Buzzer dan Influencer: Tugas dan Perbedaan

perbedaan buzzer dan influencer

Perbedaan buzzer dan influencer – Pernah mendengar tentang apa sih itu buzzer dan influencer? Secara sekilas pekerjaan mereka sama-sama berkutat dengan dunia kampanye digital. Atau mungkin kamu hanya familiar influencer dan asing dengan buzzer? 

Jadi pada artikel kali ini kita akan mengulas tentang buzzer dan influencer yang wajib kamu ketahui. terutama buat kamu yang memiliki pengikut di media sosial yang banyak. Karena para pengusaha dan pemilik brand lebih senang menawarkan produk untuk bisnis lewat media sosial, dibandingkan cara manual yang dianggap sudah ketinggalan jaman. 

Dari segi jangkauan audiens lebih mudah untuk diakses. Tidak hanya itu, ternyata memasarkan produk di media sosial juga dapat meningkatkan brand awareness. Maka tidak heran jika para buzzer dan influencer menjadi peluang yang menggiurkan. Langsung saja, yuks kita simak perbedaan buzzer dan influencer di bawah. 

Pengertian Buzzer

Sebelum masuk ke pembahasan inti tentang perbedaan buzzer dan influencer, penting banget mengetahui pengertian buzzer. Berikut beberapa pengertian buzzer dari beberapa sumber. 

1. Arbie

Buzzer menurut Arbie dapat diartikan sebagai tindakan yang bekerja berdasarkan strategi pemasaran yang masif dan baru. Arbie menyebutkan bahwa buzzer secara harbia sebagai komponen elektronika yang berperan untuk mengubah getaran listrik menjadi getaran suara. Sementara pengertian buzzer konteks media sosial dapat diartikan sebagai akun yang memiliki persuasi tinggi terhadap para followernya, sehingga memungkina sebuah topik di dunia online. 

2. Jeff Staple 

Sementara buzzer menurut Jeff staple adalah individu yang memiliki opini tertentu. Dimana opini tersebut mampu mempengaruhi pengguna media sosial yang masih di dalam circlenya dan berhasil membuat orang lain bereaksi terhadap opini yang sudah dilemparkan. 

3. Staple 

Berbeda lagi dengan pendapat Staple yang mengartikan buzzer tidak melulu tentang media sosial saja, tetapi juga termasuk menjalankan kampanye dan aktivitas lain yang bertujuan untuk mempengaruhi followernya. Secara sederhana, buzzer itu seperti brand ambassador. Hanya saja buzzer tidak menjadi ambassador produk saja, tetapi lebih luas, yang tidak lain untuk membentuk persepsi masyarakat terhadap tema atau isu yang dilempar. 

4. Kotler dan Keller 

Berbeda dengan pendapat Buzzer adalah kegiatan marketing atau pemasaran yang dilakukan secara individu ataupun secara kelompok, melalui banyak cara, misalnya menciptakan atau menukarkan barang,nilai, isu dan masih banyak lagi.

Jadi buzzer adalah istilah yang belakangan ini sedang marak kita dengar saat media sosial sudah menjadi bagian hidup kawula muda. Buzzer memiliki peranan penting melakukan kampanye atau pemasaran lewat media sosial dan efektif mempengaruhi followernya. 

Peran dari buzzer itu sendiri menggalang opini di ranah dunia maya. Oh iya, buzzer ini ada dua bentuk loh, ada yang bersifat positif dan negatif. Sementara buzzer negatif lebih banyak ditemukan di di media sosial, khususnya saat mendekati pemilu atau penyebaran berita-berita HOAX untuk menggiring opini masyarakat.

Pengertian Influencer

Berbicara tentang influencer, ada banyak public figure yang berseliweran di beranda media sosial kamu. Sebut saja Raffi Ahmad, Luna Maya dan masih banyak sekali. Bahkan mungkin salah satu teman kamu yang sekarang juga menjadi seorang influencer. 

Sebelum masuk membedah Perbedaan buzzer dan influencer, sepertinya perlu tahu pengertian dari arti kata Influencer itu sendiri. Sekilas, influencer dan buzzer memiliki kemiripan, namun berbeda. langsung saja, yuks simak pengertian influencer menurut para ahli di bawah ini. 

banner-di-artikel (1)

1. Hariyanti dan Wirapraja 

Influencer menurut Hariyanti dan Wirapraja adalah individu atau figur di media sosial yang memiliki follower yang banyak dan memiliki kekuatan untuk mempersuasi para pengikutnya. 

2. Joseph Granny 

Secara lebih sederhana Joseph Granny influencer adalah seseorang atau individu yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. 

3. Brown & Hayes 

Berbeda dengan pendapat Brown dan Hayes yang mendefinisikan influencer sebagai orang ketika yang memiliki kemampuan cukup besar mempersuasi calon pembeli terhadap produk ataupun jasa. 

4. Brown & Fiorella 

Influencer adalah typically a noncustomer or business incentivized to recommend/create content about a business brand or product. 

Dari pendapat para ahli tentang influencer di atas, maka dapat disimpulkan bahwa influencer adalah seseorang/individu/kelompok yang memiliki pengaruh untuk mengajak orang lain sependapat dan tertarik dengan apa yang ditawarkan. 

Sekilas tidak jauh berbeda dengan buzzer. Oh iya, influencer itu sendiri tidak melulu untuk pengguna media sosial saja loh. Termasuk juga blogger, houtuber, dan masih banyak lagi.

Tugas Buzzer

Jika dilihat dari tugas dan fungsinya, buzzer memiliki tugas yang hampir mirip dengan influencer. Namun ada yang berbeda dengan tugas buzzer. Apa sajakah itu? yuks, intip tugas buzzer. 

1. Brand ambassador

Dalam bahasa sederhananya, tugas buzzer itu mirip seperti menjadi brand ambassador produk tertentu. Hanya saja bentuk ambassador yang dimaksud di sini tidak selalu untuk produk. Tetapi juga untuk jasa. Intinya, seorang buzzer sebagai tim pemasaran yang memperluas seluas mungkin jangkauan kepada pengguna media sosial dan pengguna internet. 

2. Membangun opini

Tugas buzzer juga dapat berperan untuk membangun opini masyarakat. Umumnya cara ini lebih sering digunakan oleh elite politik yang mencalonkan diri dalam pemilu. Perbedaan buzzer dan influencer dalam membangun opini tidak memperhatikan caranya. 

Buzzer dapat membangun opini dengan cara menghalalkan segala cara. Termasuk menciptakan dan membangun konflik. Tujuannya jelas, memicu kebencian di media sosial dan memecah belah pandangan. Banyak pula yang sengaja menyebarkan hoax dalam membangun opini negative publik. 

3. Menyusun strategi dan implementasi 

Tugas buzzer tidak lain menyusun strategi dan menyusun implementasi agar tepat sasaran. Tentu saja sebuah keberhasilan tidak dilakukan begitu saja. Butuh strategi dan analisa yang matang, termasuk melakukan observasi dan penelitian. Karena dengan cara-cara seperti itu akan memudahkan buzzer dalam mengukur efektivitas pesan. 

4. Mengawasi dan mempertajam isu yang berkembang

Tugas lain dari buzzer yang lain adalah mengawasi isu dan mempertajam isu yang sudah berkembang. Dalam bahasa familiar kita lebih sering kita sebut dengan cara menggoreng isu agar semakin mentereng. Padahal isu tersebut biasa-biasa saja. Namun karena ada bumbu-bumbu dapur, isu tersebut menjadi heboh dan seolah besar. 

5. Kampanye perpolitikan 

Di dunia perpolitikan, buzzer paling banyak dicari oleh para elite politik. Tugasnya jelas, para buzzer melakukan kampanye perpolitikan. Masalah cara, sudah disebutkan di atas, bisa dilakukan menggunakan segala cara. Maka agar para buzzer aman, mereka lebih sering menggunakan akun palsu atau nama samaran. Inti dari kampanye perpolitikan yang memanfaatkan buzzer untuk menggiring opini dan mengumpulkan suara agar si calon pemimpin menang dalam pemilihan. Meskipun demikian, ada juga yang menggunakan jalur lurus dan tidak boleh serampangan dalam melakukan kampanye. 

6. Memperluas informasi 

Seorang buzzer pasti tahu strategi agar jangkauannya tepat sasaran. Ada banyak cara memperluas informasi ini, salah satunya dengan cara melakukan retweet, hashtag atau dengan share  ke laman media sosial yang lain. Seorang buzzer dituntut untuk tahu banyak hal tentang marketing online. 

7. Mengubah pola pikir lama ke strategi pemasaran profesional dan canggih

Tugas seorang buzzer yang terakhir adalah memperkenalkan perspektif strategi pemasaran secara digital. Dimana kita tidak terlalu banyak mengeluarkan banyak uang untuk pasang baliho atau iklan di televisi, yang dari segi jangkauannya kurang efektif.

Setidaknya disini menunjukan bahwa strategi pemasaran yang dilakukan secara daring meski murah, dari segi jangkauan dan efektivitasnya lebih tepat sasaran menyasar kaum melek teknologi. 

Sebenarnya tugas buzzer tidak terfokus pada 7 poin di atas. Masih ada banyak lagi peran dan tugas. Barangkali kamu salah satu pelaku buzzer? Kamu bisa share pengalaman kamu di kolom komentar loh. 

Tugas Influencer

Setelah mengintip tugas buzzer, sekarang kita intip tugas influencer itu seperti apa. Buat kamu yang ingin menjadi seorang influencer, wajib tahu tugas sebagai berikut. 

1. Memiliki reputasi baik 

Hal yang paling utama jika ingin menjadi influencer, harus memiliki  reputasi baik. Perusahaan tentu memilih influencer yang memiliki energi positif dan reputasi yang baik. Karena reputasi yang baik akan mencerminkan produk yang ditawarkan juga baik. Sebagai konsumen pun juga pasti mencari produk yang reputasinya jelas baik, bukan tipu-tipu bukan. Itu sebabnya penting sekali menjaga reputasi baik kamu. 

2. Memperhatikan gaya hidup 

Jika kamu ingin menjadi seorang influencer, meskipun kamu bukanlah seorang artis. Namun apapun yang kamu lakukan, pakaian yang digunakan dan gaya hidup yang dijalani akan menjadi sorotan dan mempengaruhi follower kamu. Itu sebabnya, jika sejak awal ingin menjadi seorang influencer, penting banget memperhatikan citra diri. 

3. Bertanggung Jawab Pada Semua Postingan 

Nah, perbedaan buzzer dan influencer terletak pada bentuk pertanggungjawabannya. Influencer menggunakan akun asli, dan sangat memperhatikan konten isi yang diposting. Intinya, seorang influencer bertanggung jawab terhadap isi postingan yang dipublikasikan di media sosial mereka. Jadi, pastikan sebelum memposting tahu tujuannya. 

4. Inspiratif 

Siapa bilang menjadi influencer itu enak? Tidak selamanya demikian loh. Bagi seorang influencer, meminimalisir mungkin memperlihatkan sisi energi negatif. Jadi benar-benar menuntut energi positif. Dari segi minat follower, orang pasti lebih tertarik pada orang yang inspiratif daripada influencer yang menyebarkan energi negatif. 

5. Memiliki Keterikatan pada Engagement 

Seperti halnya bekerja, seorang influencer itu tidak bermain-main di media sosial. Sebenarnya mereka sedang bekerja. Jadi para influencer juga memiliki tuntutan yang harus diperhatikan. Misalnya harus memperhatikan engagement dengan para followernya. Kemudian memperhatikan sebasaran jangkauan produk yang dipasarkan. Jadi buat kamu yang ingin menjadi influencer, harus siap dengan tekanan kerja seperti ini ya. 

6. Aktif Update 

Entah sadar atau tidak, tuntutan seorang influencer harus rajin update konten. Berbicara tentang konten, tentu saja konten yang dipublikasikan tidak sembarang konten lo ya. Konten yang dibuat berfokus agar tetap bisa mencapai engagement yang terbaik.

Sebenarnya tugas menjadi seorang influencer itu tidak terlalu susah jika terbiasa. Hanya saja bagi influencer pemula, sedikit menantang. Belum lagi cara membuat kontennya, dan masih banyak lagi. Satu hal yang tidak kalah penting, jika menjadi influencer karena passion, pasti tidak terasa berat dan terasa menyenangkan. 

