebahasaan cerpen dan tips singkat mendapatkan ide menulis cerpen. Semoga sedikit ulasan ini memberikan semangat, dan memberikan pemahaman tentang dunia kepenulisan cerpen. Selamat mencoba menulis. (Irukawa Elisa)

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis