logo penerbit bukunesia

Reorientasi Dalam Teks Biografi atau Autobiografi

reorientasi
promo tahun baru 30%

Banyak sekali penulis yang masih bingung reorientasi dalam teks biografi perlu atau tidak ditulis didalam buku? 

Teks biografi juga terdiri dari beberapa struktur penyusunnya. Teks biografi tersusun atas tiga struktur, yaitu orientasi, peristiwa dan konflik, dan reorientasi. Pada sebuah teks biografi, reorientasi memiliki sifat yang opsional, atau tidak wajib ada.

Apa yang dimaksud dengan reorientasi dan mengapa sifatnya tidak wajib? Simak penjelasannya berikut ini!

Pengertian Reorientasi

Dalam teks biografi, reorientasi adalah bagian terakhir atau ketiga pada struktur penulisan. Secara singkat, reorientasi dapat diartikan sebagai bagian penutup pada sebuah teks biografi. Sebagai bagian penutup teks biografi, apa saja isi reorientasi? Apa saja yang penulis biografi tuliskan mengenai tokoh yang ditulisnya menjadi sebuah biografi?

Sebelumnya, sudah disebutkan bahwa reorientasi merupakan bagian penutup pada teks biografi. Pada sebuah teks, bagian penutup biasanya berisi ulasan maupun kesimpulan dari bagian-bagian yang sudah dituliskan sebelumnya. Hal ini juga kurang lebih sama pada bagian reorientasi di teks biografi.

Bagian reorientasi pada biografi, penulis akan menuliskan pendapat dan pandangan pribadinya mengenai tokoh yang ia tulis menjadi biografi. Selain itu, pada bagian reorientasi ini juga akan berisi tinjauan dari bagian orientasi atau pengenalan, yang adalah bagian awal teks biografi. Adanya bagian reorientasi ini akan memengaruhi dan menambah sudut pandang mengenai tokoh tersebut.

Meski reorientasi merupakan bagian dari struktur teks biografi, ternyata reorientasi dalam teks biografi ini bersifat opsional. Karena bersifat opsional, maka penulis tidak harus menuliskan bagian ini pada biografi yang sedang mereka tulis.

Struktur Teks Biografi

Struktur Teks biografi terbagi atas tiga struktur, yaitu orientasi, peristiwa dan konflik, dan reorientasi. Berikut ini adalah masing-masing penjelasan dari setiap struktur tersebut:

1. Orientasi

Bagian pertama pada struktur teks biografi adalah tahap orientasi, yang sering juga disebut sebagai tahap pengenalan. Pada tahap orientasi ini, penulis ‘mengenalkan’ tokoh-tokoh yang ada dalam biografi yang ditulisnya. Bukan hanya tokoh utama yang menjadi pusat cerita, tapi juga tokoh-tokoh penting pendukung cerita lainnya.

Pengenalan tokoh pada tahap ini menjadi pembuka cerita bagi pembaca dalam mengikuti kehidupan dan kisah tokoh utama yang diangkat dalam biografi.

2. Peristiwa dan Konflik

Setelah tahap orientasi, struktur teks biografi berikutnya adalah tahap peristiwa dan konflik. Pada tahap inilah berbagai kisah hidup sang tokoh, yang terdiri dari berbagai peristiwa dan konflik yang terjadi akan diceritakan.

Peristiwa, konflik, dan permasalahan yang dituliskan biasanya adalah yang dapat memengaruhi emosi pembacanya. Misalnya peristiwa bahagia, peristiwa sedih, atau kerja keras yang dilakukan oleh tokoh tersebut sampai bisa mencapai keberhasilannya.

3. Reorientasi

Reorientasi adalah bagian terakhir pada struktur teks biografi, yaitu bagian penutup. Pendapat dan pandangan penulis mengenai tokoh pada teks biografi akan dituliskan di bagian ini. Reorientasi juga berisi tinjauan mengenai berbagai peristiwa yang ada pada bagian sebelumnya. Penulis juga bisa menuliskan kutipan-kutipan dari tokoh dalam teks biografi, sebagai kalimat yang memotivasi pembaca.

Contoh Reorientasi

Reorientasi pada teks biografi dapat dibuat seperti contoh berikut ini:

Berkat perjuangannya melawan penjajah, mulai saat itu hingga sekarang ia dianggap sebagai seorang pahlawan. Namun ia menganggap bahwa sebutan pahlawan itu tidak diperlukan. Sebab, ia berjuang bersama ribuan rakyat lainnya melawan penjajah. Menurutnya, kalau ia disebut pahlawan karena melawan dan mengusir penjajah, maka ini artinya ribuan rakyat lainnya juga harus disebut pahlawan.

Hal ini memperlihatkan sifatnya yang rendah hati dan menginginkan adanya kesetaraan di antara semua orang yang berjuang bersamanya dalam membangun negeri. Rasa cintanya pada tanah kelahirannya jugalah yang membuat ia tergerak untuk memimpin ribuan rakyat untuk berjuang bersamanya.

Sifat rendah hati, kepahlawanan, dan cinta tanah air ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat kita saat ini untuk mempertahankan negara dalam berbagai bentuk yang berbeda. Selain itu, hal ini juga dapat menjadi pelajaran bagi setiap orang, bahwa ada berbagai cara untuk mencintai tanah air.

(Penulis: Tyas Wening)

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis