9 Cara Membaca Puisi yang Baik dan Benar

9 Cara Membaca Puisi

Pernahkah tertarik untuk mempelajari cara membaca puisi yang baik dan benar? Puisi merupakan jenis karya sastra yang mencuri perhatian, sejak dulu sampai sekarang.

Puisi juga sering dilombakan baik itu lomba menulis puisi maupun lomba membaca puisi. Dalam menulis puisi sepertinya tidak terlalu banyak teknik perlu dipelajari, karena prinsipnya sama seperti menulis karya pada umumnya. 

Namun, menjadi lain soal ketika membaca proses membaca puisi. Sebab sebagaimana yang diketahui bersama, membaca sebuah puisi punya ciri khas. Sehingga berbeda pada saat membaca novel, cerpen, maupun materi di sebuah mata pelajaran. 

Baca juga: Pengertian dan Ciri Puisi Naratif

Ada permainan intonasi, sehingga ada kata yang diberi tekanan ada juga yang dibuat datar. Kemudian ekspresi wajah atau mimik juga bermain disini, oleh sebab itu pembacaan puisi tidak bisa sembarangan. Lalu, bagaimana cara membaca puisi yang benar? 

Cara Membaca Puisi yang Benar

Membaca puisi sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya butuh keterampilan khusus. Sebab tidak sama ketika membaca jenis karya sastra lain, semisal cerpen maupun novel. Jika karya sastra lain bisa dibaca datar dan cukup memperhatikan tanda baca.

Sebelumnya, pahami perbedaan sajak dan puisi.

Maka pada puisi ada banyak aspek perlu diperhatikan agar pembacaannya tepat dan bisa menyampaikan pesan dari puisi tersebut dengan baik. Adapun cara membaca puisi yang baik dan benar memang perlu memperhatikan beberapa hal. Yaitu: 

1. Pelafalan yang Tegas

Cara yang pertama agar puisi bisa dibaca dengan baik dan benar adalah memperhatikan pelafalannya. Pelafalan dalam membaca puisi sebaiknya tegas sehingga jelas, pembaca sedang menyebut kata apa saja. 

Pelafalan sendiri adalah teknik dalam menyebutkan sebuah kata, dimana dalam pembacaan puisi memang harus tegas. Antara satu kata dengan kata lain harus jelas penyebutannya. 

Antara huruf vokal a,i,u,e, dan o juga harus jelas. Jangan sampai saat membaca puisi justru terdengar seperti berbisik maupun bergumam. Puisi idealnya tidak dibaca demikian melainkan dibaca jelas dan cenderung tegas. Seperti seorang prajurit yang tegas dalam memberi aba-aba. 

2. Artikulasi

Pada saat mempelajari tata cara membaca puisi maka dijamin akan mempelajari tentang artikulasi. Artikulasi dalam pembacaan puisi merupakan pengucapan lambang bunyi bahasa sesuai dengan pola-pola standar sehingga apa yang diucapkan mudah dipahami pendengar. 

Artikulasi dalam pembacaan puisi mencakup intonasi (tinggi rendahnya suara dalam mengucapkan kata atau kalimat), pelafalan sebagaimana yang dijelaskan di poin sebelumnya, dan juga kefasihan dalam mengucapkan kata dan kalimat dalam puisi. 

Penguasaan terhadap artikulasi akan membantu membacakan puisi dengan baik. Yakni tegas dan memiliki intonasi yang naik turun sehingga membuatnya enak didengar sekaligus terkesan sangat estetik atau indah. 

3. Ekspresi dan Mimik

Cara membaca puisi sudah tentu tidak bisa dilepaskan dari ekspresi wajah atau mimik. Ekspresi diperlukan untuk menggambarkan segala bentuk rasa dari isi puisi yang dibacakan. 

Sehingga, pembaca puisi selayaknya sebagai pemain peran dalam sebuah pementasan drama atau teater. Dimana tidak hanya perlu menguasai pelafalan dan artikulasi saja, melainkan juga pandai berekspresi. 

Misalnya saja, saat membacakan puisi yang temanya sedih seperti mengusung tema kematian. Maka pembaca perlu membangun ekspresi wajah yang terlihat sedih lalu didukung dengan artikulasi. Seperti membuat suara saat menangis terisak. 

Sebaliknya, saat membacakan puisi yang menceritakan suatu kebahagiaan. Maka ekspresi pembaca puisi juga bisa mengikuti agar isi puisi bisa disampaikan dengan sangat jelas kepada pembaca. 

Menariknya, perubahan ekspresi wajah pada pembacaan puisi tidak terjadi secara intens. Sebab satu judul puisi biasanya menggambarkan satu perasaan saja. Sehingga saat membacakan puisi sedih, maka bisa melatih ekspresi wajah terlihat sedih dari awal. 

4. Gesture Tubuh

Dalam membaca puisi, tidak hanya perlu bermain dengan ekspresi wajah yang disesuaikan dengan tema puisi tersebut. Melainkan juga bermain dengan gesture tubuh atau gerak gerik tubuh saat membacakan puisi. 

Tidak sedikit, pembaca puisi yang memanfaatkan sejumlah atribut di sekitarnya untuk mengekspresikan apa yang dirasakan oleh penulis puisi. Sehingga seorang pembaca puisi perlu memperhatikan gestur tubuh dengan baik. 

Saat bersedih maka perlu menunjukan gestur tubuh yang tampak lemas, tidak bertenaga, dan sejenisnya. Kemudian saat membacakan puisi dengan tema yang lebih ceria maka pembaca puisi bisa mengekspresikan kegembiraan dalam gerak-gerik tubuhnya juga. 

Tidak masalah jika pembaca puisi kemudian mencoba berkeliling panggung dan memegang beberapa benda di sekitarnya. Entah itu payung, vas bunga, dan unsur dekoratif lain di atas panggung tersebut. 

Gestur tubuh yang mampu mengekspresikan isi puisi akan membantu pendengar untuk memahami isi puisi tersebut. Bahkan bisa ikut menjiwai isi puisi tersebut. Saat puisi sedih dibacakan, mereka bisa ikut bersedih bahkan sampai meneteskan air mata. 

Namun, bicara mengenai gestur memang sebaiknya disesuaikan dengan apa yang diungkapkan dalam puisi. Artinya, jangan sampai berlebihan atau over acting karena justru bisa mengurangi kekhusyukan pendengar saat puisi dibacakan sehingga tidak bisa meresapi apalagi memahami. 

5. Mental

Cara membaca puisi yang baik berikutnya adalah berkaitan dengan mental. Mental disini bisa mengarah pada rasa percaya diri yang memang perlu dipupuk sejak awal. Apalagi untuk pembacaan puisi di hadapan banyak orang. 

Harus yakin bisa membacakan puisi dengan baik sehingga bisa berlatih dengan serius dan bisa fokus. Kemudian, dalam menumbuhkan rasa percaya diri ini perlu latihan dengan disiplin. 

Latihan bisa membuat segala hal menjadi lebih sempurna, prinsip ini tentu berlaku untuk proses pembacaan puisi. Jadi, mulailah mengatur jadwal latihan didampingi oleh mereka yang memang ahli dalam bidang bahasa. 

Misalnya didampingi oleh guru, dosen, maupun senior yang sudah mendapatkan asam garam pembacaan puisi. Latihan yang dilakukan jauh-jauh hari akan membangun kepercayaan diri. 

Sehingga mental menjadi lebih kuat dan siap membacakan puisi dengan sebaik mungkin. Mental yang kuat tentu perlu proses untuk dibentuk. Maka perlu menyiapkan diri dengan baik dan tidak takut untuk mencoba ikut lomba membaca puisi lain setelahnya. 

6. Membaca (Supaya Tidak Salah)

Cara membaca puisi berikutnya adalah dengan membaca, dalam artian membaca keseluruhan puisi kemudian memahami apa isi puisi tersebut. Hal ini penting, agar bisa menyiapkan intonasi, ekspresi, dan lain sebagainya supaya sesuai. 

Kemudian, membaca puisi juga membantu mengetahui seluruh tanda baca di dalamnya. Biasanya puisi memang ditulis tanpa tanda baca, dan perlu diberi tanda baca sendiri untuk menentukan intonasi terbaiknya seperti apa. 

Sehingga dalam proses membaca bisa menambahkan tanda baca tersebut untuk mengetahui bagian mana saja yang perlu penekanan. Kemudian kata mana saja yang perlu diucapkan dengan nada suara yang datar atau biasa saja. 

Tambahan lainnya, adalah bisa menghafal isi puisi secara keseluruhan. Sebab selama latihan dijamin puisi tersebut dibaca berulang kali dan kemudian bisa hafal di luar kepala. 

Hal ini tentu menguntungkan, sebab saat isi puisi sudah dihafalkan dengan sendirinya. Maka membantu pembaca puisi menghindari pengucapan kata dan kalimat yang tidak ada di puisi tersebut. Sehingga tidak berpotensi mengubah maknanya. 

7. Pernafasan Stabil

Berikutnya dalam cara membaca puisi yang baik dan benar adalah mengatur pernafasan agar stabil. Ada kalanya, pembaca puisi memiliki nafas yang terengah-engah di tengah pembacaan puisi. 

Hal ini tentu saja akan mempengaruhi intonasi bahkan ekspresi dan gestur tubuh selama membaca sisa bait puisinya. Pernafasan yang baik sangat penting agar semua aspek ini bisa dijaga dengan baik juga. 

Mengatur pernafasan bisa dimulai dengan latihan rutin membaca puisi, terutama puisi yang akan dibaca di hari H. Kemudian bisa juga dengan menjalankan gaya hidup sehat seperti menjaga pola makan, rajin olahraga, dan sebagainya. 

Selanjutnya adalah mempelajari atau berlatih teknik pernafasan, sebab ada kalanya membaca puisi menghadirkan sensasi seperti menyanyikan sebuah lagu. Perlu teknik pernafasan yang tepat agar bisa menjaga intonasi dan mencapai nada suara tertinggi dengan stabil. 

Bisa belajar teknik pernafasan diafragma, bisa juga dengan yang lainnya. Supaya tidak keliru dalam menentukan teknik pernafasan mana yang perlu dikuasai. Maka bisa berkonsultasi dengan senior maupun dengan ahlinya. Bisa ke guru maupun dosen. 

8. Mengetahui Makna Puisi

Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, mengatur intonasi sampai ekspresi menjadi cara membaca puisi yang baik dan benar. Supaya semua ini bisa dibentuk dengan baik dan memperjelas makna puisi. 

Maka seorang pembaca puisi perlu mengetahui makna dari puisi yang akan dibacakan. Mulai dulu dengan membaca puisi tersebut lalu mencari tahu maknanya dan memahami isinya tentang apa. 

Jika puisi yang dibaca menggunakan banyak istilah tidak umum seperti kata serapan, bahasa daerah, dan sebagainya. Maka bisa membubuhkan catatan yang berisi arti dari setiap kata asing tersebut. 

Sehingga saat dibaca lagi secara keseluruhan bisa tahu betul makna dari satu bait ke bait berikutnya. Makna puisi yang bisa dipahami dengan baik akan membantu menentukan intonasi. 

Pembaca biasa tahu bagian puisi mana saja yang nada suaranya perlu ditekan dan ditinggikan, direndahkan, dibuat lembut, dan sebagainya. Selain itu, juga membantu mengatur ekspresi. Kapan harus memasang wajah bingung, sedih, bahagia, dan lain-lain. 

Jadi, silahkan ketahui dulu makna dari puisi yang akan dibaca. Jika bingung silahkan bertanya pada mereka yang lebih paham, dicatat, dan kemudian dibaca ulang. Bisa jadi prosesnya membutuhkan waktu dan tentu perlu dilakukan agar pembacaan puisi bisa sempurna.

Selain makna, puisi yang bagus juga memiliki unsur intrinsik yang benar. Beirkut Unsur instrinsik puisi.

9. Pakaian yang Mendukung

Jika membahas mengenai tata cara membaca puisi yang benar maka tidak hanya melibatkan urusan vokal, ekspresi wajah, dan gestur tubuh saja. Perlu juga memperhatikan pakaian yang dikenakan saat membaca puisi di atas panggung. 

Kira-kira apa hubungannya? Jadi, usai mengetahui atau mencari tahu makna dari puisi yang akan dibawakan. Maka tinggal melakukan penyesuaian, salah satunya dari pakaian yang dikenakan. 

Misalnya, saat membacakan puisi yang sedih maka bisa memilih pakaian dengan warna gelap. Sehingga ekspresi, intonasi, dan gestur tubuh juga mendapat dukungan dari tema pakaian yang dikenakan tersebut. 

Pertanyaan Umum Cara Membaca Puisi

Kejelasan pengucapan saat membacakan puisi disebut dengan?

Pelafalan dan kefasihan dalam pengucapan pada saat membacakan puisi disebut artikulasi.

Mengapa ekspresi saat membaca puisi harus sama dengan isi puisi yang dibaca?

Dengan membawa ekspresi sesuai makna dan isi supaya para pendengar bisa memahami makna tersirat dari puisi serta bisa merasakan suasan yang dirasakan.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa membaca puisi tidak boleh sembarangan supaya baik dan bisa dimaknai oleh pendengarnya dengan mudah dan mendalam.

Terdapat 9 cara membaca puisi yang benar, yaitu pelafalan yang tegas, artikulasi yang baik, ekspresi dan mimik yang mendukung, gerak tubuh, mental yang siap, membaca sebagian saja, pernafasan stabil, makna puisi yang harus dikuasai serta memakai pakaian yang mendukung tema puisi yang dibacakan.

Setelah mengerti cara membaca, kalian bisa memilih teknik-teknik berikut yang sesuai supaya pembacaan puisi lebih keren lagi. Pembahasan lebih lengkap pada 3 teknik membaca puisi.

Itulah 9 (sembilan) cara membaca puisi yang baik sekaligus bisa membantu mereka memahami makna dari puisi yang sedang dibacakan. Silahkan menerapkan semua cara yang dijelaskan untuk hasil sesuai harapan.

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis