⚡ Promo Diskon Akhir Tahun | diskon 30% + 20% dan bonus eksemplar up to 10

Lihat Selengkapnya

Alur Flashback: Pengertian, Ciri-Ciri dan Contoh

pengertian mengenai alur flashback yang baik

Alur flashback memang menarik perhatian calon pembaca. Pembaca secara tidak langsung dibawa penasaran dengan faktor penyebab terjadinya kejadian atau permasalahan yang diangkat. Dari segi akhir sebuah cerita, alur flashback membuat pembaca susah menebak. 

Dalam menentukan alur, seorang penulis memang butuh jam terbang dan pengalaman. Jadi tidak menulis sekali saja, langsung mampu mengolah alur cerita yang baik. Bagi penulis pemula, disarankan menulis alur maju atau alur mundur terlebih dahulu. 

Sebelumnya kita sudah bahas loh, mengenai apa itu alur dan juga jenis-jenisnya. Jika kalian ingin memahaminya, yuk lihat detailnya di Jenis Alur Cerita.

Kamu masih tetap ingin mencoba alur flashback? Sebenarnya juga tidak ada masalah. Nah, kamu harus tahu dulu tentang apa itu alur ini.

Pengertian Alur Flashback

Alur flashback ada yang menyebutnya alur sorot bali. Dimana penulis mengawali tulisan dengan cara mendahulukan akhir cerita.

Alur flashback dapat pula diartikan sebagai urutan kejadian yang dikisahkan dalam karya fiksi yang berplot regresif, dan tidak bersifat kronologis. 

Sebelum melanjutkan membaca, ada kabar baik buat kamu, buknes lagi ada promo PDKT bareng Bukunesia, Diskon hingga 50% dan bonus eksemplar up to 10. Baca lebih lanjut yuk!

Alur flashback dapat pula diartikan sebagai upaya penulis mengulang peristiwa yang sudah terjadi. Tentu saja peristiwa yang diangkat bukanlah peristiwa abal-abal. Melainkan peristiwa yang monumental atau peristiwa yang penting.

Metode penulisan flashback ini ternyata tidak sembarangan ditulis. Penulis harus tahu betul cara penyampaian agar cerita semakin sempurna. Cerita flashback umum digunakan untuk karya sastra seperti prosa, novel, cerpen hingga memoar. 

Penulisan karya sastra yang menggunakan flashback cara ampuh untuk membangkitkan emosi dan menarik perhatian pembaca. Selain itu, karakter utamanya juga akan langsung terlihat.

Oh iya, sebenarnya menulis cerita dengan metode flashback bukan keharusan lo. Jika merasa belum piawai, lebih baik menggunakan alur lain. Karena jika salah dalam penulisan atau penyampaian bisa menimbulkan keanehan dari cerita.

promo akhir tahun bukunesia

Ciri-Ciri Alur Flashback

Tidak semua penulis bisa membuat cerita dengan alur flashback. Alasannya pun beragam, selain karena dibutuh kemampuan mengelola alur, cerita juga dibutuhkan seni agar tidak merusak rasa penasaran calon pembaca. Berikut adalah ciri-cirinya.

1. Diawali dengan Konflik 

Ciri pertama dapat dilihat dari paragraf awal. Umumnya akan dituliskan konflik atau permasalahan yang paling genting, paling menegangkan bagi pembaca. Bisa juga menonjolkan permasalahan dan peristiwa yang membuat si tokoh utama mengalami kejadian luar biasa. 

Penulisan konflik di bagian awal juga salah satu strategi menarik perhatian dan membangun rasa penasaran calon pembaca. Setidaknya pembaca penasaran, kenapa bisa terjadi peristiwa dan konflik tersebut. 

Jika kamu ingin menulis alur flashback, pastikan konflik yang ditonjolkan seperlunya saja. jangan ditulis terlalu panjang lebar. Cukup ditulis secara singkat dan seperlunya. Tujuannya agar tidak merusak rasa penasaran pembaca. 

2. Merujuk pada Masa Lampau 

Ciri alur ini yang kedua, dapat ditandai pada keterangan waktu. Umumnya merujuk pada masa yang sudah terjadi. Karena alur cerita flashback hanya menceritakan sebagian kecil saja, maka setelah itu alur dikembalikan lagi ke alur awal. Yaitu masuk ke alur perkenalan. 

Alur perkenalan berfungsi untuk menjelaskan secara mendetail kronologi dan awal permasalahan. Di alur perkenalan sudah merujuk waktu masa sekarang. jadi hanya bagian awalan atau bagian flashback saja yang merujuk pada masa lampau. 

3. Terjadi Transisi Waktu 

Selain mengacu pada masa lampau, bisa juga karena terjadi transisi waktu. Prinsipnya tidak jauh berbeda dengan paragraf di atas. Dimana setelah terjadi transisi waktu, penulis harus mengarahkan pembaca kembali ke mode pengenalan. 

4. Ditulis Secara Singkat

Seperti yang disinggung sebelumnya, alur flashback cukup ditulis secukupnya, jika perlu ditulis secara singkat. Hindari penulisan yang terlalu panjang dan mendominasi. Alur flashback yang ditulis secara dominan, selain merusak rasa penasaran dan merusak cerita, ternyata juga mempengaruhi daya tarik dari cerita itu sendiri. 

Itulah beberapa ciri alur ini dalam penulisan fiksi. Oh iya, alur ini ada juga yang menyebutnya dengan alur campuran. Karena alurnya campur, endingnya sulit ditebak oleh para pembaca. Tapi ingat, kamu perlu mendalami dan memahami betul formula penulisannya.

Nah, alur ini yang nantinya juga akan menimbulkan pesan moral yang ingin dibangun oleh seorang penulis itu sendiri. Jadi, buat pesan moral cerita yang bagus dengan memanfaatkan alur yang dipilih juga. 

Contoh Alur Flashback

Setelah mengintip pengertian dan ciri-ciri alur flashback, belum afdol rasanya jika tidak disertai contoh konkritnya. Nah, berikut saya buatkan alur flashback, semoga memberikan gambaran. 

Alexa marah, memukul pundak Aji. Aji masih terdiam seribu bahasa. Kepalanya tertunduk. Kini Alexa sudah besar. Ia harus mengetahui fakta yang sebenarnya. Bahwa kedua ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan. Alexa marah menyalahkan Aji, yang tidak lain adalah sebagai pamannya. Selama ini Alexa menahan rasa penasaran dimana keberadaan orang tuanya.–Suara teriakan bahagia anak-anak berlarian kesana-kesini. Hanya ada beberapa saja orang dewasa yang mengawasi anak. 

“Kakak..!” terdengar teriakan dari belakang berlari menghampiri seorang pemuda yang duduk menghadap ke barat. Ternyata si pemuda itu sedang menanti sore tenggelam, ditemani secangkir kopi panas. “Hai, Alexa,” sapanya ramah seraya tersenyum. Alexa membawa sebuah toples besar. “Kakak, apakah aku boleh mengkreasikan ini?” Si pemuda itu memutar roda kursi roda menghadap ke Alexa. Alexa masih berusia 5 tahun, tapi dia sangat pintar. “Tentu saja boleh. Akan alexa buat apa? Kakak boleh ikut?” Tanya si pemuda ganteng bernama Aji. “ehm” Alexa membalas menganggukan kepala tanda setuju. …dst

Cara Mengubah Alur Konvensional Menjadi Alur Flashback

Secara umum, alur konvensional sering dipakai oleh penulis karena kemudahan dalam menyampaikan sebuah cerita. Namun, apabila ingin mengubahnya menjadi plot flashback, maka urutan ceritanya yang harus dibalik juga.

Urutan Alur Konvensional

Awal – Peruwitan – Akhir – Antiklimaks – Klimaks

Urutan Alur Falsback

Klimaks – Antiklimaks – Akhir – Peruwitan – Awal

Kunci membuat alur flashback adalah, tahu konsep dan sudah menyiapkan alur dan bahan yang akan disampaikan. Jangan sampai ditulis secara dadakan karena tidak akan jadi dan ditakutkan akan berhenti (mandek) ide selama proses penulisan. (Irukawa Elisa)

Baca juga artikel terkait berikut ini.

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis