Artikel Konseptual – Pengertian, Struktur dan Contoh

menulis artikel konseptual

Menulis artikel koseptual hampir sama dengan menulis sebuah ide dan gagasan berdasarkan kajian pustaka dan sumber ilmiah lainnya. Kita akan bahas tentang struktur, cara membuat dan contoh artikel konseptual.

Pernah mendengar tentang artikel konseptual? Beberapa orang mungkin sesekali mendengar jenis artikel ini disebutkan. Bahkan beberapa lagi bisa mendengarnya diucapkan orang sekitar sampai beberapa kali dalam sehari. Kamu termasuk yang mana? 

Bagi kamu yang masih aktif di dunia akademik, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai dosen dijamin akrab dengan jenis artikel satu ini. Sebab dalam kegiatan akademik pembuatan artikel jenis konseptual cukup sering. 

Sekilas, artikel jenis ini mirip dengan artikel ilmiah seperti pada makalah, skripsi, dan sejenisnya. Hanya saja dalam tidak semua artikel jenis konseptual disusun berdasarkan riset atau penelitian. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan artikel konseptual? 

Pengertian Artikel Konseptual

Secara umum, artikel konseptual adalah tulisan yang membantu pengembangan teori dan menjelaskan masalah-masalah yang terjadi dalam dunia profesi. Bagi dosen, maka artikel yang disusun akan membahas mengenai masalah di profesi dosen yang ditekuninya. 

Dalam proses penyusunannya, artikel jenis ini disusun dengan memuat gagasan dan ide-ide maupun hasil riset yang dilakukan oleh orang lain. Sehingga konsepnya adalah mengikuti data yang sudah ada, sehingga ada istilah konseptual di dalam namanya. 

Berbeda dengan artikel ilmiah, artikel ini ditujukan untuk menjelaskan hasil penelitian. Ada sebuah topik yang diteliti dan dicari dasar teorinya lewat sejumlah referensi. Kemudian dalam riset akan dibuktikan apakah teori tersebut benar atau sebaliknya. 

Sedangkan pada artikel jenis konseptual, penulis tidak melakukan riset dan hanya menyampaikan atau memaparkan data valid yang ditemukannya. Data ini bisa dari buku, jurnal, dan sumber referensi terpercaya lainnya. 

Semua data yang digunakan akan disesuaikan dengan topik yang dipilih untuk diulas dan dijabarkan. Sehingga di dalamnya tidak ada pembuktian apakah data tersebut benar atau salah. Sekaligus tidak ada bantahan terhadap teori yang sekiranya masih keliru dan masih menjadi perdebatan. 

Dengan konsep dan karakter seperti ini, tidak heran jika di dunia kepenulisan artikel jenis konseptual dianggap sebagai tulisan yang minim kreativitas. Sebab penulisnya hanya menyalin data dan teori yang sudah ada, tanpa ada unsur kebaruan dan pembuktian di dalamnya. 

Struktur Teks Artikel Konseptual

Artikel jenis konseptual kemudian pada dasarnya akan memuat pendapat dari penulisnya mengenai suatu topik. Apabila tertarik untuk menyusun artikel jenis ini, maka kenali juga strukturnya bagaimana. Secara umum, strukturnya adalah sebagai berikut: 

1. Judul 

Struktur pertama di dalam artikel konseptual adalah judul, fungsinya tentu saja untuk menjelaskan isi dari artikel dalam versi lebih pendek namun jelas. Penulis bisa membuat judul yang menarik, semakin menarik maka semakin bagus. 

Sebab judul menjadi bagian pertama yang dibaca oleh pembaca, jika judul sudah menarik maka dijamin mereka tertarik membaca artikel secara keseluruhan. Bisa membuat judul menjadi kalimat berita dan bisa juga membuatnya menjadi kalimat tanya. 

Meskipun bisa dibuat menarik, pastikan judul ini tidak clickbait. Yakni tampak menarik dan begitu dibaca tidak ada yang mempresentasikan judulnya. Jadi judul tersebut harus relevan dengan isi artikel. 

2. Nama Penulis 

Struktur kedua adalah nama penulis, yang biasanya dicantumkan di bawah judul sehingga ada di satu halaman yang sama. Pada artikel jenis konseptual, nama penulis ditulis tanpa gelar akademik. 

Namun diperbolehkan mencantumkan gelar kehormatan dan gelar keagamaan, misalnya haji, hajjah, Raden Roro, dan lain sebagainya. Kemudian, nama penulis yang lebih dari satu orang. 

Misalnya, artikel disusun 2 sampai 3 orang atau bahkan lebih. Maka nama penulis yang dicantumkan adalah nama penulis pertama. Penulis lainnya disingkat dengan istilah dkk (dan kawan-kawan). 

3. Abstrak 

Berikutnya adalah abstrak, yang berisikan ringkasan dari artikel yang ditulis. Abstrak ditulis lebih menjorok ke dalam dan bukan berisi komentar dari penulis. Melainkan ringkasan artikel yang juga mencantumkan kata-kata yang kritis dan provokatif. 

4. Pendahuluan 

Selanjutnya ada pendahuluan yang isinya menjabarkan beberapa hal menarik yang bisa membuat pembaca menyukainya.

Dicantumkan pula mengenai permasalahan yang dibahas di dalam artikel namun dibuat sekilas. Sehingga membuat pembaca penasaran untuk membaca artikel secara keseluruhan. 

5. Bagian Inti 

Bagian inti adalah struktur berikutnya yang isinya membahas mengenai inti dari artikel jenis konseptual. Pada bagian ini akan dijumpai ulasan mengenai argumen, kupasa, analisis, keputusan dan sebagainya. 

6. Penutup 

Berikutnya ada bagian penutup yang menjelaskan kesimpulan dari artikel yang disusun. Beberapa penulis membuatnya menjadi sub bab berisi kesimpulan dan juga saran. 

7. Daftar Pustaka 

Terakhir adalah daftar pustaka yang tentunya membuat daftar referensi atau sumber artikel. Semua data yang dicantumkan berasal dari sumber-sumber dan referensi tersebut. Semuanya perlu dicantumkan sebagai bentuk penghargaan pada karya orang lain dan bebas plagiarisme. 

Cara Membuat Artikel Konseptual

Dalam penyusunan artikel konseptual, ada beberapa cara atau tahapan yang perlu dilakukan. Diantaranya adalah: 

1. Menuliskan Tema dan Topik Artikel 

Tahap pertama adalah menentukan tema dan topik, jika sudah ditemukan maka bisa dituliskan. Penentuan ini menjadi tahap pertama karena nantinya akan ikut menentukan jenis artikel yang akan disusun membahas soal apa. 

2. Menyusun Judul Artikel 

Tahap selanjutnya adalah menyusun judul, jika judul sudah disusun sejak awal maka bisa menjadi batasan pembahasan. Sehingga bisa lebih terstruktur dan tidak bertele-tela. Sekaligus dipastikan isi sesuai dengan judul artikel. 

3. Melakukan Kajian Pustaka

Salah satu hal yang penting untuk artikel konseptual ini adalah isinya yang non fiksi (nyata) berbasis kajian. Oleh karenanya, opini yang diutarakan juga harus bisa dipertanggungjawabkan.

Dimulai dengan mencari referensi yang sesuai topik dan tema. Kemudian mencari data yang mendukung untuk dicantumkan dalam artikel. Semakin banyak yang dikaji maka pembahasan bisa lebih menyeluruh. 

4. Merumuskan Mind Mapping 

Selanjutnya adalah melakukan perumusan mind mapping, istilah ini mengacu pada pembuatan kerangka karangan.

Jadi, silahkan menyusun setiap pokok bahasa atau gagasan utama di setiap bab. Sehingga pembahasan menjadi lebih sistematis agar enak dibaca dan mudah dipahami. 

5. Mulai Proses Menulis 

Tahap yang kelima tentu saja mulai proses menulis yang menjadi inti kegiatan yang dijelaskan dari poin paling awal tadi. Mulailah menjabarkan dari bab paling awal dengan mengikuti mind mapping yang telah disusun.

Baca juga: 10 Cara Menulis yang Benar

6. Menyusun Abstrak 

Tahap akhir adalah menyusun abstrak, meskipun letaknya di awal artikel konseptual. Namun idealnya abstrak disusun paling akhir setelah bagian inti dan penutup. Kenapa? 

Sebab idealnya abstrak memaparkan ringkasan artikel. Jadi, bagaimana abstrak bisa disusun jika artikelnya belum selesai? Maka abstrak sebaiknya disusun setelah artikel berhasil diselesaikan.

Untuk memahami kerangka lebih mendalam lagi untuk jenis artikel lainnya, bisa baca Cara Membuat Kerangka Artikel.

Contoh Artikel Konseptual 

Pemahaman tentang artikel jenis konseptual tentunya tidak sulit dilakukan dari penjelasan di atas. Namun, untuk meningkatkan pemahaman contoh bagian inti artikel konseptual berikut bisa disimak.

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar

Membaca merupakan salah satu komponen dari sistem komunikasi, yaitu interaksi secara tertulis antara pembaca dengan penulis. Kemampuan itu harus dimiliki oleh semua anak, agar anak dapat belajar berbagai bidang ilmu. 

Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar membaca pada siswa sekolah dasar. Motivasi belajar yang dimiliki oleh peserta didik memiliki tiga fungsi, yaitu: 

(1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak yang melepaskan energi, 

(2) Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai, dan 

(3) Menyeleksi perbuatan yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan dengan serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut (1990:84). 

Motivasi belajar yang baik akan melahirkan proses dan hasil belajar yang baik. Motivasi berprestasi seseorang apakah di sekolah, tempat kerja atau di tempat manapun dapat dibagi menjadi dua tipe. 

Yaitu motivasi intrinsik yang merupakan harapan dalam diri(internal) untuk berhasil dan melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Dan motivasi ekstrinsik yang dipengaruhi oleh penghargaan atau hukuman dari luar diri (eksternal). 

Contoh dari kedua motivasi ini, misalnya seorang mahasiswa bekerja keras karena keberhasilan dalam pendidikan itu penting maka yang berperan pada dirinya adalah motivasi intrinsik.

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis