Majas Antitesis: Pengertian, Ciri-Ciri dan Contoh

contoh majas antitesis

Contoh Majas Antitesis – Majas menjadi pembahasan di mata pelajaran bahasa Indonesia yang sudah didapatkan sejak duduk di bangku SMP dan banyak digunakan untuk membuat sebuah puisi. Ada kemungkinan juga materi ini sudah mulai diperkenalkan sejak SD.

Majas merupakan gaya bahasa yang menggunakan kata kiasan, tujuan penggunaannya pada karya tulis adalah untuk membuat karya lebih indah dan enak dibaca. 

Jenis majas sangatlah beragam, dan masing-masing punya pengertian, ciri-ciri, dan kegunaan yang khas. Hal serupa juga berlaku untuk majas antitesis yang umum dijumpai pada sejumlah karya tulis. 

Majas jenis ini termasuk ke dalam jenis majas pertentangan, sebab umumnya digunakan untuk membandingkan dua hal atau lebih yang saling bertentangan. Supaya tidak bingung mengenai pengertian dan kapan bisa digunakan. Maka bisa menyimak penjelasannya di bawah ini. 

Pengertian Majas Antitesis 

Menurut KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata antitesis diartikan sebagai pengungkapan gagasan yang bertentangan dalam susunan kata yang sejajar. Kemudian jika ditambah kata “majas” maka pengertiannya kurang lebih sama. 

Majas antitesis adalah gaya bahasa yang memadukan oposisi antara dua gagasan, dengan menggunakan dua kata atau bentuk lain yang disandingkan agar lebih jelas sehingga menonjol kontrasnya.

Secara sederhana, majas antitesis merupakan gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berlawanan dalam satu klausa atau dalam satu kalimat. Sehingga majas ini biasanya menggunakan kelompok kata atau padanan kata yang saling berlawanan (antonim). Umumnya padanan kata ini ditempatkan dalam satu klausa. 

Dalam majas pertentangan, majas ini ini sering dianggap sama dengan majas paradoks. Banyak yang salah paham, sehingga contoh majas antitesis dianggap majas paradoks dan begitu juga sebaliknya. 

Jadi, majas antitesis menunjukan unsur kontras dari satu hal atau satu objek yang sama. Sementara majas paradoks juga menunjukan unsur kontras dari suatu hal namun dengan objek yang berbeda. Misalnya ada pada contoh berikut: 

  • Kuat lemahnya fisik seseorang bisa sangat bergantung pada kesehatan mentalnya (majas antitesis) 
  • Usahakan belajar, jangan sampai menjadi seseorang yang kaya harta tapi miskin ilmu (majas paradoks). 

Dari kedua contoh di atas, maka bisa diketahui bahwa majas ini memiliki objek yang sama. Sementara majas paradoks berbeda. Pada contoh, majas paradoks membandingkan antara ilmu dengan harta. Sementara pada majas antitesis sama-sama menjadikan fisik (tubuh) seseorang sebagai objeknya. 

Fungsi dan Tujuan Penggunaan

Dalam hal penggunaan atau tujuan penggunaan majas antitesis, biasanya digunakan untuk menyampaikan suatu hal yang berbeda namun pada dasarnya sama. Salah satu ciri khas dari majas jenis ini adalah menggunakan paduan kata yang berlawanan dalam satu objek. Tujuannya untuk menyampaikan dua kata berlawanan tersebut adalah sama. 

Sama dalam artian bisa sama dari segi kedudukan, punya kesetaraan, punya wewenang yang sama, dan seterusnya. Jadi, majas ini lebih umum ditujukan untuk menyampaikan bahwa suatu hal tidaklah perlu dibedakan sebab sejatinya adalah sama. 

Jika fakta ini disampaikan apa adanya, dengan kata-kata yang gamblang langsung pada intinya. Ada kemungkinan akan menyakiti salah satu pihak. Sekaligus terdengar sangat kasar. Maka digunakanlah majas antitesis yang membuat kalimat menjadi lebih indah, maknanya lebih dalam, dan juga mudah diterima oleh akal. 

Majas antitesis juga bisa digunakan untuk tujuan menyampaikan semua hal yang sudah dilewati atau dilalui. Semua hal ini bisa dari membaca buku, kebiasaan membaca buku membuat pembaca terbiasa membaca buku tebal maupun tipis. Jika diungkapkan dengan majas ini maka kalimatnya menjadi:

Tebal maupun tipis, semua buku aku suka selama gaya berceritanya seru dan juga mudah untuk dipahami

Selain itu, bisa juga untuk menyampaikan semua kejadian yang dialami dalam hidup. Misalnya pada contoh berikut: 

Pahit manisnya kehidupan sudah aku rasakan, aku tetap bergeming dengan keadaan yang semakin susah ini. 

Dalam kalimat tersebut, penulis ingin menceritakan bahwa tokoh yang diangkat sudah punya pengalaman panjang dalam hidup. Sudah melewati masa-masa susah dan masa-masa senang. Sehingga tokoh tersebut sudah siap dengan semua konsekuensi atas perubahan dan atas keputusan yang diambilnya. 

Ciri-Ciri Majas Antitesis 

Sama seperti jenis majas yang lainnya, majas antitesis juga memiliki sejumlah ciri khas. Ciri-ciri ini yang kemudian membedakannya dengan  majas jenis lainnya, baik dengan majas dari kategori lain maupun sama-sama dari kategori majas pertentangan. Berikut adalah beberapa ciri khas yang dimiliki majas  antitesis: 

  • Merupakan salah satu jenis majas pertentangan, dimana jenis majas ini selain ada majas antitesis juga ada majas hiperbola, majas paradoks, dan majas litotes. 
  • Menggunakan dua kata berlawanan (antonim) dan ditempatkan pada satu klausa atau satu kalimat. 
  • Penggunaan padanan kata (antonim) biasanya muncul secara bersamaan, yakni diurutkan dan disebutkan secara langsung. 
  • Memiliki satu objek yang dibedakan dengan suatu antonim (dua kata yang berlawanan). 

Jika menjumpai suatu kalimat dalam kalimat tunggal maupun terangkai dalam sebuah paragraf menggunakan kata antonim dalam satu klausa. Maka besar kemungkinan kalimat tersebut menggunakan majas antitesis. Sebelum menarik kesimpulan, cek dulu objek di dalam kalimat hanya satu atau lebih. 

Jika lebih, maka akan masuk ke dalam majas paradoks sebagaimana yang dijelaskan dengan contoh di awal. Jika objeknya hanya satu dan dibandingkan dengan padanan kata yang berlawanan. Maka akan masuk ke dalam jenis majas antitesis. Supaya lebih paham memang perlu mengenal kalimat-kalimat yang menggunakan majas ini. 

Contoh Majas Antitesis 

Supaya bisa lebih mudah memahami apa itu majas antitesis dan bagaimana menggunakannya dalam suatu karya tulis. Berikut adalah sejumlah contoh majas antitesis yang umum dijumpai dan juga mudah untuk dipahami: 

  1. Mau kaya mau miskin, tidak akan membantu seseorang masuk surga kecuali amalnya. 
  2. Besar kecilnya penghasilan tidak menentukan seberapa besar tabungan kita, yang menentukan adalah tata kelola keuangan kita. 
  3. Siswa laki-laki maupun perempuan ketika di lingkungan sekolah akan diperlakukan secara adil. 
  4. Cepat atau lambat, kita yang bernafas dan hidup di dunia pada akhirnya akan menutup mata (meninggal). 
  5. Suka duka kehidupan harus dijalani dan selalu belajar untuk mensyukuri semua yang didapatkan. 
  6. Asam manis perjalanan hidup dengan bang Haris membuatku belajar banyak hal. 
  7. Harga kebutuhan bahan pokok memang dipengaruhi banyak faktor, salah satunya adalah naik turunnya harga BBM di sejumlah daerah. 
  8. Tidak peduli mahal atau murah, jika memang tersedia dan bisa dibeli maka kami bersedia membayarnya. 
  9. Masuk surga atau neraka hanya malaikat yang tahu catatan amal kita, kuncinya adalah tetap berusaha menjadi orang baik apapun situasi dan kondisinya. 
  10. Tua maupun muda semua sama, sama-sama punya hak untuk menentukan pilihan dalam agenda Pemilu dari pemerintah. 

Penjelasan tersebut tentu membantu mengetahui dan mengenal majas antitesis dengan lebih mendalam. Sehingga bisa menggunakannya dengan leluasa saat menyusun sebuah karya. Sekaligus tidak lagi tertukar antara antitesis dan paradoks, sebab keduanya punya sedikit perbedaan.

Baca artikel lain dan membantumu dalam menulis buku nantinya

Bagikan artikel ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram

Artikel oleh

Artikel Terbaru