Apa Itu Latar Cerita? Pengertian, Tujuan dan Jenis

jenis jenis latar cerita

Saat menulis sebuah karya sastra memang dibutuhkan penghayatan seni yang tinggi dan memiliki daya khayal gila. Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang tidak kalah penting kamu kuasai, yaitu tentang latar cerita atau setting. 

Berbicara tentang latar cerita, ternyata ada beberapa catatan dan poin penting yang bisa kamu garis bawahi. Penasaran? Langsung saja intip ulasannya sebagai berikut. 

Pengertian Latar Cerita

Latar cerita adalah upaya penulis menceritakan sebuah peristiwa atau cerita dengan menggambarkan sebuah suasana, waktu dan sebuah ruang. Dalam karya sastra, latar cerita penting sekali dituliskan, karena dapat membantu membentuk imajinasi pembaca sekaligus membangun daya khayal, gambaran bagi penontonnya. 

Latar cerita itu sendiri dibagi menjadi latar tempat, suasana, waktu, sosial dan latar alat, yang lengkapnya akan diulas di sub di bawah. Lantas, apa sih pengertian latar cerita lebih spesifik menurut para ahli? langsung saja kita intip ulasannya di bab di bawah ini. 

Pengertian Latar Cerita Menurut Ahli

Pengertian latar cerita menurut para ahli ada banyak sudut pandang. Berikut beberapa perspektif pengertiannya. 

1. Suhandi 

Menurut Suhandi (2016) Latar disebut juga dengan setting. Di dalam latar terdiri dari latar waktu, latar tempat, dan latar suasana yang menghidupkan peristiwa yang diceritakan dalam karya sastra. Latar cerita yang disampaikan semakin detail semakin menarik.

Kedetailan latar yang diceritakan disebut-sebut Suhandi sebagai karya yang memiliki kualitas karya yang tinggi. Berlaku sebaliknya, jika latar diceritakan samar-sama, maka kualitas karya pun juga terkesan kabur. 

2. Aminuddin 

Berbeda dengan pendapat Aminuddin (2013) yang mendefinisikan latar adalah setting peristiwa dalam sebuah karya sastra.

Meskipun latar cerita ditulis secara fiktif, tetap saja latar latar waktu, tempat ataupun peristiwa tetap memiliki nilai sentimentil tersendiri. Hal ini dikarenakan alur cerita berfungsi sebagai fisikal dan fungsi psikologi. 

Dikatakan sebagai fungsi fiskal karena mampu menggambarkan secara konkret alur cerita waktu, tempat dan peristiwa dengan baik dan seolah nyata.

Sementara fungsi psikologis adalah fungsi yang menjabarkan secara abstrak yang hanya dapat dirasakan tidak secara kasat mata. 

3. Siswanto 

Sementara alur cerita menurut siswanto (2013) alur cerita menggambarkan tentang sebuah peristiwa dan tempat yang melibatkan tempat umum, waktu kesejahteraan, dan kebiasaan masyarakat. 

4. Tarigan 

Berbeda dengan pendapat tarigan (2011) yang memaparkan bahwa alur cerita hadir dalam sebuah karya untuk memberikan harapan dan memberi ruang terak tindakan si tokoh di dalamnya.

Selain itu juga, bertujuan untuk membangun relasi dan menciptakan suasana yang bermanfaat tidak hanya untuk si tokoh yang diceritakan, tetapi juga untuk pembacanya.

Tujuan Adanya Latar Cerita

Tujuan latar cerita selain memudahkan penulis untuk menjabarkan cerita lebih terarah dan mudah dipahami oleh pembaca. Ternyata masih ada beberapa tujuan lain seperti berikut ini. 

1. Menciptakan Impresi 

Saat saya mengikuti pelatihan menulis Script Writer, ada satu ilmu yang menurutku penting dalam membuat sebuah karya agar lebih hidup dan tetap berjalan secara natural. Yaitu butuh adanya impresi. Ilmu ini juga dapat diterapkan dalam penulisan cerpen ataupun novel. 

Impresi atau yang lebih akrab kita dengar dengan seni membangun kesan pada cerita, ternyata tidaklah mudah dilakukan. Kesan inilah yang mencoba untuk ditonjolkan agar pembaca menganggap bahwa alur cerita yang kamu buat berbeda daripada cerita-cerita yang lainnya. 

Impresi ini pulalah yang menentukan karya kamu akan dikenal lama oleh pembaca. Atau hanya sekedar bacaan yang selesai dibaca langsung di lupakan begitu saja. Sayangnya, banyak penulis yang tidak mengabaikan tujuan impresi ini. 

2. Membangun Emosi 

Tujuan latar cerita yang kedua adalah membangun emosi. Jika kamu suka membaca karya fiksi, baik itu novel ataupun cerpen. Apakah ada karya orang lain yang sampai membuat kamu ikut tertawa, menangis, jengkel dan emosi? 

Jika kamu pernah merasakan perasaan seperti itu, itu berarti si penulis berhasil membangun emosi di dalam karyanya. Itu tanda dia berhasil mencapai tujuan dalam penulisan latar cerita.

Jadi, saat menulis sebuah cerita, tidak hanya fokus pada alur saja, tetapi latar cerita yang bersifat membangun emosi juga perlu digarisbawahi. 

3. Menciptakan Suasana

Menciptakan suasana juga tujuan dari penulisan latar cerita. Jika sebuah cerita tidak ada suasana yang digambarkan penulis, sudah dapat dipastikan cerita tersebut akan hambar, garing dan dijamin pembaca pun malas membaca. 

Menciptakan suasana dalam karya sastra memang bermacam-macam. Prinsip penulisan suasana agar hidup dan tetap natural, si penulis harus bisa masuk ke dalam dunia imajinasi itu sendiri. Jelaskan sedetail mungkin. 

Agar suasana hidup lebih natural, kamu bisa melibatkan panca indra. Meski apa yang kamu tulis tidak nyata, penulis harus bisa menghayati terlebih dahulu. Jika kamu sudah mampu melakukan metode ini, maka tulisan kamu pun akan mengalir, natural dan enak untuk dibaca. 

Itulah beberapa tujuan adanya latar cerita. Nah, jika kamu menjadi sastrawan atau penulis yang memiliki jam terbang tinggi. Kamu akan menemukan tujuan dan manfaat lain yang hanya bisa kamu rasakan, dan belum tentu dirasakan oleh orang lain.

Baca juga: Jenis Genre Novel Berdasarkan Isi

Jenis Latar Cerita

Setelah mengetahui pengertian latar cerita menurut para ahli dan tujuannya, berikut ada beberapa jenis latar cerita yang wajib kamu ketahui. 

1. Latar Tempat

Jadi latar cerita tempat dapat pula diartikan sebagai penulisan cerita yang mengacu pada sebuah tempat yang digunakan dalam penulisan sebuah cerita. Misalnya di dalam cerita menceritakan sebuah tempat tinggal misal di kota, di pedesaan, di hutan, di wilayah tertentu. 

Jadi jika kamu membaca sebuah novel ataupun cerpen, dan di dalamnya menceritakan tempat si tokoh itu tinggal atau setidaknya di dalam karya sastra tersebut menyebutkan sebuah daerah, maka itulah yang disebut dengan latar tempat.

2. Latar Suasana

latar suasana salah satu cara penulis menghidupkan karya sastra lewat suasana yang dirasakan oleh si tokoh. Contoh latar suasana adalah suasana sedih, suasana mendung, suasana dingin, suasana panas dan masih banyak lagi. 

Kelihatannya sepele, tetapi dalam karya sastra, memasukan latar suasana itu hal yang penting. Karena berkat latar suasana, dapat mendorong dan menghidupkan emosi pembaca. Jadi pembaca seolah-olah tahu dan merasakan apa yang terjadi. 

3. Latar Waktu

Saat membaca cerpen maupun novel, apa yang membuat kamu berkesan? Mungkinkan bagian latar tempatnya? Atau bagian latar suasananya? Atau justru dari latar waktu? Ternyata latar waktu menjadi salah satu latar yang juga wajib disebutkan dalam karya sastra. 

Meskipun hanya sekedar waktu, penggambaran waktu akan membantu dan memudahkan pembaca untuk membuat gambaran atau imajinasi. COntoh sederhana, saat kamu membaca cerita horor, hal yang membuat kita tegang dan takut karena di sana disebutkan waktunya, yaitu waktu malam hari di pertengahan malam. 

Coba jika buku horror tersebut disebutkan latar waktunya siang hari, maka pembaca pun tidak tegang dan takut meskipun ada adegan atau cerita yang seram. Hanya karena di dalam imajinasi pembaca disebutkan latar waktunya ada di siang hari. 

Dari contoh ini sudah jelas pentingnya latar waktu itu disebutkan dalam sebuah karya sastra. Tidak lain dan tidak bukan demi membangun impresi dan emosi pembaca. 

4. Latar Sosial

Selain latar waktu, suasana dan dan tempat ada juga yang disebut latar sosial. Latar sosial adalah cerita yang memasukan unsur-unsur sosial di dalamnya. Ketika berbicara masalah latar sosial, bisa membahas banyak loh. Tidak hanya membahas interaksi dan aturan norma sosial saja. Tetapi juga bisa tentang adat istiadat, keyakinan, pandangan hidup ataupun masalah lain. 

Contoh karya sastra yang menonjolkan latar sosial adalah kisah cinta antara orang pribumi yang mencintai seorang bangsawan blasteran. Karena adat, tradisi, dan pandangan hidup dari dua tokoh tersebut, terjadilah pertentangan hebat yang mampu menjadikan karya tersebut semakin dramatis dan menegangkan.

5. Latar Alat

Sementara yang dimaksud dengan latar alat adalah latar yang memasukan unsur-unsur alat di dalam sebuah karya sastra. Tentu saja cakupan latar alat itu ada banyak sekali bentuknya.

Nah, penggunaan alat ini biasanya tidak begitu menonjol, tetapi sebagai penulis wajib memasukan latar alat untuk memberikan kemudahan pembaca dalam memahami pesan yang disampaikan. 

Itulah beberapa jenis latar cerita dalam karya sastra.  Dari pembahasan di atas, barangkali ada diantara kamu yang tidak tahu karya sastra itu bentuknya apa saja. Ada banyak sekali bentuknya, yang familiar sampai sekarang mudah kita temukan adalah karya sastra, novel, puisi dan pantun. 

Semoga sedikit ulasan tentang latar cerita pada karya sastra ini memberikan pemahaman, dan memberikan semangat buat kamu yang memiliki dorongan ingin menjadi seorang penulis fiksi. Baik itu itu penulis cerpen, puisi, novel ataupun yang lainnya. (Irukawa Elisa)

Baca juga artikel penting lainnya pendukungmu untuk menulis novel atau menulis cerita yang bisa dibukukan.

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis