Majas Sindiran: Pengertian, Macam dan Contoh

pengertian majas sindiran

Saat membuat sebuah karya tulis, melengkapinya dengan sejumlah majas atau gaya bahasa termasuk gaya bahasa sindiran bisa dilakukan. Sering juga disebut sebagai majas sindiran, yang umum digunakan untuk dialog. 

Meskipun begitu, setiap pengarang bebas menempatkannya di bagian manapun yang meningkatkan cita rasa dari karya tulisnya. Majas atau gaya bahasa memang sangat lumrah dimasukan ke dalam karya tulis. Sebab bisa memberi efek estetika atau keindahan. 

Suatu cerita akan lebih menarik ketika dibumbui dengan majas. Bahkan tidak sedikit pengarang maupun penulis yang dalam satu judul karyanya menggunakan banyak sekali jenis majas. 

Salah satu jenis majas yang menarik untuk dibahas adalah majas sindiran yang kemudian terbagi lagi menjadi beberapa jenis. Jika masih asing dengan majas jenis ini atau mungkin tertarik untuk mendalaminya. Maka bisa menyimak penjelasan di bawah ini. 

Apa Itu Istilah Sindiran?

Sebelum mengetahui pengertian dan jenis-jenis dari gaya bahasa sindiran, maka bisa mengenal dan mempelajari dulu pengertian dari kata “sindiran” itu sendiri. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata sindiran berasal dari kata sindir

Arti dari kata sindir ini adalah celaan, ejekan. Sehingga sindiran kemudian bisa diartikan sebagai sebuah perkataan yang dilontarkan atau diucapkan dengan maksud untuk mencela atau mengejek seseorang maupun sesuatu yang sifatnya tidak langsung. 

Sehingga, saat seseorang sedang menyindir maka sifatnya tidak langsung. Umumnya pelaku yang melontarkan kalimat sindiran tidak menyebutkan nama orang, benda, lokasi, dan sebagainya secara langsung. 

Sehingga sindiran ini berbeda dengan kata menghina, jika seseorang menghina maka disampaikan secara langsung. Ejekan yang dirasakan kemudian disampaikan persis di depan orang yang bersangkutan atau langsung menyebut nama. 

Meskipun sindiran merupakan ejekan dan celaan tidak langsung, namun menariknya sosok yang disindir biasanya akan merasa dirinyalah yang sedang disindir.

Disinilah keunikan dari sindiran, yang meskipun tidak menyebutkan nama secara spesifik namun biasanya akan terasa jelas sedang mengecek siapa. 

Pengertian Majas Sindiran

Keunikan dari sindiran kemudian membuatnya masuk ke dalam gaya bahasa atau majas, dan kemudian dikenal sebagai gaya bahasa sindiran.

Majas sindiran adalah suatu gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan suatu maksud tertentu dengan memanfaatkan kata-kata atau frasa yang umumnya bersifat menyindir dan umumnya bertujuan untuk memperkuat arti dalam kalimat tersebut.

Secara sederhana, majas sindiran adalah gaya bahasa yang berisi sindiran yakni kalimat yang mengecek atau mencela. Majas ini bisa membuat sindiran terdengar lebih halus dan lebih menarik. 

Namun, bagi orang yang menjadi tujuan majas ini atau objek majas maka akan terkesan mendapatkan sindiran keras, telak, atau menohok. Sebab dikemas seperti apapun, sindiran akan tetap terasa menyakitkan. 

Adapun respon dari orang yang disindir inilah yang menentukan karakter mereka, apakah lebih bijak dan dewasa atau sebaliknya. Jenis dari majas sindiran cukup beragam dan biasanya dibuat lebih menarik dan enak dibaca sekaligus enak didengar. 

Misalnya ada kalimat yang dibuat untuk memuji di awal dan diakhiri dengan sindiran sehingga membuat sindiran yang dilontarkan lebih berkelas dan tepat sasaran. Berikut contohnya: 

“suaramu indah sekali saat menyanyi, sampai-sampai telingaku rasanya pengang,,”

Jadi, di awal kalimat seseorang menyatakan pujian. Seterusnya pujian tersebut dipatahkan dengan kalimat yang intinya adalah menyampaikan hal sebaliknya. Suara seseorang dikatakan bagus di awal, hanya saja jika benar bagus maka telinga pendengarnya tidak akan pengang. 

Menyindir secara langsung akan terasa kasar dan tidak berperasaan, maka beberapa orang menggunakan majas sindiran. Sehingga sindiran yang dilontarkan terdengar lebih halus dan terkesan lebih berkelas seperti penjelasan sebelumnya. 

Majas sindiran atau gaya bahasa sindiran kemudian memiliki beberapa ciri khas atau karakter khas. Diantaranya adalah: 

  • Umumnya bersifat menyindir seseorang, namun dikemas secara halus seperti contoh di atas yang pada awalnya berisi pujian. 
  • Diungkapkan secara halus, sehingga sindiran yang dilontarkan lebih mudah dipahami dan diterima oleh mereka yang disindir tanpa perlu merasa sakit hati. 
  • Mengandung makna yang tidak sebenarnya, dalam artian dikemas dengan pujian meskipun pada dasarnya isinya berupa sindiran seperti contoh di atas. 
  • Penggunaan majas sindiran digunakan untuk memperkuat arti dalam kalimat yang ditulis atau diucapkan secara lisan. 

Baca juga: Pengertian Pantun

Jenis-Jenis 

Majas sindiran kemudian terbagi lagi menjadi beberapa jenis seperti yang disampaikan di awal. Secara umum berikut adalah jenis-jenis dari majas sindiran: 

1. Ironi

Jenis yang pertama adalah majas ironi, yaitu majas sindiran yang menggunakan kalimat di awal meninggikan dan kemudian menjatuhkan di akhir kalimat. Jadi, kalimat diawali dengan pujian dan diakhiri dengan sindiran. 

Majas jenis ini paling umum digunakan dari jenis majas ironi, sebab terkesan lebih menarik dan estetik. Seseorang sebelum menyindir perlu berpikir mengenai kalimat yang menyanjung terlebih dahulu baru diteruskan dengan sindiran tegas. 

Contoh Majas Ironi

Berikut beberapa contohnya: 

  • Kamu memang anak yang sangat pandai untuk ukuran anak SMK, soal Bahasa Indonesia anak SD saja kamu tidak bisa menjawab.
  • Kamu melakukan pekerjaanmu sangat cepat, sampai-sampai yang harusnya kamu serahkan tadi pagi sampai jam kantor usai pun kamu belum menyelesaikannya.
  • Wah, ternyata kamu memang anak yang rajin ya, sampai-sampai kamar mu saja seperti kandang kambing.
  • Saat berbicara dengan yang lebih tua tutur bahasanya sangat sopan, seperti orang yang tidak pernah mencicipi bangku sekolah.
  • Kamu sangat cocok untuk menjadi dokter, sebab tulisanmu benar-benar membuat mataku sakit.

2. Sinisme

Jenis yang kedua dari gaya bahasa sindiran adalah sinisme, yaitu gaya bahasa yang bertujuan untuk menyampaikan sindiran dengan menggunakan kata yang cenderung kasar. 

Majas ini bisa digunakan untuk menyampaikan kekecewaan secara langsung, tanpa perlu didahului dengan pujian dan tanpa perlu dikemas dengan kalimat yang enak didengar.

Contoh Majas Sinisme

Berikut beberapa contohnya dalam kalimat: 

  • Tidak sudi saya melihat wajahmu yang tampan itu!
  • Saya malas mendengar ucapan manismu! memuakkan!
  • Ide gilamu itu bisa saja membunuh kami sewaktu-waktu
  • Gak tau malu, pakai barang hasil korupsi kok malah bangga
  • Mikir itu pakai otak, jangan pakai dengkul.
  • Apa perlu tak ambilin kaca pembesar? benda sebesar itu masih aja kamu tabrak!
  • Gara-gara ide bodohmu itu, kami semua hampir celaka.
  • Sekali-kali kamu itu ngaca biar gak terus-terusan menilai kekurangan orang lain.
  • Baru punya mobil bontot kayak begitu saja sudah sombong.
  • Ya iyalah masak ya iya dong, udah tau masih aja nanya!
  • Gak tau malu, ditangkap KPK malah dada-dada ke kamera wartawan sambil senyum manis.

Meskipun menyampaikan sindiran dengan kata kasar, namun bukan berarti mahas ini hanya bisa digunakan untuk komunikasi yang serius. Bisa juga digunakan untuk candaan, terutama dengan teman dekat. Sehingga tidak meninggalkan rasa sakit hati dan maknanya tidak selalu serius. 

4. Sarkasme

Jenis  gaya bahasa sindiran yang ketiga adalah majas sarkasme, kata sarkas tentu cukup familiar di telinga. Sebab majas ini memang umum digunakan dan mudah ditemukan khususnya di film, sinetron, dan lain sebagainya. 

Majas sarkasme sendiri adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sindiran dan disampaikan dengan kata-kata kasar, secara langsung, dan menohok. Majas ini cocok digunakan saat berkomunikasi atau berdebat dengan orang yang tidak disukai. 

Hanya saja memang harus teliti dan hati-hati, karena sifatnya yang menohok bisa jadi akan meninggalkan rasa sakit hati bagi pendengarnya atau lawan bicara.

Contoh Majas Sarkasme

Berikut adalah beberapa contoh majas sarkasme dalam kalimat: 

  • Mulut harimau kau! (maksudnya: besar mulut).
  • Lihat sang Raksasa itu! (maksudnya: si Cebol – sehingga yang disindir bertubuh pendek).
  • Dasar onta bahlul (maksudnya: orang goblok – tidak pintar atau bodoh).
  • Dasar muka tembok, bener-bener gak tau malu. (maksudnya: tidak tahu malu). 
  • Aduhh dasar emang otak kerbau, sudah jelas itu empat dibilang delapan. (Maksud otak kerbau adalah tidak pintar atau bodoh). 
  • Hanya keledai yang jatuh di lubang yang sama. (Maksudnya: hanya orang bodoh yang melakukan kesalahan yang sama sampai dua kali bahkan lebih). 
  • Sama orangtua aja gak tau sopan santun. Dasar otak udang. (Maksud otak udang adalah bodoh). 
  • Coba lihat, si gajah bengkak itu (maksudnya: orang sangat gendut).
  • Kamu buta ya? udah tahu kondisi keluarga lagi gak punya uang, masih aja hidup mewah. (Maksudnya: meskipun bisa melihat tapi tetap memaksakan kondisi). 
  • Mual perutku kalau lihat dirimu. Pergi saja sana! (Maksudnya: tidak suka melihat lawan bicara). 
  • Lambat bener jalanmu kayak keong sawah. (Maksudnya berjalan sangat lambat seperti keong yang berjalan perlahan). 
  • Kayak Tuhan saja kamu ini, sukanya menilai dan menghakimi orang lain yang berbeda tafsir denganmu. (Maksudnya: di dunia ini yang bisa menentukan salah dan benar adalah Tuhan). 

5. Satire

Jenis gaya bahasa sindiran berikutnya adalah majas satire yang merupakan gabungan dari majas ironi dan majas sarkasme. Pada beberapa kondisi, seseorang mengkombinasikan tiga majas sekaligus yakni ironi, sarkasme, dan parodi. 

Secara umum majas ini digunakan untuk menyampaikan rasa kecewa yang dialami. Selain itu, seringnya juga disampaikan dalam bentuk karya tulis seperti puisi, cerpen, dan sebagainya. 

Contoh Majas Satire

Berikut contoh puisi dengan majas satire didalamnya: 

Sudah tuli telingaku dengar kata-kata manismu

Sudah buta mataku melihat senyum ramahmu

Sudah 5 kali kalenderku bergonti-ganti

Namun janjimu masih saja berupa janji

Pada puisi di atas, penulis ingin menyindir atau mengkritik pejabat di pemerintahan yang seolah-olah sudah amnesia (lupa). Terhadap janji manis saat kampanye mencalonkan diri setelah resmi menjabat. 

6. Innuendo

Jenis berikutnya adalah majas innuendo yang umumnya berupa kalimat yang menyampaikan sesuatu yang besar dan kemudian dikecilkan seketika. Jadi, pada saat menemukan kalimat maupun paragraf berisi sindiran yang menyatakan hal besar lalu ujungnya dikerdilkan atau dikecilkan. Maka ada majas innuendo didalamnya. 

Contoh Majas Innuendo

  • Dia orangnya baik, cuma sayangnya dia suka berbohong.
  • Bener-bener sempurna orang itu, dah ganteng, berpendidikan, kaya raya pula. Cuma moralnya saja yang kurang.
  • Sebenarnya ia sukses bukan dari hasil keringat tangannya sendiri.

7. Paradoks

Jenis terakhir adalah majas paradoks, yaitu gaya bahasa yang menyatakan sindiran dengan menggunakan dua kata yang berlawanan makna. Sehingga bisa menyebutkan seseorang kaya raya di daerah yang kondisinya memprihatinkan atau sebaliknya.

Contoh Sindiran Paradoks

  • Banyak masyarakat Indonesia yang hidup miskin di negara kaya sumber daya alam ini. (ada kata miskin dan kaya). 
  • Memang benar dia pelari tercepat, tapi dia juga selalu terlambat berangkat ke sekolah. (ada kata tercepat dan kata terlambat). 
  • Kecantikan gadis desa menjadi topeng yang menutupi kejelekan sifatnya. (ada kata kecantikan dan kejelekan). 

Melalui penjelasan di atas, maka bisa lebih mudah memahami apa itu gaya bahasa sindiran dan jenis-jenisnya. Majas satu ini menarik untuk dipelajari agar bisa lebih cerdas dalam menyampaikan kekecewaan, rasa kesal, kritik, dan lain sebagainya.

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis