Majas Pertautan: Pengertian, Macam dan Contoh

majas pertautan dalam sebuah cerita

Apabila kamu seorang penulis, majas pertautan menjadi gaya bahasa yang wajib kamu kenali dan pahami sampai macam-macamnya.

Dalam bahasa Indonesia, Anda pasti mengenal yang namanya majas. Majas memiliki pengertian yaitu gaya bahasa atau pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh berbagai efek yang membuat sebuah karya sastra semakin hidup.

Majas juga dapat diartikan sebagai kiasan, ibarat, atau perumpamaan yang digunakan dengan tujuan mempercantik makna dan pesan dalam berbahasa. Dalam majas sendiri, ada beberapa jenis majas yang dibedakan berdasarkan jenis dan juga cara pemakaiannya. Salah satunya adalah majas pertautan.

Untuk mengetahui secara mendalam apa itu pengertian majas pertautan dan apa saja jenis atau macam-macam majas pertautan, lengkap dengan contohnya, simak penjelasan lengkap pada artikel ini.

Baca juga: Mengenal Majas Sindiran

Pengertian Majas Pertautan

Secara umum, pengertian majas pertautan adalah kata-kata kias yang bertautan dengan gagasan atau ingatan. Majas pertautan juga merupakan gaya bahasa pada suatu ungkapan dalam kalimat berkias yang memiliki hubungan pertautan terhadap suatu hal yang ingin diutarakan atau disampaikan.

Ada pula yang menyampaikan pengertian dari majas pertautan sebagai kata-kata yang bermakna kiasan yang bertautan atau berasosiasi dengan gagasan, ingatan, atau kegiatan dari pancaindra pembicara atau penulis. Sehingga, majas pertautan ini tentu digunakan pada hal-hal tertentu yang sesuai dengan aturan dari majas pertautan tersebut.

Sama halnya dengan jenis majas yang lain, majas pertautan ini kembali dibagi menjadi beberapa macam atau beberapa jenis. Ada 9 jenis majas pertautan yang terdiri dari majas metonimia atau majas metonimia, majas sinekdoke, majas alusio, majas eufimisme, majas eponim, majas epitet, majas paralesis, dan majas elipsis.

Macam dan Contoh Majas Pertautan

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa majas pertautan memiliki 9 jenis yaitu majas metonimia atau majas metonimia, majas sinekdoke, majas alusio, majas eufimisme, majas eponim, majas epitet, majas paralesis, dan majas elipsis, maka di bawah ini akan dijelaskan pengertian dari berbagai jenis majas pertautan tersebut lengkap beserta contohnya.

1. Metonimia (Netonimia)

Majas pertautan yakni majas metonimia ini jika ditinjau dari bentuknya termasuk ke dalam jenis majas perbandingan. Akan tetapi jika ditinjau dari maknanya yang saling berhubungan, maka majas metonimia ini termasuk pada majas pertautan.

Majas metonimia ini memiliki karakteristik yakni pada penggunaan nama merek atau simbol tertentu yang melekat pada sesuatu hal yang misalnya benda, instansi, dan lain sebagainya. Majas metonimia ini merupakan gaya bahasa yang diungkapkan untuk menggambarkan sesuatu hal secara komersial karena menggunakan nama merek dan lain sebagainya yang melekat.

Di bawah ini adalah beberapa contoh dari majas metonimia atau majas metonimia.

  1. Menjelang Ramadhan, ibu berbelanja kebutuhan rumah termasuk untuk menu buka dan sahur di Transmart. (Transmart merupakan salah satu nama swalayan).
  2. Baru saja ayah pergi ke kantor menggunakan Brio merah miliknya yang dibeli dari hasil kerja kerasnya selama ini. (Brio adalah salah satu jenis mobil keluaran merek Honda).
  3. Meski harganya mahal, ibu tetap setia membeli SunCo demi menjaga cita rasa gorengan dagangannya. (Sunco merupakan salah satu merek minyak goreng).
  4. Berita tentang pengeroyokan pelajar tersebut diliput secara langsung oleh AntaraNews. (AntaraNews merupakan salah satu media massa atau media pemberitaan di Indonesia).
  5. Ia mengalami kecelakaan karena berkendara sambil bermain Samsung di dalam genggamannya. (Samsung adalah merek ponsel atau handphone).

2. Sinekdoke

Selain majas metonimia, jenis majas pertautan selanjutnya adalah majas sinekdoke. Majas sinekdoke dibagi menjadi dua jenis lagi, yaitu majas pars pro toto dan majas totem pro parte.

a. Majas Pars Pro Toto

Jenis majas sinekdok yaitu majas pars pro toto merupakan majas yang menyatakan sebagian dari suatu hal tertentu untuk menjelaskan keseluruhan dari hal tersebut. Di bawah ini adalah beberapa contoh dari majas pars pro toto.

  1. Tiket Justin Bieber yang mencapai Rp10.000.000,00 laku terjual padahal baru hari pertama penjualan tiket.
  2. Setidaknya ada 1.000 jenis buku dari 3 ruangan perpustakaan yang terbakar kemarin malam.
  3. Per April mendatang, harga BBM jenis Pertamax naik menjadi Rp16.000,00 per liternya.
  4. Di SMA Maju Jaya, setidaknya ada 800 siswa kurang mampu dan 120 di antaranya merupakan siswa yatim piatu.
  5. Sejumlah pasar di Jawa Tengah sudah menaikkan harga bahan pokok sehari-hari sampai 3 persen untuk setiap bahan baku makanan.

b. Majas Totem Pro Parte

Berbeda dengan majas pars pro toto, majas totem pro parte merupakan gaya bahasa yang menyatakan tentang keseluruhan sebagai perwakilan dari sebagian terhadap suatu hal. Berikut ini adalah contoh majas totem pro parte.

  1. SMP Negeri Jaya Abadi berhasil memperoleh medali atas perlombaan baca puisi antar SMP Negeri di Kabupaten Malang.
  2. Timnas Bulutangkis Indonesia akan bertanding melawan Timnas Bulutangkis China malam nanti.
  3. Belanda mengaku sudah menyiapkan skenario terbaik untuk melawan Spanyol esok hari.
  4. Kelurahan Sukajadi berhasil menjadi pemenang Kelurahan Sehat di Kota-nya.
  5. Sekolah musik di Kota Solo berhasil menang melawan sekolah musik dari Jogja.

Nah, untuk memahami lebih jelas mengenai keduanya, silakan pahami tentang apa itu majas sinekdoke.

3. Alusio

Majas alusio merupakan majas yang menggambarkan secara tidak langsung terhadap adanya sebuah kejadian, tokoh, dan juga sebuah perumpamaan yang sudah diketahui oleh banyak pihak secara umum. Berikut adalah contoh dari majas alusio.

  1. Kami sangat menyayangkan aksi yang dilakukan para siswa SMA Bina Bangsa kemarin malam.
  2. Ibu guru tidak memaafkan sikap yang telah Tono lakukan.
  3. Kejadian ancaman yang dilakukan semalam melukai hati masyarakat Indonesia.
  4. Semoga kejadian tepat satu tahun lalu tidak terulang lagi.
  5. Lita enggan mengingat masa lalu suramnya yang membuat sedih.

4. Eufimisme

Majas eufimisme adalah majas yang mengungkapkan suatu hal yang terasa tabu untuk dikatakan dan menggantinya dengan istilah yang lebih halus agar tidak menyinggung yang bersangkutan. Berikut adalah contoh majas eufimisme.

  1. Gadis tunawisma tersebut berhasil mendapatkan beasiswa sekolah menengah. (Tunawisma sebagai sebutan orang yang tidak memiliki tempat tinggal).
  2. Ibu benar-benar kehilangan atas kepergian asisten rumah tangga yang sudah membantu keluarga kami sejak aku bayi. (Asisten rumah tangga sebagai sebutan pembantu rumah tangga).
  3. Meski ia memiliki pendidikan tinggi, tetapi tidak malu membantu keluarganya bekerja sebagai pramusaji. (Pramusaji adalah pelayanan rumah makan).
  4. Pramuniaga di toserba itu ternyata anak dari petani sukses yang belum dapat pekerjaan tetap. (Pramuniaga adalah pelayan toko atau warung).
  5. Meski ia seorang tunanetra, tetapi semangat belajarnya sangat tinggi. (Tunanetra merupakan sebutan bagi orang yang memiliki cacat penglihatan atau tidak bisa melihat).

5. Eponim

Majas eponim merupakan gaya bahasa yang secara umum digunakan untuk mengungkapkan suatu hal yang diketahui atau dimengerti dan berhubungan dengan adanya pengutaraan sifat atau karakter tertentu. Berikut adalah contoh majas eponim.

  1. Lahirnya kembang desa ini menjadi harapan warga desa untuk lebih maju. (Kembang desa adalah perempuan cantik).
  2. Seorang Satria Piningit hadir di desa ini dan menjadi harapan masyarakat sekitar. (Satria Piningit merupakan laku-laki yang jadi harapan bangsa).
  3. Pria itu menjadi malaikat cinta bagi hati Dewi yang sudah tak jelas arahnya. (Malaikat cinta sebagai sebutan orang terkasih).
  4. Aku bisa sukses seperti ini berkat pahlawan tanda jasa. (Pahlawan tanda jasa adalah guru).
  5. Pernikahan kakakku dilaksanakan menggunakan upacara pedang pora. (Pedang pora merupakan salah satu jenis upacara kemiliteran).

6. Epitet

Majas epitet digunakan untuk mendeskripsikan sifat atau karakteristik tertentu dari hal yang ingin disampaikan. Berikut contoh dari majas epitet.

  1. Lintah darat tersebut membuat banyak pedagang pasar merugi.
  2. Dikira baik, karyawan kesayangan ayah ternyata panjang tangan.
  3. Perempuan itu sudah tidak lagi menjadi kupu-kupu malam.
  4. Laki-laki berhati baja meski sudah dibohongi berkali-kali.
  5. Tika harus berbesar hati menerima keputusan dari atasannya.

8. Paralesis

Majas paralesis merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan kesetaraan terhadap suatu hal. Berikut adalah contoh dari majas paralesis.

  1. Baik tua maupun muda, tetap harus antre sesuai dengan urutan.
  2. Aturan ini berlaku untuk semua karyawan, baik itu karyawan laki-laki maupun karyawan perempuan.
  3. Semua jajaran pemerintahan di seluruh Indonesia harus mengikuti aturan jam kerja yang berlaku.
  4. Bagi penumpang baik yang sudah dewasa maupun di atas 2 tahun dikenai biaya yang sama.
  5. Entah itu orang kaya maupun orang kurang mampu, semua di mata Tuhan adalah sama.

9. Elipsis

Majas elipsis adalah majas yang digunakan untuk menghilangkan salah satu unsur di dalam kalimat penyampaiannya. Berikut adalah contoh dari majas elipsis.

  1. Tina ke sekolah dibonceng ayahnya.
  2. Keluarga kami akan ke rumah nenek saat lebaran nanti.
  3. Kakak baru saja ke kampus.
  4. Baik sekali.
  5. Perampok itu ke rumah merampas semua barang elektronik.

Yuk, pahami jenis majas-majas lainnya ya.

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis