7 Cara Produktif Menghasilkan Karya

cara produktif menghasilkan karya

Cara menghasilkan karya produktif bagi setiap orang pasti berbeda-beda. Namun, berbicara tentang karya, memang ada banyak sekali kategorisasi karya. Hasil penelitian juga termasuk karya. Seseorang yang mampu menciptakan produk yang bermanfaat untuk masyarakat pun juga termasuk karya. 

Berbicara tentang karya memang sangat luas sekali. Namun pada pembahasan kali ini saya akan mengerucutkan membahas karya dalam konteks hasil karya tulis. Misal menulis novel, menulis cerpen, menulis artikel, dan kegiatan yang masih di seputaran dunia tulis menulis. 

Baca juga: Apa itu Karya Sastra Populer?

Cara Produktif Menghasilkan Karya

Ternyata ada banyak sekali kawula muda yang tertarik ingin menjadi penulis dan melahirkan sebuah karya. Sebenarnya di era teknologi canggih seperti sekarang, peluang menghasilkan karya lebih terbuka lebar. 

Tahun 2004-2008 saat pertama kali saya menjajal tulis menulis. Selama empat tahun gagal, tidak ada satupun yang berhasil lolos. Sulit bisa menghasilkan karya tulisan yang diakuisisi atau dibaca oleh banyak orang. Dulu masih serba manual. Kebanyakan di tahun itu masih ramai mengirim tulis di surat kabar, tabloid ataupun bulletin. saat itu digital belum terkenal dan seramai saat ini. 

Sementara sekarang? Ada banyak sekali website yang siap menampung tulisans-tulisan kamu. Dari segi persaingannya pun juga relative menantang. Nah, ternyata menghasilkan karya itu tidak sekedar kita menulis, kemudian dipublikasikan begitu saja. 

Lebih dari itu. seorang penulis yang menghasilkan karya memiliki tanggung jawab moral. Sehingga setiap apa yang dituliskan tidak boleh serampangan dan harus hati-hati. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahan penyampaian pesan. Nah, untuk meminimalisir hal itu, butuh bekal atau cara, yang akan kita ulas satu persatu berikut ini. 

1. Perbanyak Baca Buku

Cara produktif menghasilkan karya yang pertama, sudah pasti harus banyak membaca buku. Sebenarnya tidak harus membaca buku kok. Kamu bisa saja membaca bacaan lain, seperti surat kabar, berita, tabloid, hasil penelitian dan masih banyak sekali hal yang bisa kamu baca. 

Semakin banyak bacaan yang dibaca, semakin menambah wawasan kita. Secara tidak langsung, membaca akan membantu penulis berpikir kritis, memiliki pemilihan diksi atau kosakata yang lebih beragam. Dimana saat menghasilkan karya, keberagaman bahasa mampu menentukan tingkat antusiasme pembaca. 

2. Banyak Baca Literasi dan Berita

Sudah menjadi rahasia umum jika kesadaran literasi Indonesia masih rendah. Meski terlihat sepele, membaca itu stimulus terbaik bagi penulis untuk mengaktifkan sel saraf otak berpikir lebih kritis dan analitis. 

Saat hendak menulis, seorang penulis pasti memiliki tema. Entah itu tema yang dikuasai ataupun yang tidak dikuasai. Bagi seorang penulis yang belum menguasai tema, sudah pasti wajib mencari tahu tentang tema tersebut. 

Rasa ingin tahu inilah yang mendorong penulis mendapatkan pengetahuan, pandangan dan perspektif. Setidaknya penulis memiliki data yang hendak disampaikan. Jika seorang penulis tidak tahu data dan informasi tentang tema tersebut, maka tulisan terasa garing, hambar dan membosankan. 

3. Menulis Setiap Hari

Sejak 2005 saya memutuskan ingin menekuni profesi penulis dan menghasilkan karya banyak. Sampai tahun ini, saya masih menulis. Sudah hampir 17 tahun saya konsisten menulis. Lantas apakah tulisan saya sudah baik? Tentu saja BELUM!. Sampai saat ini saya masih melatih dan mengasah keterampilan menulis. 

Hampir 17 tahun saya habiskan dengan menulis dan menulis. Apakah ada hasil? Tentu saja ada, dan saya mendapatkan banyak sekali manfaat dari profesi ini. Apa yang didapatkan tidak melulu berbentuk uang, tetapi pengalaman, ilmu dan semakin kesini saya semakin sedang bermain games. 

Ya! Saya sedang bermain games kehidupan. Setiap kali saya menulis dari klien, saya selalu mendapatkan ilmu baru yang masih berupa potongan dan kepingan puzzle. Ada beberapa puzzle pengetahuan yang sudah saya temukan jawabanya. Tapi sepertinya lebih banyak puzzle pengetahuan yang belum saya temukan jawabannya.

Setidaknya dari konsistensi menulis. Terus saja menulis. Jangan pernah merasa puas. Teruslah merasa kurang. Karena ketika seorang penulis merasa puas, maka ia sulit berkembang. Karena sudah merasa superior. 

Sebaliknya, jika kita merasa kurang, kita akan mencari tahu dan terus belajar tanpa harus menjatuhkan ataupun merendahkan. Tanpa melihat senioritas dan junioritas. Satu hal yang saya pelajari dari proses saya menjadi penulis.  Tulis saja, dan ikuti prosesnya. Karena lewat pengalaman, kesalahan dan keberhasilan di perjalanan secara alami akan mengantarkan kamu pada jalan yang sesuai dengan jiwamu.

4. Fokus Menulis Bukan Edit

Kamu masih merasa tulisannya berantakan? Tenang, sepertinya tidak hanya kamu yang merasakan. Aku yang dulu pun juga demikian. Hal yang perlu dilakukan saat ini, hanya fokus menulis dan menulis. Abaikan kualitas tulisan jelek. 

Namannya juga latihan dan belajar, wajar jika itu jelek, buruk dan memalukan. Kamu tidak perlu rendah diri, karena buruk tidaknya tulisan hanya diketahui diri sendiri, dan orang-orang terdekat. Tenang, jumlah penduduk Indonesia ada puluhan juta orang. 

Jadi jika ada segelintir orang yang tahu tulisan jelek, itu masih aman. Kenapa? Karena yang tahu jeleknya kita hanya 0,0001% dari jumlah populasi manusia di Indonesia. Jadi tetaplah bangkit, mulai menulis kembali. 

Nah, baru setelah selesai menulis dan menuangkan semua isi kepala. Barulah fokus melakukan editing dan revisi. Di tahap ini, kamu akan menemukan banyak hal yang perlu dievaluasi. Baik itu mengevaluasi tulisan ataupun mengevaluasi dari penyampaian gaya tulisan. 

5. Hindari Distraksi

Cara produktif menghasilkan karya yang kelima, pastikan kamu mengenali diri sendiri. Kenali hal-hal yang mengganggu konsentrasi proses menulis. Nah, penyebab distraksi setiap penulis memang ada banyak sebab. Diantaranya 

A. Kondisi Lingkungan

Bentuk distraksi lingkungan pun ada banyak sekali jenis pemicunya. Contoh, saya paling tidak bisa konsentrasi jika berisik dengan percakapan orang lain yang intonasi suara tidak konsisten. Selain itu juga merasa sangat terganggu jika ada yang menghidupkan music rock N Roll. 

Sementara, ada yang merasakan kebalikan yang saya rasakan. Misalnya justru bisa konsentrasi ketika mendengar alunan music kesayangan. Dan tetap bisa menulis meski kanan kiri berisik minta ampun. Nah, kamu termasuk yang mana? Tulis di kolom komentar ya. 

B. Media Sosial

Distraksi yang saya rasa banyak penulis terganggu, yaitu bermain media sosial. Tidak dapat dipungkiri jika media sosial ada banyak sekali beragam konten yang lebih menarik. Sehingga ketika kita buka media sosial sebentar, secara tidak langsung kita pun akan terbawa sampai beberapa jam kemudian. 

Itu dua contoh yang menyebabkan distraksi. Tentu saja masih ada banyak faktor penyebab. Dari ulasan di atas, secara tidak langsung menunjukan semua disebabkan karena kontrol emosi dan sikap yang kurang baik. 

6. Banyak Bertanya Pada Orang

Cara produktif menghasilkan karya yang keenam dengan cara banyak bertanya pada orang yang lebih tahu. Ingat, konteks banyak bertanya bukan bertanya sesuatu yang tidak penting. Maksud bertanya dalam hal ini adalah, menanyakan seputar dunia kepenulisan, teknis menulis yang baik, tips cara memasukan karya ke media dan masih banyak lagi macam yang dapat kamu tanyakan. 

Tidak ada salahnya juga jika kamu menanyakan bagaimana bisa bergabung menjadi seorang penulis di web/surat kabar/tabloid dan masih banyak lagi. Bertanyalah secukupnya dan sewajarnya. Karena terlalu banyak bertanya berlebihan juga tidak baik. 

7. Optimis dan Positive Vibes

Kunci terakhir adalah, optimis dan selalu berfikir positif. Poin terakhir ini adalah kekuatan seorang penulis. Ingat, menjadi seorang penulis itu tidak mudah. Setelah menjadi penulis pun juga tidak menjamin kamu akan menjadi orang yang kaya ataupun mapan. 

Menjadi penulis itu pengorbanan yang ditawarkan tidak hanya kemauan dari dalam diri. Tetapi mengorbankan waktu cukup lama, dan biaya hidup. Permasalahannya adalah, banyak calon penulis pemula yang beranggapan menjadi penulis itu mudah dan memiliki banyak uang. 

Sepertinya buat kamu yang memiliki pemikiran semacam itu. maka kamu perlu bertanya pada diri sendiri dan membulatkan niat dan tekat. Hanya penulis-penulis yang mampu mengalahkan seleksi alam yang mampu survive, nama nya bersinar dan isi ATM tidak pernah kering. 

Jika kamu ingin menjadi salah satu penulis yang bersinar. Maka rahasianya selain produktif menghasil karya, kamu harus bisa menemukan karakter kamu dalam menulis. Karena jika kamu menjadi penulis umum dan standar-standar saja, maka jangan harap bisa makan.

Itulah beberapa tips dan hal menarik cara produktif menghasilkan karya. Ternyata menjadi penulis itu tidaklah semudah membalikan tangan. (Irukawa Elisa)

Baca juga artikel penting berikut.

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis