Pengertian, Ciri-Ciri dan Jenis Karya Sastra Lama

Karya Sastra Lama

Karya sastra di Indonesia terbagi menjadi dua jenis, yaitu karya sastra lama dan karya sastra baru. Karya sastra lama adalah karya sastra yang berbentuk lisan atau ucapan yang kemudian dituangkan dalam sebuah tulisan oleh orang zaman dulu.

Sastra Indonesia ini menunjukkan kalau karya sastra yang dibuat ini adalah karya sastra yang berasal dari negara Indonesia.

Penggunaan bahasa pada karya sastra Indonesia, baik itu karya sastra baru maupun yang lama menunjukkan ciri khas sastra Indonesia.

Bahasa yang digunakan pada karya sastra Indonesia, yaitu karya sastra lama dan sastra baru menggunakan bahasa Indonesia, bahasa daerah, maupun bahasa asing, salah satunya adalah bahasa Melayu.

Jika kamu tidak tahu apa bedanya sastra lama dengan sastra baru, maka kali ini kita akan membahas mengenai sastra lama, lengkap dengan sejarah, ciri-ciri, jenis karya, hingga contoh karyanya.

Pengertian Sastra Lama

Sastra dapat diartikan sebagai tulisan yang mengandung keindahan tertentu. Dalam sastra, terdapat sastra lama, yang dapat diartikan sebagai hasil sastra lama yang dihasilkan atau dibuat oleh para sastrawan pada zaman dahulu.

Periode sastra lama ini berlangsung pada awal masa perkembangan sastra Indonesia dan masih menggunakan bahasa Melayu dalam karya sastranya. Sastra lama di Indonesia berkembang pada tahun 1870 hingga tahun 1942.

Sejarah Sastra Lama

Sejarah sastra lama ini menurut para ahli sudah berlangsung sejak zaman purba, sehingga sastra lama berlangsung dari kesusastraan zaman purba, zaman Hindu, hingga kesusastraan zaman Islam.

Periodisasi sejarah untuk sastra lama ini memang diakui dan disetujui oleh para sastrawan, tapi tahun berlangsungnya setiap periode ini berbeda-beda. Berikut ini adalah penjelasan masing-masing periodisasi dalam sejarah sastra lama.

1. Kesusastraan Zaman Purba

Kesusastraan yang ada pada zaman ini merupakan zaman yang memperlihatkan zaman sebelum terpengaruh oleh kesusastraan India. Kesusastraan India identic dengan doa, mantra, dongeng, adat istiadat, hingga silsilah.

2. Kesusastraan Zaman Hindu

Sesuai dengan namanya, kesusastraan pada zaman Hindu ini merupakan zaman atau saat berbagai cerita dari India yang adalah ajaran agama Hindu mulai berkembang. Beberapa ahli menuliskan kesusastraan zaman Hindu menjadi satu dengan kesusastraan zaman islam.

Namun beberapa ahli juga menuliskan kalau kesusastraan zaman Hindu ini merupakan zaman peralihan dari kesusastraan zaman purba ke kesusastraan zaman Islam.

3. Kesusastraan Zaman Islam

Kesusastraan zaman Islam dimulai sejak agama Islam masuk ke Indonesia. Namun sebenarnya penggunaan kata Islam ini digunakan untuk menggantikan kata Arab, yang sebelumnya digunakan untuk menjelaskan salah satu periodisasi kesusastraan di Indonesia.

Perubahan nama kesusastraan Arab menjadi kesusastraan Islam ini bukan hanya karena namanya yang dianggap kurang tepat, tapi juga karena adanya berbagai pengaruh Islam dalam kesusastraan yang berkembang di Indonesia saat itu.

Selain itu, kesusastraan Arab di Indonesia juga digunakan dalam pelajaran agama, ilmu kebahasaan, hingga syair.

Ciri-Ciri Karya Sastra Lama

Sastra lama memiliki beberapa ciri yang membedakannya dengan jenis sastra lainnya, yaitu:

1. Tidak Ada Nama Pengarang

Karya sastra lama di Indonesia memiliki ciri yang dapat dengan mudah diketahui, yaitu tidak ada atau tidak menuliskan nama pengarangnya atau anonim. Inilah sebabnya, pada karya sastra lama seperti legenda, tidak ada nama pengarang yang membuat karya sastra itu.

2. Penyebarannya Secara Lisan

Ciri kedua dari karya sastra lama adalah penyebarannya yang dilakukan secara lisan, atau disebarkan melalui cerita yang dikisahkan oleh setiap orang.

Berbagai karya sastra yang kita baca saat ini bisa ditemukan dengan mudah, seperti membelinya di toko buku, atau mencarinya di internet. Namun hal ini berbeda dengan karya sastra lama.

Karya sastra lama disebarkan secara lisan, yaitu dari setiap orang yang menceritakannya dari satu orang ke orang lainnya maupun secara turun-temurun.

3. Temanya Bersifat Fantasi

Tema dari karya sastra lama yang sifatnya cerita fantasi juga merupakan salah satu ciri karya sastra lama. Kebanyakan tema dari karya sastra lama sifatnya adalah fantasi.

Ini artinya, tema yang digunakan sifatnya adalah karangan belaka, tidak nyata, dan tidak masuk akal, sehingga menghasilkan cerita yang bersifat luar biasa.

4. Bersifat Istanasentris

Setting karya sastra lama yang bersifat istanasentris juga menjadi ciri lain dari karya sastra lama. Bersifat istana sentris yang dimaksud adalah cerita dari karya sastra lama yang berpusat atau berfokus di sekitar istana.

Sifat istana sentris dari karya sastra lama ini membuat karya sastra lama biasanya mengambil tokoh raja atau keluarga kerajaan.

Baca: Perbedaan Tokoh dan Penokohan

5. Cerita Adalah Milik Rakyat

Ciri pertama dari karya sastra lama yang sudah dituliskan adalah nama pengarang karya yang tidak diketahui, atau anonim. Ciri ini ternyata juga mempengaruhi ciri lain dari karya sastra lama, yaitu cerita adalah milik rakyat.

Penyebabnya adalah karena pembuat cerita yang tidak diketahui siapa orangnya, sehingga cerita tidak bisa diakui sebagai milik seseorang. Selain itu, karya sastra ini juga menyebar dari satu orang ke orang lainnya, yang merupakan rakyat setempat.

Akhirnya, karya sastra lama seperti legenda menjadi milik rakyat setempat.

Jenis Karya Sastra Lama

Berikut ini beberapa jenis karya satra lama yang harus kalian ketahui apabila ingin bergelut di dunia kepenulisan supaya bisa mengasah pengetahuan dan pemahaman terkait karya.

1. Pantun

Jenis karya sastra lama yang pertama adalah pantun. Sampai sekarang, pantun masih dapat dengan mudah ditemukan, misalnya dalam acara pernikahan di beberapa daerah di Indonesia.

Pantun adalah jenis puisi lama yang terikat aturan. Beberapa aturan dalam pantun adalah:

  • Terdiri dari empat baris.
  • Baris pertama dan kedua adalah sampiran, baris ketiga dan keempat adalah isi.
  • Setiap baris terdiri dari 4-6 kata dan 8-12 suku kata.
  • Memiliki pola atau rima berupa a-a-b-b, a-b-a-b, atau a-a-a-a.

2. Mantra

Mantra adalah salah satu jenis puisi yang termasuk dalam sastra lama dan menjadi ciri khas dari kebudayaan Melayu. Mantra merupakan karya sastra yang berkaitan dengan budaya, adat, dan kepercayaan masyarakat sekitar.

3. Syair

Syair juga merupakan contoh sastra lama dalam bentuk puisi lama dan berisi irama sajak. Syair sebagai sastra lama digunakan oleh penciptanya untuk menyampaikan isi hatinya.

Biasanya, syair digunakan untuk menyampaikan peristiwa, mengenai seseorang, atau untuk menyampaikan perasaan yang dirasakan oleh pencipta syair.

Ciri-ciri dari syair ini mirip dengan pantun, yaitu setiap baitnya terdiri dari empat baris, namun pada syair terdiri lebih dari satu bait.

4. Gurindam

Gurindam adalah karya sastra berbentuk puisi yang muncul pada kesusastraan zaman Hindu. Pengertian gurindam adalah sajak dua baris yang isinya adalah nasihat,

5. Dongeng

Dongeng yang saat ini masih sering kita dengar juga merupakan cerita fiksi pada zaman dahulu. Ada berbagai jenis dongeng yang merupakan jenis karya ini, seperti fabel atau dongeng yang tokoh utamanya adalah hewan yang berperilaku seperti manusia.

Contoh dongeng lainnya adalah dongeng pelipur lara, yang merupakan dongeng komedi untuk menghibur hati. Selain itu, ada juga jenis dongeng parabel yang berisi tentang ajaran hidup.

6. Legenda

Legenda merupakan salah satu jenis dongeng, namun bedanya legenda dengan dongeng lainnya adalah isinya. Legenda berisi cerita rakyat yang berisi tentang kisah terjadinya sesuatu.

Kisah ini bisa tentang asal mula suatu tempat, makhluk supranatural, seorang tokoh di suatu daerah, hingga mengenai terjadinya suatu fenomena alam.

7. Hikayat

Hikayat merupakan jenis sastra lama yang berkembang dari Arab dan pada kesusastraan zaman Islam. Isi dari hikayat biasanya adalah tentang cerita mengenai para dewa, putri, pangerang, kehidupan kerajaan, hingga kesaktian yang dimiliki oleh seseorang.

Tak jarang, hikayat juga disebut sebagai cerita sejarah, karena latar ceritanya yang mengambil cerita sejarah.

Contoh Karya Sastra Lama Indonesia

Setelah mengetahui berbagai jenis sastra lama, berikut ini adalah beberapa contoh dari karya sastra lama, yaitu:

1. Sangkuriang

Sangkuriang adalah judul salah satu dongeng yang terkenal dari Indonesia, tepatnya dari Jawa Barat, yang menceritakan tentang kisah Sangkuriang yang pergi dari dari rumah setelah dimarahi oleh ibunya, Dayang Sumbi.

Setelah dewasa, Sangkuriang kembali ke desanya dan bertemu dengan Dayang Sumbi, namun ia tidak menyadari bahwa perempuan yang dilihatnya adalah ibunya, begitu juga Dayang Sumbi yang tidak mengenali Sangkuriang.

Keduanya pun jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah. Namun sebelum menikah, Dayang Sumbi akhirnya mengetahui bahwa Sangkuriang adalah anaknya. 

Dongeng Sangkuriang ini juga menjadi asal mula dari legenda Tangkuban Perahu.

2. Pantun

Ada berbagai pantun yang sering digunakan dalam berbagai kesempatan, contohnya adalah:

Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Pantun ini sering digunakan sebagai pantun motivasi agar seseorang bekerja keras dahulu untuk mendapatkan hasil yang menyenangkan setelahnya.

Legenda Danau Toba

Salah satu legenda yang juga terkenal di Indonesia adalah legenda Danau Toba. Legenda Danau Toba ini menceritakan asal mula terbentuknya Danau Toba yang ada di Sumatra Barat.

Diceritakan seorang pemuda bernama Toba yang sedang memancing di sungai mendapatkan seekor ikan bersisik emas. Namun setelah sampai di rumah dan Toba akan memasak ikan yang ditangkapnya, ikan yang ada di embernya tadi berubah menjadi koin emas dan di sebelahnya ada seorang perempuan cantik bernama Puteri.

Puteri yang merasa berhutang budi kepada Toba karena sudah diselamatkan dari kutukan kemudian membalas kebaikan Toba dengan cara menikahi pemuda tadi. Legenda Danau Toba ini berasal dari Toba yang tidak menepati janjinya dengan sang istri, Puteri, sehingga terjadilah asal usul Danau Toba.

Baca artikel menulis sastra lainnya

(Penulis: Tyas Wening)

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis