Pengertian, Ciri-Ciri dan Contoh Puisi Naratif

contoh puisi naratif terbaru dan pengertiannya

Menulis Puisi naratif sebenarnya mudah tetapi belum banyak yang tahu. Mari kita bahas tentang pengertian puisi naratif, ciri-ciri jenis dan contohnya.

Ingin mencoba mengungkapkan perasaan? Atau mungkin menjelaskan kronologi suatu peristiwa maupun pengalaman yang dialami? Selain bisa menyampaikan secara lisan, juga bisa disampaikan secara tertulis. 

Penyampaian secara tertulis kemudian tidak hanya dengan menuliskannya menjadi cerita narasi atau deskriptif berbentuk cerpen, novel, dan sejenisnya. Melainkan juga bisa diceritakan ke dalam bentuk puisi, lebih tepatnya ke puisi naratif. 

Puisi adalah jenis karya sastra klasik yang sudah dikenal sejak lama dan jenisnya juga beragam. Salah satunya adalah puisi naratif yang sering digunakan pengarangnya untuk bercerita suatu kisah, pengalaman, dan sejenisnya.

Lalu, apa sebenarnya puisi naratif itu? Sebelumnya, silakan pahami dulu tentang puisi yang benar pada unsur intrinsik ekstrinsik novel.

Pengertian Puisi Naratif

Puisi adalah karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan memiliki makna yang kompleks. Sedangkan narasi yang sama artinya dengan istilah naratif adalah jenis karya sastra tertulis yang isinya menjelaskan suatu cerita. 

Sehingga tulisan narasi memiliki sifat naratif yang menjelaskan suatu cerita secara detail. Dimulai dari proses awal, pertengahan, sampai proses akhir yang menjadi klimaks maupun akhir dari cerita yang dituliskan di dalamnya. 

Baca juga: Majas Klimaks dan Anti Klimaks

Jadi, puisi naratif adalah puisi yang disampaikan dalam bentuk cerita. Dalam pengertian lain, puisi naratif adalah karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan isinya menyampaikan cerita. 

Jadi, pada saat menjumpai puisi dan isinya menceritakan sebuah hal, sebuah peristiwa, sebuah proses, dan sejenisnya. Maka puisi yang sedang dibaca ini masuk ke dalam kategori puisi naratif tadi. 

Puisi jenis ini sendiri sejarahnya bisa dikenal oleh masyarakat Indonesia cukup panjang. Dilansir dari beberapa sumber, puisi jenis naratif awalnya merupakan syair yang berasal dari Arab. 

Kenapa dari syair? Sebab dilihat dari segi isi dan strukturnya, syair lebih cocok menjadi cikal bakal dari puisi ini. Sebab gurindam biasanya berisi nasehat bukan cerita, begitu juga dengan pantun. 

Sementara pada hikayat, memang isinya bersifat naratif hanya saja disampaikan secara prosais. Artinya, hikayat tidak ditulis dalam format baris atau larik. Sementara puisi, struktur bentuknya memiliki baris atau larik sebagaimana pada pantun dan gurindam. 

Lho tapi beda lo ketiganya. Yuk, pahami perbedaan pantun, syair dan gurindam.

Syair, sejak awal dikenal oleh masyarakat Indonesia dan dunia memiliki bentuk baris dan larik. Tidak terikat oleh sajak dan kemudian menggunakan bahasa atau kata-kata yang indah. Hanya saja sifatnya tidak naratif. 

Syair kemudian berkembang, dan berubah menjadi puisi yang mengungkapkan banyak hal dan mengusung banyak tema. Kemudian berkembang lagi menjadi puisi naratif yang menceritakan suatu hal sebagaimana definisi yang dijelaskan sebelumnya. 

Ciri-Ciri Puisi Naratif

Jenis puisi cukup beragam, dan puisi naratif termasuk di dalamnya yang memiliki ciri khas.

Secara umum, berikut adalah ciri-ciri puisi naratif yang wajib diketahui dan harus ada dalam puisi jenis naratif, antara lain.

1. Kejadian Logis

Pengarang puisi perlu menyampaikan kejadian atau kronologinya secara logis sehingga terasa nyata, meskipun apa yang diceritakan pada dasarnya fiktif.

Supaya pembaca puisi bisa merasakan langsung kejadian tersebut, seolah-olah memang terjadi dan dialami langsung oleh mereka. 

2. Bersifat Narasi

Isi puisi naratif harus memiliki sifat narasi, sehingga dapat menguraikan, menjelaskan atau memberikan informasi suatu kejadian yang sebenarnya.

Pengarang kemudian perlu menceritakan kronologi kejadian, bisa dibuat lengkap bisa juga dibuat hal-hal yang penting saja. 

3. Memiliki Latar

Puisi naratif harus memiliki tempat atau latar kejadian, suatu kejadian atau peristiwa pasti memiliki latar dimana kejadian itu terjadi, sehingga idealnya pengarang perlu menyebutkan nama tempat atau menggambarkan suatu tempat yang memang ada di dunia nyata.

Misalnya menggambarkan suatu kejadian saat pengarang masih SD,  dan terjadi di sekolah SD tempatnya sekolah. Maka nama SD disini perlu disebutkan dan memang ada di dunia nyata.

4. Bercerita tentang Sesuatu

Bercerita tentang seseorang, sehingga menyebutkan karakter termasuk nama tokoh meskipun sifatnya opsional. 

Bisa juga menceritakan suatu hal, misalnya menceritakan pertumbuhan bunga mawar dari kuncup sampai kelopaknya mekar sempurna. 

5. Dialog

Bisa menggunakan dialog, sehingga di dalam puisi bisa mencantumkan dialog dengan sejumlah tanda baca. Seperti tanda tanya, tanda seru, dan lain sebagainya. 

Jenis Puisi Naratif

Puisi naratif kemudian terbagi menjadi dua jenis, yaitu: 

1. Puisi Balada 

Jenis yang pertama adalah puisi balada yang umumnya mengambil cerita bertemakan kekuasaan seperti kekuasaan para raja dan juga mengenai sejarah. Sehingga suatu peristiwa sejarah yang dituangkan dalam bentuk puisi akan masuk ke kategori puisi ini. 

2. Puisi Romansa 

Jenis yang kedua adalah puisi romansa yang menceritakan suatu kisah atau pengalaman dengan tema romansa. Misalnya kisah pertemuan dengan pasangan yang saat ini sudah dinikahi. Sehingga ada unsur romansa atau romantis (kisah cinta maupun kasih sayang) di dalamnya. 

Contoh Puisi Naratif

Setelah paham pengertian dari puisi naratif dan juga tahu apa saja ciri-ciri dan jenisnya. Maka bisa beralih ke beberapa contoh puisi jenis ini. Berikut beberapa diantaranya: 

Contoh Puisi Naratif Berjudul “Ibu Terbunuh”

Ibu Terbunuh 

Ibu musang di pohon tua terlindung Meliang
Dua anaknya tetap mati.

Membual yang berhubungan dengan sabit malam mengatakan kepadanya bahwa itu sudah dekat

Selama makan, anak-anak kecil, sayang.
Matanya mengucapkan selamat tinggal, dia menolak
Dia pergi ke desa-desa, semak-semak, bertaruh setiap hari untuk hidup.

Colic menyanyikan berita hangat tentang balas dendam warga
Dia membelai ujung bulu, tetapi juga melambai.

Soaring juga menyanyikan kolik sampai mati secara tiba-tiba
Untuk menusuk tunas daun yang mengomel
Musang yang ditangkap oleh seorang wanita terbunuh pada hari berikutnya.

Dia tidak pulang, yang akan merebut kekayaan hariannya.
Ibu yang baik, kematian yang baik, bangkai yang sudah mati juga daun tua.

Saya tidak tahu apakah Merapi akan menangis juga?
Dan anak-anak akan bertanya kepada ibu angin tenggara

Contoh Puisi Naratif Berjudul “Juara Tinju Meninggal Dunia”

Juara Tinju Meninggal Dunia 

Ini juga berlaku
Hukum ilahi
Jangan disebutkan namanya
Dengarkan ceritanya
Kisah Tetua
Saya memberi tahu pembaca
Dia adalah seorang juara di seluruh negeri yang terkenal itu.
Juara yang selalu menang
Dan orang-orang menyerah begitu saja
Dengarkan semua cerita
Tidak ada yang berani
Tidak ada yang mau
Membantah kata-katanya
Di toko

Saat meminum anggur kelapa
Selain menjadi juara, ia juga seorang pemburu.
Jika itu bukan rusa, itu babi hutan
Di mana sang juara sekaligus pemburu
Tarian yang bagus
Buat utas yang sangat indah
Serta mengumpulkan kecapi.

Dia suka mabuk
Dan jika dia mengutuk
Tidak ada yang hilang
Tapi dari semua barang rampasan
Istrinya paling menderita

Dua bayi lahir
Satu laki-laki, satu perempuan
Tidak ada yang seperti ayah
Orang-orang berkata, “Apa yang salah
Anak-anak dilahirkan, ayah dalam perjudian.

Melalui penjelasan di atas, diharapkan bisa lebih mudah memahami apa itu puisi naratif dan kemudian bisa membuatnya. Sebab siapa tahu akan menjadi ahli dalam membuat puisi jenis ini dan kemudian dipublikasikan atau dibuat antologi puisi. 

Puisi jenis ini bisa dijadikan pilihan untuk menyampaikan pengalaman dan kejadian yang dilihat atau dibaca dengan lebih menarik.

Selain itu, bisa dibuat lebih praktis dan kaya akan gaya bahasa dibanding dibuat cerpen atau novel. Sehingga menarik untuk dipelajari. Baca juga artikel lainnya.

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis