Cara Menulis dan Contoh Biodata Penulis Buku

contoh profil penulis atau biodata penulis

Pernah membaca biodata penulis dari sebuah buku yang sudah atau sedang kamu baca? Dijamin pernah, meskipun diletakan di halaman paling belakang biasanya halaman ini dibaca oleh para pembaca untuk mengenal siapa penulis buku tersebut. Ingin tau cara membuat dan contoh biodata penulis seperti apa? Yuk, simak artikel ini sampai selesai ya.

Bagi pembaca, biodata dari penulis buku memberi informasi menarik sebab semakin tahu siapa penulisnya dan membantu menentukan banyak hal. Apakah buku yang dibaca ditulis oleh ahlinya atau bukan? Apakah penulisnya punya prestasi di dunia kepenulisan atau tidak? Dan lain sebagainya. 

Bagi para penulis, belajar menyusun biodata ini sangat penting karena bisa menjadi bagian dari branding diri. Tidak hanya memberi informasi dasar mengenai tempat dan tanggal lahir penulis. Namun juga menyajikan informasi menarik yang berhubungan dengan prestasi penulis di bidang kepenulisan atau bidang lain yang ditekuni. 

Bagi penulis pemula, kemungkinan besar sedikit bingung dan mengalami kesulitan dalam menyusun biodata ini. Jika berada di kondisi serupa, maka bisa menyimak penjelasan berikut. 

Apa Itu Biodata Penulis?

Hal pertama yang harus dipahami oleh para penulis pemula adalah pengertian dari biodata penulis itu sendiri. Biodata penulis adalah informasi singkat mengenai penulis berupa nama, tanggal lahir, tempat tinggal, hingga perjalanan karir atau hobi yang membuat pembaca merasa terkesan. 

Lewat biodata, penulis kemudian bisa melakukan branding diri agar lebih dikenal luas oleh pembacanya. Semakin banyak yang membaca tulisannya maka semakin banyak pula yang mengenal sosoknya. 

Maka di dalam biodata ini tidak hanya mencantumkan informasi dasar seperti tanggal lahir dan kota kelahiran. Banyak penulis yang mencantumkan perjalanan karir dan segudang prestasi yang dimiliki disini. 

Tak hanya prestasi di bidang kepenulisan saja, melainkan juga di bidang lainnya. Misalnya saja buku Si Anak Singkong karya Chairul Tanjung. Biodata di bagian belakang menjelaskan prestasi penulis di bidang lain, salah satunya bidang bisnis (CT Corp). 

Penulis kemudian memiliki kebebasan untuk mencantumkan informasi apapun di area boiodata ini. Misalnya seorang dokter yang juga aktif menulis novel, maka di area biodata bisa mencantumkan pendidikan kedokteran yang ditempuh termasuk nama tempatnya berpraktek. 

Biodata penulis kemudian menjadi media bagi penulis untuk membangun persepsi pembaca kepada penulis. Selain itu teknik menulis biodata disini juga idealnya menggunakan sudut pandang orang ketiga. Ditambah lagi, harus dibuat singkat dan padat sekaligus tetap jelas. 

Sebab sebagaimana yang dilihat dari contoh biodata para penulis di setiap karyanya. Tidak pernah menuliskan biodata sampai satu halaman penuh, biasanya hanya sepertiga atau seperempat halaman saja. 

Selain itu, biodata dari penulis disusun dalam bentuk paragraf sehingga berbeda dengan biodata untuk keperluan melamar pekerjaan. Supaya lebih paham bagaimana menyusunnya dengan baik dan benar. Maka bisa membaca penjelasan selanjutnya. 

Alasan Penting Membuat Biodata Penulis

Biodata penulis biasanya disusun langsung oleh penulis dan dikirimkan bersama naskah tulisan ke penerbit. Entah itu penerbit buku jika naskahnya berbentuk buku, ke redaksi surat kabar dan majalah, atau yang lainnya. 

Biodata ini kemudian memiliki banyak peran penting sehingga ada banyak alasan kenapa perlu disusun dan disediakan. Berikut beberapa alasan yang dimaksudkan: 

1. Sarana Perkenalan Diri 

Biodata sesuai penjelasan di atas adalah jenis teks yang mencantumkan informasi diri dari seorang penulis. Sehingga alasan pertama kenapa biodata ini perlu disusun adalah untuk memiliki media perkenalan diri. 

Baik kepada penerbit buku dan redaksinya maupun kepada pembaca. Sebab pada publikasi baik dalam bentuk buku maupun jenis lainnya, biodata ini akan dibuat halaman khusus dan ditempatkan di bagian belakang (akhir tulisan). 

Penerbit bersama timnya bisa tahu naskah yang sedang dibaca ditulis oleh siapa. Mengetahui latar belakang penulis sangat penting, khususnya untuk buku ilmiah. Sebab perlu dihubungkan dengan bidang keilmuan penulis tersebut. 

Pembaca juga pasti perlu tahu atau muncul rasa ingin tahu siapa yang menulis buku maupun novel dan cerpen yang sedang dibaca. Penulis yang punya segudang prestasi biasanya membuat pembaca semakin kagum. Sehingga menjadi pembaca setia yang selalu menunggu karya terbaru penulis tersebut. 

2. Membantu Branding Diri 

Alasan kedua adalah karena biodata penulis bisa membantu branding diri. Yakni masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Dimana biodata bisa menjadi media perkenalan dan sosoknya menjadi lebih dikenal luas. 

Baik oleh redaksi penerbit maupun pembaca yang merupakan masyarakat umum. Adanya informasi mengenai berbagai prestasi yang sudah diraih membuat penulis punya kesan positif di mata pembaca. 

Sehingga namanya lebih mudah diingat, karyanya dikenal berkualitas, dan karya terbarunya selalu dinantikan. Tak jarang, pembaca membeli novel maupun rela membaca cerpen yang kompleks setelah mengecek siapa penulisnya. Jadi, semakin kreatif dalam menyusun biodata maka proses branding diri bisa lebih sukses dilakukan. 

3. Memudahkan Pihak Penerbit dan Redaksi untuk Menghubungi 

Alasan ketiga adalah untuk memudahkan pihak penerbit atau redaksi media massa menghubungi penulis. Misalnya memberi informasi bahwa naskahnya diterima dan akan diterbitkan atau akan berlanjut ke tahap berikutnya. 

Sekaligus melakukan komunikasi tertentu yang butuh persetujuan atau pendapat dari pihak penulis. Oleh sebab itu, naskah apapun yang dikirimkan entah itu cerpen, novel, maupun buku pastikan selalu menyertakan biodata. 

Sekalipun sederhana, selama mencantumkan informasi yang memang sudah dirasa cukup. Maka biodata ini akan ditampilkan di hasil penerbitan. Pada cerpen misalnya, biodata dari penulis akan dicantumkan di bagian akhir dan diberi kotak khusus. 

Cara Menulis Biodata Penulis

Setelah memahami bahwa menyusun biodata penulis sangatlah penting, maka tahap selanjutnya adalah paham bagaimana cara menulis atau menyusunnya. Jadi, biodata bagi penulis berbeda dengan biodata diri yang dicantumkan di surat lamaran pekerjaan. 

Biasanya berbentuk paragraf dan tidak semua data diri akan dicantumkan di dalamnya. Supaya tidak bingung dan lebih mudah untuk menyusunnya, berikut beberapa cara yang perlu dilakukan: 

1. Menulis Secara Singkat dan Jelas

Cara yang pertama adalah menulis biodata dengan singkat dan jelas. Sebagaimana yang dijelaskan sekilas di awal, biodata untuk penulis dibuat berbentuk narasi. Sehingga bukan dalam bentuk poin-poin seperti saat melamar pekerjaan. 

Biodata ini kemudian tidak sampai satu halaman penuh, sehingga meskipun bentuknya paragraf narasi tidak harus panjang lebar. Penulis perlu menyusun daftar poin apa saja yang akan dicantumkan di dalamnya. 

Buat dulu saja poin-poin umum dengan melihat contoh biodata penulis di dalam novel maupun buku-buku yang sudah diterbitkan. Sehingga punya gambaran, data diri dan informasi apa saja yang idealnya dicantumkan. 

2. Ceritakan Biodata yang Relevan dengan Isi Buku

Biodata penulis pada cerpen, buku, dan novel memang dianjurkan untuk mencantumkan prestasi. Namun, prestasi ini sebaiknya relevan dengan isi buku. Contohnya seperti Si Anak Singkong tadi. 

Isinya menceritakan perjalanan Chairul Tanjung dari anak yang lahir dalam kondisi perekonomian kurang bagus menjadi sukses dalam dunia bisnis. Maka di dalam biodatanya dicantumkan prestasinya di bidang bisnis. 

Jadi, meskipun penulis punya prestasi di banyak bidang usahakan memilih yang relevan dengan isi buku. Misalnya saja saat menulis buku pendidikan terkait ilmu sosiologi. 

Maka cantumkan pendidikan terakhir di jurusan yang relevan, cantumkan juga hibah penelitian yang pernah didapatkan, atau prestasi lain di bidang ilmu sosiologi tersebut. 

Relevansi ini sangat penting untuk memberi informasi pada pembaca maupun redaksi. Bahwa naskah tulisan disusun oleh ahlinya atau seseorang yang memang punya passion untuk menulis di bidang tertentu. 

Bayangkan jika biodata ternyata tidak relevan, seperti seorang lulusan IPA yang menulis buku bertemakan bisnis. Bagaimana redaksi dan pembaca bisa yakin isinya bisa dipertanggung jawabkan? Maka, pastikan isi biodata relevan dengan isi buku. 

3. Bukan CV dan Ajang Pamer

Biodata penulis bukanlah karangan panjang, tidak seperti novel ataupun cerpen. Idealnya biodata ini dibuat singkat sehingga saat dicetak tidak sampai satu halaman penuh. Bisa dilihat contohnya di buku-buku yang sudah terbit. 

Oleh sebab itu, cantumkan prestasi yang relevan saja supaya tidak menulis biodata terlalu panjang sampai berlembar-lembar. Sebab biodata bukan ajang pamer bagi penulis dengan prestasi yang segudang. 

Kemudian posisikan penulis sebagai pihak ketiga dengan tidak memakai kata “aku”, “saya”, dan sejenisnya. Sebab saat mencantumkan daftar prestasi dan menggunakan sudut pandang orang pertama, maka kesannya akan pamer. 

Jadi, gunakan sudut pandang orang ketiga dengan menyebutkan nama penulis, kata “beliau”, dan sejenisnya. Hal ini akan membuat biodata seolah-olah ditulis orang lain dan bebas dari kesan memamerkan diri. 

4. Ceritakan yang Penting Saja

Terakhir, adalah memahami bahwa biodata penulis hanya mencantumkan informasi penting dan relevan. Sehingga usahakan menceritakan hal-hal yang sekiranya memang penting saja dan masih berhubungan dengan poin sebelumnya. 

Jadi, usahakan dibuat singkat dengan hanya mencantumkan prestasi yang sesuai dengan isi naskah. Sehingga bebas dari kesan sedang pamer dan merasa sudah menjadi penulis hebat. 

Penulis yang terlalu pamer di bagian biodata cenderung kesulitan mendapatkan simpati dan empati pembaca. Jadi, jangan sampai biodata yang disusun justru menjadi boomerang. 

Contoh Profil atau Biodata Penulis

Supaya lebih mudah lagi dalam menulis biodata penulis, maka berikut beberapa contoh yang bisa dijadikan sumber inspirasi: 

  1. Contoh Profil Penulis 1

Lathifa Ahmad, lahir di Nganjuk pada 11 Desember 1994 dan sekarang menetap di Yogyakarta. Menyelesaikan pendidikan dasar di MI Al Huda Mlonggo Jepara pada tahun 2007, dan melanjutkan pendidikan di MTs dan MA Wahid Hasyim, Bangsri Jepara 2010 dan 2013. Sekarang, tengah menempuh studi strata satu semester empat di Universitas Airlangga Surabaya Fakultas Perikanan dan Kelautan, dan mengambil konsentrasi pada bidang peminatan Teknologi Industri Hasil Perikanan. Pengalaman organisasi di kampus sebagai staf keuangan pada Pelayanan Sosial dari Badan Semi Otonom Unit Kerohanian Islam Universitas maupun Fakultas, serta anggota kepanitiaan di beberapa acara kampus.

  1. Contoh Profil Penulis 2

Afika Aulia. Seseorang yang berdomisili di Banjarbaru dan memiliki nama pena Afika yang mencintai aksara seperti kelopak sakura yang mencintai embun. Beberapa karyanya yang pernah memenangkan lomba dan dibukukan di tahun 2014: Antologi bumi (bookaholic fund), Hanoi (UPI), Antologi kisah inspiratif (sagu makasar), SUPS (nulis buku) dan Public transportation (Ellunar). 2015: Mundur (Pena Indis), Meranti (Naifa publisher), Tuan Bima (Leutika). Penulis bisa dihubungi melalui: afika@yahoo.com atau http:// afikaaulia.tk

Beberapa contoh biodata penulis tersebut adalah biodata dalam bentuk narasi yang umum digunakan untuk berbagai jenis karya tulis. Baik itu naskah buku, novel, maupun cerpen yang diterbitkan di berbagai majalah dan surat kabar. Jadi, contoh tersebut bisa dijadikan sumber ide atau inspirasi yang kemudian dimodifikasi sesuai data dan prestasi yang dimiliki.

Penulis: Pujiati

Ada artikel penting lainnya tentang menulis buku yang baik dan benar serta bisa diterbikan, lo. Yuk, baca artikel berikut ini.

Artikel Terkait

Bagikan Artikel ini

Facebook
Twitter
LinkedIn

Penulis