Perbedaan Buzzer Dan Influencer

Masuk ke pembahasan inti terkait perbedaan buzzer dan influencer. Lantas apa sih perbedaan diantara keduanya? Sudah tidak sabar bukan? Langsung saja simak perbedaan berikut ini. 

1. Jumlah follower 

Perbedaan buzzer dan influencer yang paling menonjol sebenarnya terletak pada followernya. Buzzer tidak terpaku pada banyaknya follower. Sebaliknya, influencer jumlah follower itu unsur paling penting. Jika influencer dapat dilakukan secara individual dan menggunakan satu akun. Maka buzzer lebih sering dilakukan oleh kelompok dan bisa saja menggunakan akun lain. 

2. Popularitas 

Perbedaan buzzer dan influencer yang kedua adalah buzzer dilakukan dan dijalankan oleh orang-orang biasa yang tidak memiliki popularitas di dunia bermedia sosial.

Sementara influencer adalah sosok publik figur, artis dan orang penting. Ada juga orang biasa namun memiliki banyak follower. Terkait kategorisasi jumlah follower, kamu bisa baca di artikel sebelumnya tentang “Pengertian Influencer Menurut Para Ahli”. 

3. Cara kerja 

Perbedaan buzzer dan influencer dapat dilihat dari cara kerjanya. Cara kerja influencer mengutamakan karakter dan kepribadian yang selaras dengan brand yang akan dipasarkan.

Misalnya influencer yang suka dengan kecantikan, maka brand yang akan melirik masih seputar tentang kecantikan karena segmentasi pasarnya sesuai. Sementara buzzer cara kerjanya dengan memberikan informasi secara berulang-ulang kepada target market mereka. 

Misalnya penyampaian informasi yang sifatnya tidaknya benar, jika disampaikan secara berulang-ulang maka informasi salah bisa seolah menjadi informasi yang benar. Inilah bahasa dari kerja buzzer yang menghalalkan segala cara untuk tujuan mereka. Oh iya, tidak semua buzzer selalu negatif, ada juga buzzer yang memang kerjanya positif.

4. Engagement rate 

Perbedaan buzzer dan influencer dapat dilihat dari engagement ratenya. Buzzer tidak peduli dengan engagement rate, sementara influencer sangat penting memperhatikan engagement ratenya. Dari sisi audience, buzzer tidak begitu diminati, karena seringnya penyampaian informasi yang berulang-ulang, jadi terkesan seperti spam. Audience pun juga akan melakukan kroscek terhadap informasi yang disebarkan buzzer. Sebaliknya, audience lebih nyaman dan senang dengan influencer, karena memang lebih personal dan terkesan tidak membosankan.

5. Tujuan akhir 

Ditinjau dari tujuan akhir perbedaan diantara keduanya terletak dari definisi pencapaian. Buzzer dikatakan sukses dan sudah mencapai tujuan akhir apabila mampu menjadikan topik/produk menjadi trending. Sementara influencer dikatakan mencapai goal apabila produk yang dipasarkan mampu memperoleh konversi tinggi dan mengajak pengikutnya untuk menggunakan produk tersebut.

Itulah perbedaan buzzer dan influencer. Dari perbedaan di atas saya yakin kamu sekarang tahu bukan? Setelah tahu perbedaan diantara keduanya, kamu lebih tertarik ingin menjadi buzzer atau influencer nih? Apapun itu pilihannya semoga keinginan kamu tercapai ya. (Irukawa Elisa).

Artikel terkait

Referensi 

  • Juditha, Christiany. 2019. Buzzer di Media Sosial Pada Pilkada dan Pemilu Indonesia. Prosiding Seminar Nasional KOmunikasi dan Informatika #3 Tahun 2019 : 199-212.  2019.
  • Influencer sebagai content creator. Diakses pada 27 November 2021 https://binus.ac.id/malang/2019/01/influencer-sebagai-content-creator/
  • Hanindharputri, Made Arini & Putra, I Komang Angga Maha. 2019. Peran Influencer dalam Strategi Meningkatkan Promosi dari Suatu Brand. Seminar Nasional Sandyakala. Diakses pada 27 November 2021 file:///C:/Users/user/Downloads/73-Article%20Text-272-1-10-20190910.pdf

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis