Struktur Fisik dan Batin Puisi, Apa Aja Sih?

struktur batin puisi

Struktur batin puisi dan struktur fisik puisi dua hal yang mungkin jarang kamu dengar. Nah, buat kamu yang ingin menjadi seorang pujangga atau penyair, wajib tahu apa itu struktur batin puisi dan struktur fisik puisi. 

Atau mungkin ada diantara kamu yang tengah mendapat tugas dari sekolah atau kampus untuk membuat laporan atau analisis tentang struktur pada puisi?  Ternyata banyak yang memang tidak tahu bagaimana cara membuat analisis struktur batin puisi ataupun struktur fisik puisi. 

Maka dari itu, pada kesempatan ulasan artikel kali ini, kamu tidak hanya mengenal struktur batin puisi dan fisik puisi saja. Di Bagian akhir juga akan ada contoh analisis struktur batin puisi dan struktur fisik puisi. Nah, untuk mengetahui lebih lebih jelasnya, langsung saja simak ulasan sebagai berikut. 

Apa Itu Struktur Batin

Struktur batin puisi dapat diartikan sebagai kerangka yang digunakan untuk membangun atau untuk membuat puisi. Struktur batin puisi tidak berwujud, kemudian penulis melahirkannya dalam bentuk wujud yang dapat dirasakan oleh orang lain. Salah satu caranya dengan mengungkapkan menggunakan kata-kata. 

Struktur batin puisi bagi masyarakat umum memang kurang familiar. Namun bagi penyair atau pencipta puisi pastinya sudah familiar dengan hal ini. Dimana Struktur batin puisi dapat dijadikan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan, perasaan yang mampu membangkitkan rasa, emosi dan semangat dari para pembaca.

Struktur Batin Puisi

Jika sebelumnya sudah mengetahui sekilas tentang apa itu struktur batin puisi? Ternyata struktur batin puisi memiliki empat elemen dasar, yang meliputi tema, perasaan, nada & suasana serta amanat. Nah, untuk mengetahui lebih lengkapnya, kita simak sebagai berikut. 

1. Tema

Tema juga menjadi salah satu struktur penulisan puisi yang tidak boleh diabaikan dan ditinggalkan. Tema adalah gagasan pokok atau pokok pikiran yang akan diangkat oleh penulis. Bagi penyair yang sudah memiliki pengalaman dan jam terbang cukup lama, tidak mengalami kesulitan dalam menentukan tema. 

Nah, buat kamu yang juga ingin demikian, kuncinya hanya satu. Peka dan jeli terhadap lingkungan. banyak puisi-puisi yang justru lahir dari kritik sosial yang kemudian dikemas menggunakan bahasa yang menarik. Tema dalam puisi memiliki fungsi yang sangat krusial, pahami di artikel Fungsi Tema dalam Puisi.

2. Perasaan

struktur yang tidak kalah penting saat menciptakan sebuah puisi adalah rasa. Meskipun bukan makanan, melainkan karya tulis, puisi butuh rasa agar pembaca bisa merasakan apa yang harus dirasakan. Bentuk rasa yang dapat dirasakan setiap orang pun beragam. Ada rasa sedih, rasa bahagia, rasa berbunga, rasa takjub dan masih banyak lagi rasa. 

Rasa yang ditimbulkan akan memberikan kesan. kesan inilah yang akan menentukan puisi akan terus dikenang atau diabaikan. Pertanyaannya adalah, tidak semua penulis mampu menciptakan karya puisi yang memiliki selera tinggi. butuh latar belakang, jam terbang dan pengalaman dari si penyair. Rasa juga butuh imajinasi dan penghayatan yang dalam.

3. Nada dan Suasana

Ada yang menarik dari penulisan puisi. Dibanginkan cerpen ataupun novel, puisi ditulis memperhatikan nilai estetika. Bentuk estetika dalam sebuah puisi dapat diukur dari pemilihan diksi dan majas.  

Jadi, seorang penyair butuh kemampuan dalam mengelaborasi antara pemilihan kata dan majas. sehingga menciptakan sebuah karya yang kalimatnya memiliki estetika, dan memiliki pesan yang tidak kalah menarik. 

banner-di-artikel (1)

Salah satu tantangan menulis puisi dibandingkan menulis novel dan cerpen adalah, penyair harus memiliki imajinasi tinggi dalam menyampaikan kritik, nasihat, pesan tanpa menggurui, namun memiliki pesan yang impresif.

Tidak hanya itu, meskipun hanya dituliskan dalam sebuah puisi yang relatif singkat, puisi juga mampu membangkitkan suasana bagi pembaca. tentu saja untuk membangkitkan suasana dalam bahasa dan kata yang singkat, butuh latihan yang tidak hanya sekali atau dua kali saja. 

4. Amanat Puisi

Dalam setiap karya, termasuk karya puisi, pasti penulis memiliki tujuan berupa pesan. Pesan inilah yang dalam struktur batin puisi disebut dengan amanat. Ada dua bentuk amanat yang dapat penulis sampaikan. Bisa disampaikan secara tersurat dan tersirat. 

Jika pesan puisi yang disampaikan secara tersurat, maka pembaca diarahkan untk menerima pesan atau amanat yang sudah disampaikan penulis apa adanya. sebaliknya, jika puisi disampaikan secara tersirat, maka interpretasi dan amanat puisi diserahkan kepada pembacanya.

Jika dilihat dari struktur batin puisi di atas, sebenarnya kamu pun sudah familiar dan sering membaca dalam teori buku-buku bahasa bukan? Memang istilah struktur batin puisi memiliki istilah lain yang lebih familiar.

Baca Juga: Apa itu Puisi Akrostik?

Pengertian Struktur Fisik 

Setelah sebelumnya mengulas batin puisi, maka beda lagi dengan yang namannya struktur fisik. Struktur fisik puisi memiliki istilah yang lebih populer, yaitu metode puisi. Jadi struktur fisik puisi adalah upaya dan sarana penyair menyampaikan pesan atau amanat dalam bentuk puisi. Dikatakan sebagai struktur fisik puisi karena puisi disusun berdasarkan apa yang tampak dalam bentuk susunan kata.

Struktur Fisik Puisi

Jika pada struktur batin puisi memiliki 4 elemen penting. Maka pada struktur fisik puisi pun juga memiliki elemen lain. Struktur fisik puisi lebih memfokuskan pada beberapa elemen yang meliputi diksi, pencitraan, kata konkret, majas, bunyi yang menghasilkan rima dan ritma. 

Mungkin ada diantara kamu yang lupa apa sih yang dimaksud diksi, imaji, kata konkret, bahasa figurative, verifikasi dan tipografi. Nah, berikut ulasan lebih lengkap tentang struktur fisik puisi. 

1. Diksi

Mungkin ada diantara kamu yang sudah mendengar apa itu diksi. Yap, diksi adalah pemilihan kata-kata. Meskipun hanya sekedar memilih kata-kata, ternyata dalam penulisan puisi sangat menentukan hasil akhirnya. Maka tidak heran jika banyak penyair yang sangat selektif dan memilih diksi dengan hati-hati dan secermat mungkin. Karena pilihan diksi akan menentukan keselarasan bunyi, makna dan urutan kata.

2. Imaji

Imaji juga termasuk struktur fisik puisi yang sifatnya imajinatif. Karena bersifat imajinatif dalam angan dan kognitif penulis. Maka, butuh seni bagi penulis agar bisa memvisualkan imajinasi tersebut dalam sebuah kata-kata yang indah (puisi). Tidak hanya indah, akan lebih baik lagi jika mampu memberikan impresi kepada pembaca tentang “rasa”. 

Imaji dalam struktur fisik puisi dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual) dan imaji raba (taktil). Dari ketiga bentuk imaji tersebut secara tidak langsung mengarahkan pembaca agar bisa merasakan, dan seolah mendengar serta melihat seperti apa yang dirasakan oleh penyair.

3. Kata konkret

Ada juga yang disebut dengan kata konkret. Yap, kata konkret adalah kata yang dapat dirasakan dan ditangkap oleh panca indera pembaca. Umumnya bentuk kata konkret berupa kiasan atau perlambang. Perlambang yang digunakan para penyair inilah yang kemudian disebut majas. Ulasan tentang majas, kamu bisa baca artikel yang sudah kita bahas.

4. Bahasa Figuratif 

Bahasa figuratif tidak jauh berbeda dengan majas. Dimana bahasa figuratif adalah bahasa kiasan yang memiliki peran untuk menghidupkan dan memberikan nilai sentimentil pada benda-benda yang sebenarnya biasa saja. Dengan kata lain, bahasa figuratif inilah yang mampu menjadikan puisi memiliki nilai impresi (kesan) bagi pembaca. Nah, umumnya bahasa figuratif banyak menggunakan majas simile, eufemisme, personifikasi, metafora, sinekdoke, litotes, ironi dan masih banyak lagi.

5. Versifikasi 

Mungkin kamu asing dengan istilah versifikasi? Secara umum, versifikasi dapat diartikan sebagai rima. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi. Rima dapat digunakan di awal, tengah maupun akhir baris puisi. 

Rima puisi memiliki beberapa bentuk, diantaranya onomatope, yaitu rima tiruan yang memiliki bunyi yang bersifat magis. Selain rima onomatope, ada juga inter, atau pola bunyi yang dapat digunakan untuk membuat repetisi bunyi atau persamaan bunyi yang ada di bagian akhir kata. Dalam bentuk majas, yang termasuk dalam bentuk intern adalah majas aliterasi, asonansi dan masih banyak lagi. Terakhir, ada pengulangan kata atau ungkapan atau ritma yang memfokuskan pada tinggi rendah, atau kuat lemahnya bunyi.

6. Tipografi atau Perwajahan

Tipografi atau yang lebih familiar kita kenal dengan perwajahan puisi. Struktur fisik puisi satu ini sangat penting memperhatikan masalah kerapian secara visual. Termasuk memperhatikan masalah penulisan huruf kapital di setiap awal kalimat, hingga masalah titik dan koma pun juga menjadi perhatian yang tidak kalah penting. 

Itulah enam unsur yang harus ada saat kamu hendak menampilkan struktur fisik pada puisi. Atau ketika kamu hendak menulis puisi, kamu harus memperhatikan enam elemen tersebut. Buat kamu yang ingin menjadi pujangga atau penyair, untuk pertama kalinya memang sulit.

Meskipun sulit, jika kamu bersungguh-sungguh ingin menjadi seorang pujangga, tetap latih dan terus mencoba. Karena untuk menjadi seorang penulis itu tidak hanya bermodalkan “keinginan” tetapi juga harus berani melakukan “action”. 

Action adalah kunci keberhasilan paling besar sebanyak 99%. Sementara, konsep dan seberlian apapun ide kamu, jika tidak pernah direalisasikan hanya akan menjadi sebuah wacana. Jadi sehebat apapun ide dan konsep hanya menyumbang keberhasilan 1% saja. Dan ini juga berlaku buat siapapun yang ingin menjadi penyair, pujangga ataupun yang ingin menjadi seorang penulis.

Baca Juga: Sumber Inspirasi Ide Membuat Puisi

Contoh Analisis Struktur Batin Puisi dan Fisik Puisi

Beberapa penjelasan diatas tentang pengertian struktur batin puisi dan struktur fisik puisi, mungkin ada diantara kamu yang masih belum afdol, jika tidak ada contohnya. Nah, sebagai gambaran, berikut contoh analisis struktur batin puisi dan analisis struktur fisik puisi. 

Agar mempersingkat waktu, dan menghemat konsentrasi saya. Maka contoh puisi saya ambilkan dari salah satu puisi yang pernah saya tulis dan sudah pernah dipublikasikan di surat kabar dan tabloid di Jogja. Langsung saja, intip seperti apa sih contohnya. 

Contoh Analisis Struktur Batin Puisi Doa Cinta

Doa Cinta

Aku berbaring sendiri 

Terkenang penantian panjang 

Pikirku tak berujung bagaikan jalan 

Jika memang cinta laksana pedang 

Kiranya ada satu hal yang kukenang 

Tentang kesenangan atau kesedihan di tengah malam 

Kenapa malam ini begitu mencekam?

Sesak mencekik leherku 

Hancur semua kata manisku 

Bahkan kerinduanku telah dijadikan debu 

Langit-langit hatiku mulai sendu 

Halilintar mulai menyambar 

Serasa tidak mampu lagi menampung kadar air hujan 

Hujan kian reda saat dada ini terisi doa 

Halilintar mulai tidak menyambar 

Saat mendung kian menghilang 

Rembulan pun bersinar 

Tersenyum dalam ketenangan ikhtiar 

Karya Irukawa Elisa, Dipublikasikan Tabloid BIAS Edisi 1 Mei 2009

A. Tema 

Puisi berjudul doa cinta bertemakan tentang percintaan. Di dalam puisi tersebut tidak ada spesifik cinta untuk manusia, benda ataupun cinta pada Tuhan. Interpretasi diserahkan pada masing-masing pembaca. 

Dimana dari perasaan cinta yang tidak selalu indah, sebenarnya hanya sebagai sarana untuk belajar hidup dan belajar ikhtiar. 

B. Feeling 

Perasaan yang tertangkap dalam puisi di atas mengambarkan kesenduan, kegalauan tentang perasaan terhadap sesuatu yang dicintainya. 

Dimana perasaan negatif yang dirasakan, secara tidak langsung sebagai ajang untuk mengontrol emosi, dan belajar mengikhlaskan kepada sang pemilik cinta. 

Jadi bukan masalah kegagalan dalam menjalani cinta atau berhasil menjaga cinta sampai akhir. apapun hasil akhirnya, selama sudah diupayakan semua akan baik-baik saja, karena itu bagian dari perjalanan yang harus dilewati dengan ikhlas dan ikhtiar. 

C. Nada dan Suasana 

Dari nada, saya sengaja membuat berirama agar lebih mengena sampai di hati. Sementara untuk suasana, sudah terlihat jelas dalam suasana negatif, sendu, galau dan sedih. 

D. Amanat 

Perasaan cinta yang manusia miliki, akan diuji. Tidak ada rasa cinta yang selalu bahagia. Pasti ada sedih, duka dan lara. Karena cacat dan luka hanya cara Tuhan agar kita bisa “merasakan”. Ketika kita bisa “merasakan” maka kita bisa menikmati bahwa bahagia itu sederhana.

Contoh Analisis Struktur Fisik Puisi Cuma-Cuma

Cuma-cuma

Di Samping tugu aku menunggu mlecu 

Lautan manusia di situ, di sana-sini menganggapku lucu 

Ku acuhkan mereka dengan plengosan bibir semakin maju 

Tak jarang lidah tergigit untu 

Tak peduli mereka pejabat baru 

Percuma menunggu janji-janji, 

Uang beribu-ribu, 

Bensin SPBU

Setelah jadi, 

Hanya janji palsu 

Aku tidak akan tertipu lagi 

Karya Irukawa Elisa, Dipublikasikan 3 Maret 2009 di Kedaulatan Rakyat.

A. Tipografi

Puisi “cuma-cuma” terdiri dari tiga bait. Bait pertama dan kedua masing-masing terdiri dari lima baris. Di bait pertama saya membuat dengan intonasi “u” agar memiliki rima. Sementara di bait kedua, rima sengaja dibuat selang-seling berakhiran “i” dan ‘U”. Bait terakhir hanya satu baris saja. Pada bait pertama, puisi menggunakan campuran bahasa jawa (dalam garis miring) dengan tujuan menjaga keselarasan dan memasukan unsur bahasa jawa di dalam puisi. 

B. Diksi 

Pemilihan Diksi saya memiliki kata yang padat, dan tegas dan sarat emosi. Karena puisi tersebut saya tulis saat musim kampanye, dan aku menemukan fakta dibalik pemilu. 

C. Pencitraan 

Pencitraan ada di baris yang berbunyi “tak jarang lidah tergigit untu” yang mempresentasikan rasa sakit lidah tergigit gigi sendiri. Secara keseluruhan puisi pada judul “cuma-cuma” bentuk ketegasan atau kekritisan agar tidak mudah terpancing oleh janji politikus saat menjelang pemilihan. 

D. Majas 

Pada puisi di atas, tidak terlalu banyak majas yang digunakan. Namun secara keseluruhan puisi tersebut berbentuk sindiran kepada pemerintah, elite politik dan elit yang hendak mencalonkan diri dalam pemilu. 

E. Versifikasi

Pada puisi yang saya buat berjudul “cuma-cuma” didominasi dengan rima “U”Itulah beberapa contoh struktur batin puisi dan struktur fisik puisi. Semoga sedikit ulasan ini memberikan manfaat dan memberikan gambaran. Setidaknya setelah melihat contoh analisis di atas, kamu tidak lagi kebingungan bagaimana cara menyusun analisisnya.(Irukawa Elisa)

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis