Pengertian dan Jenis Pantun Berdasarkan Isinya

jenis pantun berdasarkan isinya

Siapa sih yang tidak tahu pantun? Saya yakin kamu pun sudah tahu pantun itu apa. Di Bangku sekolah pantun juga akan diajarkan. Dalam budaya tradisi, pantun juga menjadi daya tarik tersendiri. Saat berbicara pantun itu sendiri pun ada banyak jenisnya. Nah, pengen tau jenis pantun berdasarkan isinya? simak artikel ini sampai selesai ya.

Jadi pada artikel kali ini kita akan membahas jenis-jenis pantun. Namun sebelumnya kita ulas terlebih dahulu tentang pengertian pantun dan ciri pantun. Langsung saja simak ulasannya sebagai berikut.

Pengertian Pantun

Sebelum masuk ke jenis-jenis pantun, berikut beberapa pengertian pantun menurut para ahli. Meskipun secara inti memiliki maksud dan inti yang sama, tidak ada salahnya kita simak ulasannya sebagai berikut. 

1. Kosasih 

Menurut Kosasih pantun adalah puisi lama yang disusun dalam bentuk bait yang terdiri dari beberapa baris. Menurut Kosasih, pantun memiliki aturan lebih terikat dan lebih baku daripada puisi. 

2. Pangesti 

Pantun menurut pangesti diartikan sebagai karya sastra lama yang memiliki jangkauan lebih luas. Pantun zaman dahulu digunakan untuk interaksi tanya jawab dengan orang lain. 

3. Indriawan 

Secara teknis, pantun ditulis dalam empat larik, dimana setiap larik memiliki delapan atau dua belas suku kata. Setiap akhir pantun memiliki rima a-b-a-b. Indriawan menyebutkan bahwasanya pantun termasuk sastra lisan yang sekarang jarang ditemukan. Sekarang lebih sering ditemukan sastra tulis. 

4. Zulfahnur 

Tidak jauh berbeda dengan pendapat Zulfahnur yang mengartikan pantun terdiri dari empat baris dan bersajak a-b-a-b. Pada baris pertama dan ketiga berupa sampiran, sementara baris yang kedua dan keempat berupa isi.

Dari beberapa pendapat di atas, maka pantun dapat diartikan sebagai uisi lama atau puisi rakyat yang secara teknis ditulis berdasarkan aturan penulisan pantun dan berirama.

Ciri utama pantun

Meskipun pantun tidak sepopuler karya sastra seperti novel, cerpen dan puisi, pantun dijadikan sebagai tradisi di beberapa daerah loh. Misalnya budaya berbalas pantun dalam acara pesta pernikahan. Beberapa daerah yang menjadi pantun sebagai budaya ada di Bengkulu, dan beberapa daerah lainnya. 

Padahal kita tahu bahwasanya membuat pantun secara spontan tidaklah mudah. Butuh kecerdasan dalam menyusun pantun agar tetap seirama dan bisa berbalas pantung. Nah, berikut beberapa ciri utama pantun. 

1. Terdiri dari 4 Baris

Ciri terdiri empat baris. Dimana baris pertama dan baris kedua sebagai sampiran. Sementara baris ketiga dan baris keempat inilah yang sebagai inti atau pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Meskipun hanya empat baris, dan relative singkat, praktek penulisannya tidaklah mudah. 

2. Memiliki 8-12 suku kata 

Adapun ciri-ciri pantun yang kedua yaitu memiliki suku kata pendek saja. Hanya 8-12 suku kata saja. Inilah keunikan dari pantun. Tidak seperti cerpen ataupun puisi. Justru karena aturan jumlah suku kata yang terbilang pendek inilah yang menjadikan justru sulit dibuat. Karena seorang penulis harus memiliki seni memilih diksi dan majas yang tepat dan saling berkaitan. 

banner-di-artikel (1)

3. Bersajak a-b-a-b

Ciri yang terakhir pantun bersajak a-b-a-b, sehingga secara sekilas kita akan menemukan rima setiap akhir kata. Nah, ternyata dalam menentukan rima itu sendiri pun tidaklah mudah. Terutama dalam pemilihan makna/diksi yang memiliki rima yang sama. 

Itulah beberapa ciri-ciri pada jenis-jenis panting. Bagi sebagian orang pantun karya sastra yang paling mudah dan direkomendasikan oleh penulis pemula. Padahal, untuk membuat pantun itu sendiri juga tetap butuh seni dan kepekaan memilih diksi, kata dan majas agar pantun bisa lebih hidup. 

Jenis-Jenis pantun berdasarkan isinya

Siapa yang mengira jika jenis-jenis pantun berdasarkan isinya ada berbagai macam. Penasaran, apa saja sih? Langsung saja kita simak satu persatu. 

1. Pantun Anak

Sesuai dengan namanya, pantun anak adalah penting yang diperuntukan untuk segmentasi pembaca anak-anak. Meskipun anak-anak tidak suka membaca, ternyata pantun justru bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka. 

Bagi calon penulis pantun, secara teknis pantun ditulis lebih sederhana dan mudah dipahami. Pemilihan kata, diksi cukup hal-hal yang familiar buat anak-anak. 

Contoh Pantun Anak

Bantal empuk berwarna jingga 

Beli makan enak agar tidak kelaparan 

Anak nakal banyak dicerca 

Anak baik Pasti banyak teman

2. Pantun Kiasan

Sementara yang dimaksud dengan pantun kiasan adalah pantun yang menyampaikan pesan secara tidak langsung. Karena pantun ini bentuknya kiasan, maka dari segi arti dapat diinterpretasikan berbeda-beda masing-masing orang. 

Contoh Pantun Kiasan

Kayu jati dibuat papan,

burung puyuh jauh menghilang.

Padi kutanam dengan harapan,

tumbuh pula rumput ilalang.

3. Pantun Perkenalan

Jenis-jenis pantun yang ketiga adalah pantun perkenalan. Pastinya kamu sudah tahu maksud dari jenis pantun satu ini, yaitu pantun yang memperkenalkan diri. Pantun perkenalan ini sering digunakan untuk pengisi acara dalam mencairkan suasana. Jadi sebelum masuk ke acara inti, akan melontarkan sebuah pantun perkenalan. Yah, meski tidak semuanya demikian. 

Contoh Pantun Perkenalan 

Di meja ada srikaya 

sudah habis dimakan oma

perkenalkan nama saya elisa 

mahasiswa baru jurusan MIPA

4. Pantun Nasehat

Jenis-jenis pantun yang paling baik adalah pantun nasihat. Kenapa baik? Karena pantun ini memberikan wejangan dan memberikan saran. Dapat dibilang, pantun nasihat ini adalah pantun yang mengajak orang dalam hal kebaikan secara langsung ataupun tidak langsung. 

Contoh pantun Nasehat karya Dr. Tenas Effendy

Wahai ananda kekasih ibu

Pakai olehmu pantun melayu

Di dalamnya banyak mengandung ilmu

Manfaatnya besar untuk bekalmu

5. Pantun Jenaka

Jenis pantun jenaka salah satu jenis pantun yang paling sering digunakan di acara hiburan. Misalnya saat opera, teater atau bahkan dalam tradisi balas pantun pun ternyata juga sering digunakan. Intinya, pantun jenaka ini digunakan untuk hal-hal yang bersifat menghibur. 

Contoh Pantun Jenaka 

Bunga mawar tangkai berduri

Laris manis pedang cendol

Aku tersenyum malu sekali

Ingat dahulu suka mengompol.

6. Pantun Agama

Sementara yang dimaksud dengan pantun agama adalah pantun yang menyinggung tentang religiusitas. Oh iya, konteks agama yang dimaksud di sini adalah bisa agama hindu, budha, nasrani, katolik. Jadi lebih universal, tidak melulu tentang agama islam saja.

Contoh Pantun Agama

Malam ini malam Jumat 

Besoknya malam Sabtu 

Kita ini umat Nabi Muhammad 

Jangan sampai meninggalkan shalat fardhu

7. Pantun Teka Teki

Mengingat pantun digunakan untuk banyak hal kepentingan, maka pantun pun ada yang spesifik pantun teka teki. Tentu saja pantun teka teki ini lebih menitik beratkan pada permainan teka-teki lewat pantun. 

Contoh Pantun Teka teki

Hari Minggu menanam semangka

Hari Senin menanam dondong

Hei adik jangan suka tertawa

Coba tebak raja apa yang kepalanya bisa dipegang?

  • Jawabannya adalah raja catur.

8. Pantun Adat

Ada juga yang disebut pantun adat. Pantun adat ini lebih difokuskan pada kepentingan kebudayaan atau adat yang dianut di suatu daerah tertentu. Dalam perspektif lain, pantun adat dapat pula diartikan sebagai karya sastra yang dibuat menggunakan bahasa daerah atau menonjolkan kebudayaan lokal atau adat kebudayaan setempat. Kita pun tahu bahwa pantun adat ini sendiri di Indonesia ada banyak sekali dan sangat beragam.

9. Contoh Pantun Adat

sore-sore ke taman bunga 

Petik satu paling cantik bunga mawar 

jika ingin hidup rukun antar sesama 

Utamakan toleransi dengan warga sekitar

10. Pantun Nasib

jenis jenis pantun yang terakhir adalah pantun nasib. Secara garis besar, pantun nasib ini berisi atau menceritakan tentang kondisi seseorang. Dapat pula diartikan sebagai pantun yang menceritakan kehidupan seseorang.

Contoh Pantun Nasib

Sampan kecil menuju tepi,

Hutan lebat tempat si lutung.

Termenung diri di tengah sepi,

Ingat badan belum beruntung.

Itulah beberapa jenis-jenis pantun disertai dengan contohnya. Semoga sedikit ulasan tentang pengertian dan ciri utama pantun ini bermanfaat. (Irukawa Elisa)

Baca artikel penting lainnya dari Penerbit Buku Online Bukunesia

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis